Tgl 27.09.18. Saat putri pertama Gus Dur berkunjung ke Fahmina, aku menulis di FB tentang siapakah perempuan ini.? Aku ingin me repost lagi ya?.

Alissa Qathrunnada adalah nama putri pertama Gus Dur-Ny. Shinta Nuriyah. Nama itu perpaduan antara Barat dan Timur. Hari-hari ini nama itu makin “moncer”, cemerlang, cantik dan cerdas. Ia adalah koordinator Jaringan Gusdurian. Lalu dari mana Gus Dur mengambil nama untuk nya?.

Siapakah Alissa?

Alissa adalah nama tokoh utama dalam novel berbahasa Perancis La Porte troite, yang dalam bahasa Indonesia berjudul “Gerbang yang tertutup”, karya penulis dan sastrawan terkenal Prancis Andre Gide. Ini adalah sebuah Novel yang mengisahkan seorang gadis bernama Alissa. Dia mencintai sepupunya. Gadis Alissa terombang-ambing oleh rasa cinta, rasa takut dan rasa bimbang. Situasi jiwa yang bergolak itu akhirnya justeru menghaluskan perasaannya.

“Peristiwa psikologi pada diri Alissa itu membawa diriku, kepada kesadaran bahwa di balik semua itu: yang mengacaukan, yang membingungkan dan yang menggelisahkan, tampak yang abadi. Yaitu Tuhan. Karena itulah orang-orang yang mendapati kebesaran Tuhan, akan menemukan jalan untuk membuka gerbang yang tertutup ini menjadi sangat luas.

Dari sini kita dapat memahami seni dan budaya berfungsi agar hidup kita tidak terlalu serba pasti dan tidak serba benar”. (Gus Dur)

“Sedemikian besar pengaruh ketokohan dan sosok Alissa dalam diri saya, sehingga nama itu saya berikan untuk putri pertama saya”.

Sementara nama Qathrunnada diambil dari nama sebuah kitab Nahwu (gramatika Arab) yang ditulis oleh Ibnu Hisyam : Qathrunnada wa Ball al-Shada” ( قطر الندى وبل الصدى (Tetesan embun dan air yang membasahi kehausan).

Ibnu Hisyam (w. 1360) adalah seorang yang alim dan wara’, dari Mesir. Perilaku dan tutur katanya indah. Ibnu Khaldun, sosiolog besar berkata: “Kami di Negeri Maroko, mendengar kabar bahwa di Mesir ada seseorang bernama Ibnu Hisyam yang alim dalam ilmu bahasa dan sastra Arab. Kepiawaian dalam bidang ini mengungguli Imam Sibawaih, murid Imam Khalil Al-Farahidi, penulis kamus “Al-Ain”, dan penyusun ilmu Arudh, semacam not-not musik.

Gus Dur sangat mengagumi kitab itu dan beliau mengaji kitab gramatika Arab ini kepada para santrinya baik saat masih di pesantren Tebuireng, Jombang, maupun ketika di Ciganjur.