Anick HT

Menyenangkan melihat ngaji online bertebaran di media sosial. Ada perasaan luar biasa menyelimuti Ramadan di era pandemi ini ditemani lembaran-lembaran virtual kitab kuning yang beberapa tahun lalu hanya bisa diakses melalui kunjungan langsung mengikuti pasanan (atau pasaran) di pesantren-pesantren.

Apa yang bisa dicatat sebagai nilai dari perkembangan menarik ini?

Pertama, bagi kalangan tertentu, media sosial menjadi lebih bergairah, di tengah acara-acara televisi yang itu-itu saja ketika Ramadan. Jika tidak sinetron yang sok sok religius, ustaz yang diundang juga seringkali ustaz seleb yang dinilai berdasarkan tampilan dan kemasan daripada kedalaman substansi ceramah. Tentu tidak semua begitu. Tapi ukuran selera publik para pengejar rating tentu berbeda dengan ukuran standar pendidikan publik.

Kedua, belakangan mulai muncul banyak respons positif dari kalangan “pencari kebenaran” terhadap para pembaca kitab kuning ini. Orang pelan-pelan mulai bisa membedakan mana ustaz yang berilmu dan mana ustaz yang bisanya hanya ceramah. Meski ini bukan distingsi positif-negatif mengingat seringkali pasar dan kelompok sasaran mereka berbeda, namun penghargaan terhadap kalangan pengkaji kitab kuning mulai menaik.

Ketiga, pelan-pelan juga terlihat pandangan pejoratif publik terhadap pesantren mulai bergeser. Pandangan yang sering muncul dari proses labelling dan generalisasi yang berlebihan ini mulai meluntur karena ustaz dari kalangan pesantren pun mulai menunjukkan tajinya dalam merespons persoalan sosial secara langsung melalui ngaji-ngaji online mereka dan melalui keterhubungan virtual mereka dengan realitas sosial di luar pesantren.

Keempat, ini juga penting, bahwa ulama pesantren tidak cuma laki-laki. Muncul menghiasi media sosial, ngaji-ngaji online dari ulama-ulama perempuan pesantren yang mumpuni seperti Bunyai Badriyah Fayumi (Bekasi), Umdah Elbaroroh (Kajen), Bunyai Umdatul Choirat (Jombang), Bunyai Anisah Mahfudz (Malang), Bunyai Shuniyya Ruhama (Kendal), Bunyai Hindun Anisah (Jepara). Juga ada ngaji online beberapa Bunyai keren yang dihelat oleh PC Fatayat Cirebon.

Jadi, perkembangan ngaji virtual ini layak dirayakan sebagai perkembangan pola keberagamaan yang asyik.

Tentu ada beberapa catatan yang perlu ditambahkan dalam hal ini, yakni:

Pertama, ngaji pasanan dalam tradisi pesantren seringkali diperlakukan sebagai ngaji instan: dalam waktu sebulan harus khatam satu kitab yang kadang sangat tebal, sehingga improvisasi dan eksplorasi kedalaman pemahaman kurang. Kadang ngaji pasanan memang digunakan oleh santri untuk nyari ijazah langsung kepada ustaz atau kyai yang memegang kunci ijazah kitab tertentu. Kadang juga memang lebih banyak ngalap berkah kyainya selama Ramadan, adapun pemahaman bisa belakangan nanti di proses muthalaah. Muthalaah ini adalah bagian penting dari proses mengkaji lebih jauh dengan pendalaman yang tekun, yang kadang membutuhkan kitab kuning lain untuk mengkaji satu kitab kuning.

Kedua, pilihan kitab kuning dalam ngaji pasanan seringkali terbatas, yakni pilihan kitab yang lebih mudah dicerna oleh peserta ngaji. Kebanyakan fikih, tasawuf, tafsir, hadits. Sejauh pengamatan saya, kitab-kitab ilmu alat atau seperangkat ilmu analisis macam ushul fiqih, qaidah fiqih, balaghah, ma’ani, mantiq yang sebenarnya adalah ilmu-ilmu yang membekali santri dengan critical thinking tidak banyak muncul di ngaji online.

Di pesantren-pesantren, bahkan buat anak-anak muda, salah satu kitab favorit Ramadan adalah ‘uqudullujain, kitab tentang relasi suami-istri yang dikritik banyak ulama belakangan karena spiritnya sangat misoginis.

Namun, itu juga tergantung siapa yang mengaji apa. Nah, melihat beberapa ngaji online Ramadan saat ini menarik dicatat juga soal ini. Ngaji Ihya’ ala Kyai Ulil Abshar Abdalla, misalnya, ini satu model yang keren karena tidak ada semangat mengejar target Ramadan. Kadangkala, membaca satu kalimat dalam Ihya’ misalnya, Kyai Ulil bisa berpanjang-panjang menerangkan kaitannya dengan konteks tertentu, dengan ilmu alat tertentu, latar sejarah di belakangnya, dan sebagainya. Atau, meskipun yang dibaca adalah Fathul Mu’in misalnya, Kyai Abd Moqsith Ghazali bisa bicara soal ushul fikih, tarikh tasyri’, ilmu alat, perbandingan dengan rujukan lain, dan seterusnya. Model seperti ini penting untuk memberi wawasan dan kedalaman lebih kepada audiens, sekaligus menunjukkan bahwa perlakuan kita terhadap teks tidak harus letterlijk, dan menunjukkan bahwa ilmu pesantren itu luas, kaya, dan variatif.

Ada juga contoh lain yang menarik seperti mengkaji kitab kuning tematik yang diampu oleh beberapa Bunyai, Buya Husein Muhammad, dan Mubaadalah ala Kyai Faqih Abdul Qodir yang konsisten dengan tema-tema kesetaraan gender dan feminisme. Ada juga ngaji “Ngariksa” ala Kyai Oman Fathurrahman yang juga konsisten di teks-teks klasik (filologi). Oya, ada juga kitab metodologis, “Ath-Thuruq Ash-Shahihah fi Fahm As-Sunnah An-Nabawiyyah” karya KH Mushtafa Ali Ya’kub yang dibaca oleh Ust. Syarif Hidayatullah.

Di Youtube juga ada serial pengajian ushul fiqih oleh KH Afifuddin Muhajir: Syarah Waraqat karya Syeikh Jalaluddin Almahally.

Ke depan, pasca Ramadan, semoga ngaji online ini semakin bergairah, terutama dengan mulai memasuki tema-tema yang berorientasi critical thinking. Melangkah dari mengaji online ke mengkaji online.

Wallahu a’lam bisshawab.

Update:

Ada beberapa penambahan referensi dari tulisan di atas.

Terima kasih kepada para kyai dan bunyai yang menambahkan referensi, terutama ngaji online dari para bunyai. Terima kasih juga kepada Mas Akmal Bashori yang telah memberikan referensi pengajian ushul fiqih oleh KH Afifuddin Muhajir: Syarah Waraqat karya Syeikh Jalaluddin Almahally. Serial pengajian ini bisa disimak di channel youtube: Dakwah Media

 4,012 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini