Islamsantun.org. Bagi Dawkins, orang-orang ateis lama sebelum Darwin tidak punya pilihan lain selain tetap membiarkan jawaban atas kompleksitas alam semesta itu tetap terbuka. Hume, misalnya, sadar betul bahwa kerumitan itu butuh penjelasan namun dia menolak tunduk pada penjelasan berbau supernatural ala Paley. Sayangnya, dia meninggal sebelum sempat menyambut kedatangan Darwin di Edinburgh. Kalau tidak, mungkin keimanan ateisnya akan lebih mantap, semantap Dawkins.

Darwin hadir bak seorang Nabi yang membawa ‘wahyu’ dalam rangka membantu manusia memahami proses perkembangan makhluk hidup serta keterikatan genetik di antara mereka. Wahyu itu bernama seleksi alam yang kelak dikodifikasi dan menjadi kanon sucinya orang-orang ateis berjudul “The Origin of Species.” Berbeda dengan perancang jam tangannya Paley, seleksi alamnya Darwin sama sekali tidak memiliki tujuan (purposeless). Ia tidak punya visi. Ia buta.

*

Untuk memahami bagaimana seleksi alam mengatasi kerumitan itu, pertama-tama kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan kompleks? Kapan sesuatu itu bisa dikatakan kompleks? Ciri pertama yang mungkin kita bayangkan adalah jenis struktur yang beragam. Agar-agar adalah benda sederhana. Artinya kalaupun kita potong jadi dua atau lebih, dia akan tetap kita sebut agar-agar. Berbeda dengan mobil misalnya, yang memiliki komponen lebih beragam dan berbeda satu sama lain, baik dalam bentuk ataupun fungsi, jika kita pisah komponen-komponen itu, maka kita tidak lagi dapat menyebutnya mobil.

Bagaimana dengan gunung misalnya? Bukankan ia terlihat sederhana padahal banyak komponen di dalamnya? Betul. Untuk itu, ciri kedua perlu ditambahkan; ketidakmungkinan bagi komponen itu teratur secara kebetulan. Gunung terlihat lebih sederhana karena betapapun kita mengacak-acak batu atau pepohonan di dalamnya, dia tetap gunung. Berbeda dengan mobil tadi, jika anda mengacaknya lalu menyusunnya kembali dan ada komponen yang tidak pada tempatnya, mobil itu tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya.

Maka, dalam hal ini, Dawkins menggunakan teori probabilitas. Bagi Dawkins, ketidakmungkinan (improbable) bukan suatu kemustahilan (impossible). Bayangkan ada sedang melempar dadu. Jika dadu yang anda lempar memliki 6 sisi, maka kemungkinan angka 6 muncul adalah 1/6. Jika sisi dadunya ada 8, maka kemungkinannya adalah 1/8, dan seterusnya dan seterusnya. Betapapun banyaknya sisi dadu, probabilitasnya tetap dapat dihitung, walapun sangat sangat sangat kecil. Tapi ingat, kecil bukan berarti nol.

Tapi bukankah kemungkinan itu sangat kecil dan bisa dibilang hampir mustahil? Sekarang gini, bayangkan panjang elektromagnetik. Normalnya, mata kita hanya menangkap benda dengan rentang panjang elektromagnetik 350 hingga 700 nm. Hanya karena kita tidak mampu menangkap pantulan intensitas cahaya yang begitu kecil dari atom lantas atom itu tidak ada. Kita tetap bisa melihatnya dengan bantuan mikroskop. Begitupun dengan kemungkinan, bukan karena kemungkinan itu kecil lantas itu tidak mungkin terjadi. Akal kita tetap dapat menangkapnya.

Lalu apa hubungan ini semua dengan seleksi alam? Sama seperti mobil dan dadu, seleksi alam bekerja secara acak dan gradual. Jika kita ingin memahami cara kerja mobil, maka kita bisa mulai dari setiap komponen dan fungsinya. Setelah kita paham komponen-komponen itu, baru kita belajar tentang interkasi di antara komponen-komponen itu sehingga menciptakan apa yang kita sebut mesin, ban, setir, kursi mobil, spion dan lain-lain. Setelah kita paham sub-sub komponen itu, baru kita dapat mempelajari bagaimana mereka dapat membantu mobil untuk berfungsi sebagai alat transportasi.

Begitupun dengan makhluk hidup. Untuk memahaminya, kita tidak bisa serta merta melihatnya sebagai satu spesies yang utuh. Ada unsur yang bekerja di dalamnya. Unsur-unsur itu terbentuk secara bertahap, bukan satu kali jadi, melalui proses buta yang kita sebut seleksi alam, sehingga menghasilkan satu organ yang begitu kompleks. Mungkin akan sulit membayangkan kemungkinan itu terjadi jika waktu yang kita bayangkan hanya puluhan atau ratusan tahun sebagaimana rata-rata usia kita, tapi bayangkan jika waktu yang dimiliki adalah jutaan atau bahkan miliaran tahun sebagaimana usia semesta. Jika belatung saja bisa tiba-tiba muncul dalam daging yang anda biarkan membusuk selama beberapa hari, anda bisa bayangkan apa saja yang akan terjadi dalam rentang waktu jutaan tahun. Everything.

*

Jadi jika disimpulkan, ada dua hal yang membuat kita (termasuk saya, jadi bukan hanya makhluk apologetis itu) memiliki kecenderungan untuk lebih memilih jalan mistis daripada sains dalam memahami proses pembentukan kehidupan yang rumit:

Pertama, ketidakmampuan kita untuk menerapkan logika kemungkinan sebagaimana saya jelaskan di awal tulisan. Dengan menggunakan kalkulasi matematis, probabilitas adalah cara alternatif untuk menjelaskan kerumitan hidup tanpa merujuk pada keberadaan pencipta. Metode ini juga dapat digunakan untuk menjelaskan sejumlah peristiwa luar biasa yang oleh agama disebut dengan mukjizat. Sayangnya, seperti halnya Paley, kita kurang bersabar untuk menunggu jawaban yang lebih rasional atas ketidakmungkinan-ketidakmungkinan yang kita temui di dunia ini.

Kedua, kelemahan intuitif kita untuk membayangkan waktu yang tersedia bagi evolusi untuk bekerja. Jika butuh beberapa abad saja bagi serigala untuk bertransformasi menjadi anjing, anda bisa bayangkan apa saja yang berubah dalam rentang waktu jutaan abad. Jika evolusi benar, bukan tidak mungkin sejenis ikan yang merangkak keluar dari laut tiga juta abad yang lalu berproses menjadi manusia. Ngayal? Tidak jika anda pahami bagaimana gen itu bermutasi tahap demi tahap melalui seleksi alam yang, again, buta.

Nah, sekarang setelah saya bawa anda berputar-putar, kita kembali ke pertanyaan inti yang hendak dijawab oleh sang makhluk apologetis dengan meminjam logika Paley kemarin, ‘apakah Tuhan itu ada?’. Tenang dulu. Jika anda cermati baik-baik argumen Dawkins ini, memang tidak satu kalimatpun yang membuktikan ketidakberadaan Tuhan (ini juga sebenarnya kritik saya terhadap Dawkins). Yang ia buktikan adalah tentang ketidakmampuan (lagi) argumen teleologis, terutama pasca Darwin, untuk membuktikan adanya dzat pencipta. Dua hal ini berbeda loh ya. Anehnya, meskipun sudah remuk, ada saja yang masih suka menggunakannya.

Sumber gambar: lefo.id