Sudah kita ketahui, bahwasannya kita ini hidup di akhir zaman yang penuh dengan tantangan. Jika kita menelaah lebih dalam lagi, aspek kehidupan sosial keagamaan di lingkungan masyarakat semakin hari rasa-rasanya semakin menurun. Mari kita renungkan sejenak… Apa  yang menyebabkan hal ini bisa terjadi ? Padahal jika kita sadari, para ulama semakin banyak, teknologi semakin canggih, ilmu pengetahuan semakin berkembang, begitu pula sarana dan prasarana yang memadai, sehingga dapat menunjang keberlangsungan hidup kita.

Hidup bermasyarakat memang sudah menjadi sebuah keniscayaan yang pasti dialami semua orang. Namun dalam hal ini, tantangan dan cobaan seringkali menghampiri satu persatu menguji kesabaran dan keimanan seorang mukmin sejati. Apalagi para ustadz/ustadzah, para kyai dan tokoh agama yang kadang kala mereka mendapat gunjingan dari beberapa segelintir orang-orang di sekitarnya.

Seorang ustadz atau kyai, mereka memiliki kecakapan ilmu agama sehingga disebut sebagai “ulama“. Untuk itu mereka pantas menerima julukkan “al ulama’u warasatul anbiya” ulama adalah pewaris para nabi.  Di antara salah satu tugas utama seorang ustadz atau kyai yaitu berdakwah, baik dakwah bil lisan, bil tulisan, bil hal, bil mal, bil tsaqafah, dan bil medsos.  Namun dalam kenyataannya, perjalanan dakwah tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Di sisi lain berkewajiban mengajak orang lain untuk hidup pada jalan kebenaran, di sisi lain pula dituntut untuk bisa menjadi figur atau teladan sehingga harus senantiasa memperbaiki akhlak dan budi pekerti.

Dalam praktiknya, seorang ustadz biasa memulai berdakwah dari kalangan keluarga, karib kerabat, tetangga dan seterusnya. Dalam menjalankan dakwahnya, ia seringkali mendapat gunjingan dari orang-orang yang tidak menyukainya atau orang-orang yang belum memahami makna hidayah.  Salah satu contoh gunjingan yang seringkali terdengar seperti: “Apaan sih tu ustadz nyuruh-nyuruh orang lain ke mesjid, pengajian, dan sebagainya. Padahal saya tau anaknya atau istrinya itu ….” dan seterusnya.  Padahal jika kita ketahui, siapa tau ustadz tersebut selalu saja menasehati keluarganya, namun keluarganya memang belum dikehendaki Allah untuk menerima hidayah.

Sebelum menilai orang lain, alangkah lebih baiknya kita sadar dan  menoleh ke belakang mengingat kisah-kisah para nabi dan rasul serta umat terdahulu di dalam Al-Qur’an. Seperti contohnya : ayahnya nabi, anaknya kafir (Nuh As dan Kan’an); anaknya nabi, ayahnya kafir (Ibrahim dan Azar); suaminya nabi, istrinya kafir (istri Nabi Nuh dan Luth As); istrinya beriman, suaminya kafir  (Asiyah dan Fira’un); keponakkannya nabi, keluarganya kafir (Muhammad Saw. dan Abu Lahab). Itulah kisah-kisah umat terdahulu yang bisa kita petik hikmahnya bahwa hidayah itu mutlak bagi Allah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt.  dalam Q.S Al-Qashash ayat 56, yang artinya :

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”.

Lantas, mengapa segelintir orang ada saja yang masih menyudutkan ustadz atau kyai dengan kata-kata yang tidak perlu diucapkan? Padahal jika kita menyadarinya, seorang nabi dan rasul pun sama sekali tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang dicintainya, apalagi ini hanya seorang ustadz atau kyai. Cobalah berpikir sejenak…

Adapun contoh ejekan lainnya seperti ini : “Ngapain sih Ustadz ngajak-ngajak pengajian mulu, gak cape apa ? Kan saya belum dapat hidayah.” Hidayah itu memang datangnya dari Allah swt. bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Namun apabila kita hanya menunggunya, mungkin hanya 1 dari 1000 orang yang berhasil menerimanya. Dengan demikian, maka kita harus selalu berusaha untuk menjemput hidayah Allah dengan berbagai cara yang dilakukan, seperti shalat berjamaah, rajin berdzikir, menghadiri majelis ilmu, pengajian, rukun dengan saudara dan tetangga sebagainya. Dengan kesungguhan hati dan ikhtiar yang kita lakukan, sejatinya hidayah Allah akan kita dapatkan dengan cerita yang lebih indah dari apa yang kita bayangkan.

 

*Riki Iskandar. Mahasiswa Pendidikan Agama Islam/Ilmu Tarbiyah UIN Raden Mas Said Surakarta