Di mata anak-anak, pagi itu adalah kicauan. Waktu bergembira dan menuntaskan segala prahara melebur menjadi satu keriuhan. Satu rombongan anak TK berlari pagi atas panduan satu gurunya. Setiba di depan masjid Nurul Iman, mereka beristirahat mengobati lelah. Saya tidak tahu kenapa mereka selalu berhenti pasti di masjid ini.

Setelah menghabiskan beberapa menit, anak-anak itu tetap bermain di halaman masjid, ada yang sebagian bermain di ladang pinggir masjid, serambi masjid, dan dalam masjid. Saya bersegerah membersihkan sampah-sampah bingkisan jajan dari pelbagai anak-anak yang mereka bawa.

Saya sedikit membaca keadaan, kenapa anak-anak yang begitu lamanya tak hendak melanjutkan pelariannya (olahraganya). Tiba-tiba saya sangat penasaran ke mana si guru kok tidak ada di sekitar anak didiknya. Alhamdulillah saya menemukanya guru itu di pinggir kamar mandi dengan keriuhan senyuman memandang layar hanphone-nya (hp). Duh!

Setelah beres menyapu halaman dan serambi masjid, saya duduk menemani anak-anak yang sedang bercurhat bersama teman karibnya. Eh, ternyata ada yang sebagian temannya melapor ke saya, bahwasanya salah satu temannya memotong beberapa pohon pisang yang tak lama ditanam oleh tetangga masjid. Ada yang sebagian temannya meminta untuk dimarahi, dan ada yang sebagian juga langsung dimarahi oleh kakak seumurannya, juga ada yang berbelas kasihan atas pebuatan temannya.

Ketika saya hendak bertanya, “kenapa kamu tak mencoba memberitahu kepada gurumu? Anak-anak itu langsung berwajah kusam dan takut, ada juga yang geleng-gemetar, ada yang berucap histeris “jangan! Ntar saya malah dipecut sama pak guru!”

Sungguh terlalu sering sebenarnya rombongan anak TK ini yang telah merusak fasilitas masjid, mulai dari lubang WC dipecah dari batu hingga hancur, tempat sampah ditendang-tendang sampai rusak, sampai miecrophone masjid dibuat umpan-umpanan bergiliran seraya meniru musik rock The Beatles.

Sebagai takmir masjid, saya sebenarnya kurang suka sama perbuatan anak-anak TK ini, tapi bila melihat mereka ada yang memang sungguh-sungguh belajar dan melihat gurunya yang kesemsem chatan dengan Hp-nya, saya menjadi tidak tega menegornya. Egoisme kalah melawan duapuluh bocah yang memang mereka mayoritas dan masih perlu bimbingan secara kelemahlembutan dan berakhlakul karimah.

Egoisme perlu keinsafan, melebur menjadi kewelasasihan. Itulah pemaknaan yang kadangkala kita luput sampai menimbulkan wajah biner: anak nakal/dipecut, anak melanggar/dihukum, anak lambat masuk kelas/dijemur, anak kurang sopan/dicap tak berkeakhlakan. Pandangan semacam itu barangkali yang sebagian guru (pendidik), atau sebagian orang tua, sikap dan tindakan mereka dianggap terlalu keras, simplistik, dan tak bermartabat.

Ironisnya, kita tak perna menanyakan dengan sebegitu telitinya mengenai ihkwal masalah akut pada anak didik kita. Kita tak jarang memandang latar belakang keluarganya, anak, lingkungannya sampai pada tahap kebiasaan gelimang hidup si anak-anak didik kita. Dan, kadang sangat gampang menyuruh dan mengancam anak-anak untuk nurut pada kemauan kita.

Lalu bagaimana cara kita membuahkan generasi penerus yang berbudi luhur dan berkarakter welas asih? Kita memang masih memiliki sederet pertanyaan panjang atas rona keberlimpahan perbedaan dalam skala moral dan watak anak didik kita, meski di samping itu keluarga jua sebagai peletak dasar kepribadian anak yang awal.

Sama halnya dengan pemilihan kandidat pilkada  yang selalu datang bergiliran. Waktu adalah untuk memandang. Kita memerlukan kecermatan, kejernihan, dan pemetaan latar belakang pandangan terhadap calon-calon yang memang sudah terlanjur orang-orang terdekat memikat, dan sebegitu banyak orang lain yang berbeda pilihan dengan kita. Karena kenyataannya manusia memang takkan perna bisa benar dalam kesempurnaan pilihan. Baik ke paslon mau pun ke time-time panggagah paslon dan juga pada diri kita sendiri.

Kita memang seharusnya membahas, melakukan pembacaan, dan menginterpretasikan lewat gagasan yang oleh pribadi kita miliki. Tapi tak harus paling besar tahu, dan memberikan sudut pandang yang tak sewajarnya sehingga kita lekas dijuluki pendamba keserakahan. Padahal kita patut menerima dan memaksa diri demi jalan alternatif keluwesan hati yang bertoleran.

Welas asih memang sangat rumit ketika kita berharap sesuatu hal mendatangi pengakuan dalam lumbung satu kesatuan dengan tafsiran kebaikan masa depan. Tapi berjibun pihak sama-sama sangat ambisi membentuk nasip tiap-tiap kelompok yang berkeinginan pendiri tunggal menjadi paling emansipatif, paling berhasrat berlaku adil universal, paling mengayomi, dan menghendaki penjeniusan seluruh umat manusia. Maka, welas asih itu adalah jawaban dari segala hierarki dan tantangan itu.

Jam 6 pagi tiba, saya mengingat untuk sesegara melaksanakan kewajiban ke kampus. Setelah siap berangkat, motor sudah mengenduskan asapnya dan maraung-raung bunyinya, tiga anak-anak tadi mendekati saya, dan memberitahukan bahwa ember di dalam kamar mandi juga turut dipecahkan oleh teman-temannya.

Kemudian mereka, temannya di bawa ke hadapan saya, mereka berharap anak ini akan diintrogasi dengan keras. Salah satu teman yang bernama Lutfi bertanya, “apakah teman saya ini keterlaluan ya, mas?”

“Tentu saja tidak, ia mungkin tidak sengaja. Mas yakin, ia tidak akan mengulanginya kembali”.

Itulah jawaban sekadar penghiburan sekaligus pengkritikan. Pengharapan saya anak-anak yang bermasalah tadi dengan sikap welas asih yang ditonjolkan oleh seorang kakak, pendidik, akan memberikan rangsangan pertaubatan dengan membentuk karakter terpuji pada anak didik yang bersifat menyempurnakan, bukan mengkeraskan, bahkan sampai permusuhan.

Dari sejuta anak, sejatinya adalah keluarga kita sendiri. Hanya saja mereka tak serumpun, serumah dan sedarah sebagaimana ibu dan bapak. Meskipun ia berbeda haluan, kita patut memberi kasih dan sayang dan rasa hormat, sebagai modal merengkuh khazanah kekeluargaan yang bernafas kewelas asihan. Wallahu’ a’lam.(*)