Islamsantun.org. Suatu siang saya mengajar mahasiswa secara daring. Mengingat jumlah kasus Covid-19 di Indonesia belum menurun, bahkan cenderung meningkat, saya memberikan pengantar kuliah berupa ajakan untuk selalu menerapkan protokol kesehatan, meningkatkan imunitas tubuh, dan menjaga kondisi kejiwaan dalam merespons Covid-19. Selepas itu, ada mahasiswa yang berpendapat. Dia mengatakan bahwa dia tidak percaya Covid-10 karena penuh rekayasa dan banyak keanehan. Kemudian, dia mencontohkan peristiwa yang dialami oleh ibu dari salah seorang temannya yang dites. Ketika sehabis menjalani tes, pihak dokter mengatakan bahwa hasil tesnya adalah ibu tersebut positif terpapar Covid-19. Agar lebih jelas, pihak ibu tersebut meminta salinan hasil tes, namun tidak diizinkan dan diberikan oleh pihak dokter dan rumah sakit. Atas dasar itu, mahasiswa saya menganggap bahwa Covid-19 tidak ada. Jika ada, mengapa hasil tesnya tidak bersedia untuk diberikan?

Peristiwa semacam ini sudah banyak terjadi dan saya temui. Sikap tidak mempercayai adanya Covid-19 berdasarkan kesimpulan atas secuil peristiwa yang ditemuinya. Sikap semacam ini justru mengganggu situasi dan kondisi ketika kita seharusnya bekerja sama untuk melawan Covid-19. Hal yang paling mendasar adalah terjadinya ketidakproporsionalan dalam berpikir. Hanya berbekal sejumlah peristiwa, seseorang memberikan kesimpulan secara general. Seperti halnya mahasiswa saya tersebut. Hanya berbekal pengalaman ibu dari salah seorang temannya, kemudian pengalaman tersebut digunakan untuk menyimpulkan secara keseluruhan bahwa Covid-19 tidak ada dan rekayasa.

Memang, kita harus mengakui adanya sejumlah kesemrawutan dalam penanganan Covid-19. Bahkan, ada beberapa oknum dari berbagai kalangan yang ingin mengambil kesempatan dalam kondisi musibah semacam ini. Meskipun demikian, adanya sikap-sikap abnormal dari sejumlah oknum tersebut jangan sampai menyebabkan kita berpikir tidak proporsional.

Ketidakproporsionalan dalam berpikir akan berakibat fatal, bukan hanya pada diri sendiri maupun pada orang lain. Jika hanya berdasarkan data yang tidak lengkap dan kemudian digunakan untuk menyimpulkan, maka kesimpulan tersebut rentan salah. Jika kesimpulan salah, maka akan melahirkan sikap yang tidak tepat juga. Dengan kata lain, jika tidak percaya adnaya Covid-19, maka sikap yang lahir adalah kurang menerapkan protokol kesehatan. Bahkan, seseorang dengan sikap tersebut ada keinginan untuk menyebarluaskan kesimpulannya kepada berbagai pihak. Sehingga, akan menyebabkan ketidakproporsionalan dalam berpikir dan menyimpulkan tersebut semakin luas.

Ketika seseorang sudah tidak mempercayai adanya Covid-19, maka akan ada kecenderungan untuk melakukan bias konfirmasi. Bias konfirmasi dapat diartikan sebagai suatu sikap yang cenderung mencari informasi atau data yang sekiranya bersifat mendukung pendapat dan pemikiran kita, namun di sisi lain menghindari untuk mencari dan menerima informasi dan data yang dianggap kurang mendukung pendapat dan pemikiran kita. Bias konfirmasi ini bisa terjadi akibat adanya ketidaksediaan seseorang untuk melakukan kategorisasi ulang pada pemikiran dan idenya.

Adapun kecenderungan untuk tidak bersedia mengkategorisasi ulang pemikiran dan idenya bisa muncul akibat adanya sikap kurang bersedia mengakui adanya kekurangan dalam ide atau pemikirannya tersebut. Dengan kata lain, apabila seseorang berpikir dan menyimpulkan, maka seseorang tersebut akan merasa bahwa hasil berpikirnya adalah kebenaran. Pada titik ini, dia akan berupaya mempertahankan kesimpulan dan idenya sehingga bisa terjebak pada bias konfirmasi.

Dalam konteks mahasiswa saya tersebut, atau orang lain yang tidak percaya adanya Covid-19 berdasarkan pengalaman dari beberapa orang saja, maka akan cenderung mencari dan menerima informasi lain yang sejenisnya untuk memperkuat kesimpulannya. Sedangkan, mereka tidak memiliki dorongan atau keinginan untuk mencari data atau peristiwa yang bertolakbelakang dengan kesimpulannya meskipun data yang bertolakbelakang tersebut benar. Mahasiswa saya tidak berupaya mencari peristiwa lain yang berupa banyaknya hasil tes Covid-19 yang dipublikasikan oleh individu yang telah dites. Ini artinya, ternyata banyak juga rumah sakit atau institusi kesehatan (puskesmas) yang bersedia memberikan hasil tes Covid-19 kepada pasien.

Di sisi lain, pengalaman mahasiswa saya tersebut, mahasiswa saya tersebut mengacuhkan alasan pihak rumah sakit tidak memberikan bukti hasil tes. Barangkali, pihak rumah sakit tersebut memiliki pertimbangan tertentu untuk tidak memberikan hasil tesnya. Sedangkan, pertimbangan tersebut tidak menjadi dasar bagi pihak rumah sakit lain sehingga banyak juga pihak rumah sakit atau institusi kesehatan yang bersedia memberikan hasil tes. Pada tahap lebih lanjut, individu semacam ini bukan hanya tidak mau mencari data lain, namun akan cenderung menolak data lain yang berlainan dengan kesimpulannya meskipun data tersebut benar.

Semakin banyak data atau peristiwa yang sejalan dengan kesimpulannya maka akan semakin memperkuat kesalahan kesimpulan tersebut. Dengan demikian, peristiwa semacam ini juga menjadi bahan refleksi bagi kita semua. Bahwa, Covid-19 harus direspons dengan berpikir proporsional bukan hanya oleh masyarakat luas, namun juga harus direspons secara profesional oleh setiap kalangan. Semakin profesionalitas ditegakkan, maka akan semakin sedikit oknum yang menyalahgunakan dan mengambil kesempatan dalam musibah Covid-19 ini.

Pada akhirnya, semakin sedikit pula data atau peristiwa yang rentan mendorong seseorang salah mengambil kesimpulan. Semakin proporsional pola pikir dan pengambilan kesimpulan pada masyarakat, maka semakin melahirkan sikap yang tepat dalam mengantisipasi dan menghadapi Covid-19. Adanya kesemerawutan dan ketidakprofesionalan dalam penanganan Covid-19, bukan berarti menjadi bekal untuk menyimpulkan Covid-19 tidak ada. Berpikir dan bersikap proporsional adalah dengan mempercayai Covid-19 itu ada dengan segudang bukti, sembari mengakui masih adanya kekurangan dalam penanganannya untuk kemudian memperbaiki penanganan tersebut.