Kamis, 28 Februari 2019, PKPPN IAIN Surakarta kembali menghadirkan ilmuan Luar Negeri. Ia adalah seorang pegiat sastra bernama Ronit Rocci dari (Stemberg-Tamir Chair in Comparative Culture, Dept. Of Asian Studies and Religion, Hebrew University of Jerussalem). Dalam kesempatan ini, beliau memaparkan penelitiannya beberapa tahun lalu, tentang riwayat Abdullah bin Salam yakni seorang Pemuka Yahudi yang mengajukan banyak pertanyaan kepada Nabi Muhammad tentang berbagai hal, baik kehidupan sehari-hari, tauhid, dan lain sebagainya. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Salam kemudian beriman kepada Allah karena jawaban-jawaban yang ia terima dari Nabi Muhammad. Memang, sedari awal Abdulllah bin Salam mengatakan bahwa apabila ia menerima jawaban-jawaban brilian dari Nabi ia akan beriman kepada Allah dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Dan nampaknya, sebagai pemuka agama, ia tak sendiri. Para jamaahnya pun mengikutinya dan beriman kepada Allah dan Rasulnya.

Menurut Ronit, riwayat ini nampaknya diadopsi ke berbagai Negara, seperti German, Belanda, Perancis, Tamil, Melayu, Jawa, dan lain-lain. Proses pengadopsiannya berbarengan dengan proses Islamisasi di beberapa wilayah. Proses Islamisasi memang dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya adalah dengan sastra yang ditulis oleh para Begawan di masa lampau. Di Jawa, naskah yang berisi tentang cerita Abdullah bin Salam diadopsi dengan nama Samud dan ditulis pada abad ke-19 ke dalam beberapa manuskrip yang dapat ditemukan di Perpustakaan Nasional, dan beberapa museum di Jawa. Pada posisi inilah kajian Ronit difokuskan, sekaligus ingin menjawab kegelisannya tentang proses terjemahan teks di tiga Negara, Tamil (India), Malaysia, dan Jawa (Indonesia).

Kisah Abdullah bin Salam tersebut, menurut Ronit sangat populer di masing-masing tiga tradisi kebudayaan dengan narasi yang variatif. Dalam naskah Tamil, di mana Islam menjadi minoritas, sosok Abdullah bin Salam digambarkan dalam suasana yang menekankan batasan antara minoritas dan mayoritas. Sedangkan dalam naskah Jawa, sosok Abdullah bin Salam cenderung dideskripsikan dalam  kondisi mistisisme. Abdullah bin salam dalam naskah Jawa digambarkan menjadi sosok guru Jawa yang mengajarkan Ilmu Tasawuf.

Gambaran kisah Abdullah bin Salam ini bisa maknai sebagai seorang yang kritis dan terbuka untuk menerima ide-ide baru. Sebelum memeluk sebuah ajaran, ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis. Sehingga seorang beragama, hendaknya mempunyai sejumlah ilmu dan alasan kuat dalam beragama. Dengan begitu, seseorang tidak mudah goyah dan terombang ambing dengan isu dan ancaman yang ada. Disamping itu kita juga dapat meneladani kisah Nabi yang tentunya sejalan dengan ajaran Alqur’an untuk mengedepankan dialog dalam berdakwah kepada siapapun.

Hal lainnya yang perlu dicatat, bahwa Ronit tidak hanya melakukan riset mendalam yang patut kita teladani. Riset yang ia lakukan ini memakan waktu sekitar tujuh tahun lama, yang tentu memakan banyak biaya. Namun berkat kerja kerasnya itu, ia berhasil mendapat berbagai penghargaan international. Di Jerussalem, Ronit juga mengajar dan memperkenalkan kepada pelajar dan masyarakat di sana tentang Indonesia, baik budaya, bahasa dan tentu perkembangannya. Selain memaparkan risetnya, Ronit juga diminta untuk memberikan pencerahan terhadap kultur riset kita. Ia mengatakan bahwa sebelum melakukan riset, kita perlu mencari topik yang kita suka. Karena hal itu akan memberikan energy tersendiri. Tentunya, kehadiran Ronit Ricci ke IAIN Surakarta memberikan inspirasi kepada kita semua untuk melakukan riset-riset yang genuine dan monumental. Sekian, semoga bermanfaat dan selamat berkarya. Mari tebarkan kesantunan dan kedamaian bagi sesama.

 1,043 total views,  6 views today