Dulu saat aku masih bekerja sebagai komisioner Komnas Perempuan, seorang teman perempuan, staf, tampak gelisah dan cemas atas fenomena kekerasan yang dilakukan oleh sejumlah organisasi keagamaan di negeri ini dan di banyak tempat di dunia. Kekerasan tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga psikhis atau verbal.

Kekerasan bukan hanya terhadap perempuan yang jumlah kasusnya memang amat besar dan terjadi di segala ruang, tetapi juga terhadap orang- orang yang berbeda agama atau keyakinan atau pandangan dalam isu-isu keagamaan. Di mata teman ini agama yang dianutnya begitu buruk, kejam dan anti kemanusiaan. Dia sangat kecewa dan seperti putus asa. Dia bilang “aku tak ingin lagi beragama. Aku bertuhan saja”.

Aku bilang : Tetapi aku dan masih banyak orang seperti aku kan tidak?. Aku kan menentang kekerasan atas nama agama dalam bentuk apapun?. Dia diam saja. Kegalauan masih menyelimuti hatinya. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya.

Lalu aku bilang : Aku paham yang anda rasakan. Bahkan sejumlah orang yang aku temui dalam perjalanan di kereta atau taxi grab dan ojek yang mengantar aku ke kantor ini mengatakan agama seakan-akan menjadi faktor seluruh perang bukan hanya dengan lain agama, melainkan juga dengan satu agama atau perang saudara.

Kepada teman yang masih murung itu aku mengatakan : “seluruh agama sama sekali tidak hadir untuk membenarkan kekerasan terhadap siapapun dan tidak untuk memerangi siapapun”.

Dalam deklarasi Persaudaraan yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Grand Syeikh Al-Azhar Ahmad Tayeb, di Abu Dhabi, 4 Pebruari 2019 antara lain dinyatakan:

كما نعلن ان الاديان لم تكن ابدا بريدا للحروب او باعثة لمشاعر الكراهية والعداء والتعصب اومثيرا للعنف وارقة الدم.
“Kami dengan tegas menyatakan agama sama sekali tidak boleh digunakan untuk menghasut terjadinya perang, kebencian, permusuhan dan ekstremisme, juga untuk memicu aksi kekerasan atau pertumpahan darah.”

Seluruh agama hadir untuk mendeklair perdamaian, persaudaraan, kasih sayang dan cinta. Apa yang terjadi dalam realitas yang anda lihat sesungguhnya fenomena ketamakan, kebencian dan ambisi orang- orang itu. Tetapi dalam upaya mensterilkannya, emosi-emosi yang memperturutkan hawa nafsu itu mereka bungkus dengan retorika agama.

Sesudah aku menyampaikan itu, aku melihat wajahnya memancarkan cahaya. Jidatnya tak lagi berkerut. Bibirnya tak lagi tertutup rapat dan sedikit menonjol ke depan.

11.06.2020
repos 12.06.2021