Jika kalian pernah jalan-jalan ke Jember, tentu akan menjumpai pemandangan unik di pinggir jalan. Ya, pemandangan yang barangkali tidak dapat dijumpai di tempat lain. Kalaupun ada, boleh jadi tidak semudah dan semeriah di Jember. Yakni, bapak-bapak, segerombolan anak muda, dan terkadang juga tampak anak-anak yang baru saja menginjak dewasa berkumpul di pinggir jalan. Sembari menjulurkan kotak kecil, mereka melakukan orasi lantang dengan pengeras suara. Meski kadang terdengar samar-samar kurang jelas, namun nadanya tampak bertenaga penuh dengan semangat.

Mereka mengajak orang-orang yang berlalu lalang untuk bersedekah, lebih tepatnya meminta sumbangan pada orang yang lewat di pinggir jalan untuk keperluan pembangunan masjid. Kali pertama menjumpai pemandangan seperti itu, jujur saja saya kaget dan heran, dalam hati bergumam, “ada-ada saja orang sini ya. Tak kurang akal menggalang dana untuk pembangunan masjid”. Uniknya, mereka yang bersedia menyisihkan uangnya, akan didoakan oleh mereka masuk surga.

Bagi saya, pembangunan masjid yang dilakukan dengan cara meminta-minta nampaknya kurang elegan. Mengapa demikian? boleh jadi orang yang dimintai sumbangan belum tentu berniat tulus untuk menyumbang. Jangan-jangan ia hanya pamer bahkan terpaksa karena merasa tak enak tatkala melihat orang-orang menjulurkan kotak amal. Oleh sebab itu, ada baiknya kita merenungkan kembali hakikat masjid dan fungsinya.

Dalam segi bahasa, masjid berasal dari bahasa arab yang berasal dari kata sajada-yasjudu yang memiliki arti patuh atau taat. Masjid sendiri adalah isim makan yang menujukkan arti tempat. Secara bahasa masjid adalah sebuah bangunan yang dikhususkan untuk sujud atau tempat bersujud. Sedangkan menurut syariat, sujud adalah pekerjaan tujuh anggota badan, yaitu dahi, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua jemari kaki.

Kendati demikian, masjid tak hanya difungsikan sebagai tempat sujud atau ibadah. Namun, dalam perkembangannya, masjid juga dijadikan sebagai madrasah atau tempat untuk menimba ilmu. Bahkan, kali pertama yang menjadikan masjid sebagai madrasah adalah para sahabat Nabi. Mereka dikenal dengan sebutan ashab-shuffah atau sahabat yang tinggal di emperan atau serambi masjid Nabawi. Selain mukim, mereka menjadikan masjid sebagai tempat untuk belajar membaca, menulis, mengkaji al-Quran, dan berbagai fan ilmu Islam yang lain.

Muhamad Taufik Kustiawan dalam buku Berbuku dan Bermasjid (2018) menyebutkan bahwa sejarah kemajuan dan kejayaan Islam pada zaman dahulu bersumber melalui peran masjid. Pada abad VII sampai XI masjid tak hanya digunakan sebagai tempat untuk beribadah, musyawarah, dan berdakwah, malah menjadi pusat peradaban keilmuan. Dengan begitu, tak heran apabila para cendekiawan atau ilmuan muslim lahir dari generasi masjid, untuk kemudian menghantarkan kejayaan Islam lewat buah pemikirannya.

Taufik juga mengingatkan di era modern seperti ini, banyak orang gemar sekali membangun masjid, tapi ogah-ogahan meramaikan atau memakmurkan masjid. Tentu apa yang dikatakan Taufik tidak salah. Kerapkali kita menjumpai masjid dengan bangunan yang menawan, megah, nan indah. Namun, tak berbanding lurus dengan jamaah yang hadir di dalamnya.

Perlu diketahui bahwasanya masjid sendiri ada dua macam. Satunya roh, dan kedua badan. Satu melekat dalam hati, lainnya di atas bumi. Dengan demikian, tidaklah perlu memaksakan diri untuk berlomba-lomba membangun masjid, apalagi dilakukan dengan cara meminta-minta. Toh dengan dibangunya masjid yang megah tidak ada dampak yang signifikan. Apakah orang-orang akan semakin giat ngaji, sembahyang, iktikaf usai dibangunnya masjid? tidak ada jaminan untuk itu.

Tak ada salahnya membangun masjid megah, hanya saja kemegahan masjid bukanlah tujuan utama, melainkan meramiakan masjid untuk beribadah, dan berdakwah untuk dapat menyatukan umat Islam. Selain itu, berdoa tak semestinya di masjid. Berdoa bisa di mana saja. Bukankah seluruh bumi adalah masjid?