Islamsantun.org. Ketika Natal tiba, pertanyaan seorang pelajar sekolah Kristen itu selalu saja saya ingat. Kalau tak salah, peristiwanya terjadi pada 2018. Tiga puluhan pelajar Kristen berkunjung ke Wahid Foundation (WF) di Taman Amir Hamzah. Kata salah seorang perwakilan dari mereka, tujuan mereka datang ingin tahu Gus Dur, apa yang dilakukan WF, dan bagaiman Islam.

Kebetulan waktu itu saya yang menemani mereka. Setelah menjelaskan tentang Gus Dur dan WF lewat presentasi dan tayangan video, saya meminta mereka menuliskan jawaban untuk pertanyaan ini. Jika dibuat pertemuan serupa yang menghadirkan pelajar muslim yang sebaya dengan mereka apakah yang akan mereka tanyakan.

Jawaban mereka beragam dan kadang-kadang bikin mesam-mesem. “Kenapa sih babi haram dalam Islam?”, tulis seorang di antara mereka. Lainnya bertanya, “Kamu sering batal nggakkalau puasa?”, “Emang betul ya mengucapkan selamat Natal haram?”

Tetapi pertanyaan berikut ini membuat saya merenung lebih lama. “Menurut kalian, apa kami ini berharga buat kalian?” Bukan hanya isi pertanyaan yang –meminjam istilah mereka– “dalem banget”, tetapi juga karena itu ditanyakan oleh manusia yang belum genap 17 tahun.

Artinya, dalam pikiran dan perasaan pelajar ini muncul keraguan apakah dirinya dan umat Kristen di Indonesia betul-betul berharga atau semata-mata beban. Apakah pandangannya berdasar atau tidak, perkara lain lagi.

Kenyataannya, hidup menjadi minoritas –termasuk minoritas Islam– sering tidak mudah. Pertanyaan pelajar itu seperti memaksa saya memikirkan kasus-kasus yang dialami minoritas Kristen di Indonesia. Mulai dari penolakan beribadah, pendirian rumah ibadah, diskriminasi di bangku sekolah, dan bentuk-bentuk siar kebencian di media sosial.

Namun, menilai Indonesia betul-betul bukan negara ramah pada kelompok minoritas, seperti komunitas Kristen, jelas pikiran yang tak adil. Kenyataannya, kehidupan Islam-Kristen jauh lebih baik dari sebelumnya; konflik-konflik berbasis kekerasan fisik sangat berkurang. Sekarang ini sebagian anak-anak muda Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah jauh lebih terbuka.

Situasi ini tidak terjadi begitu saja. Jika komunitas NU sekarang ini misalnya jauh lebih terbuka pada Kristen, itu lantaran kerja keras para pemimpin NU seperti Gus Dur dan para kiai sejak tahun 80-an. Bukan hanya mendobrak cara pandang konservatif atas hubungan Islam-Kristen, tetapi “memaksa” warga NU dan generasi mudanya bertemu dan berdialog. Sikap terbuka, bahkan lebih maju dari yang dipikirkan, adalah hasil jerih payah mereka dulu.

Usaha ini sekali lagi tak mudah. Mereka sering dikafirkan dan tak disukai bukan hanya oleh orang luar, tapi dari dalam tubuh NU sendiri, atau bahkan di sebagian umat Kristen yang hendak mereka ajak. Memperjuangkan prinsip ini jelas lebih banyak memuat risiko-risiko ketimbang keuntungan-keuntungan politik dan ekonomi. Tantangan itu masih dihadapi sekarang ini.

Memang bukan keuntungan itu yang hendak mereka capai. Mereka melakukan itu semua sepertinya justru hendak menjawab pertanyaan pelajar tadi: apakah kami berharga bagi kalian? Kamu dan umat Kristen di Indonesia betul-betul sangat berharga bagi kami, umat Islam. Kalian sama berharganya dengan setiap orang di republik ini, apapun agama dan keyakinannya.

Kalimulya, 25 Desember 2020
Alamsyah M Djafar