“Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Al-Baqarah : 109)

Dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, tak seorang pun yang luput dari hadirnya ujian dan cobaan. Ya, beragam ujian dan cobaan hidup sengaja Allah hadirkan untuk melihat siapa di antara hamba-Nya yang tetap bersabar dan istikamah di jalan-Nya.

Para Nabi dan Rasul, juga para sahabat dan salaf al-shalih memberikan teladan kepada kita bagaimana sikap yang seharusnya kita lakukan ketika dihadapkan pada pelbagai persoalan hidup, ketika didera serangkaian ujian dan cobaan, ketika dirundung masalah.

Mereka, manusia-manusia pilihan itu hanya berharap, memohon serta bermunajat kepada Allah agar persoalan yang tengah dihadapi, ujian dan cobaan hidup yang sedang dialami, segera diberikan jalan keluarnya. Di saat yang sama, mereka juga melakukan introspeksi diri (muhasabah) atas segala sikap, tindakan serta perilakunya yang selama ini mereka jalani.

Nabi Adam a.s., tak henti-hentinya bermunajat kepada Allah, mengakui dosa-dosanya sekaligus memohon ampunan-Nya, atas dosa dan kesalahan yang telah dia lakukan. “Rabbana zhalamna anfusana wa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna min al-khasirin”. (Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Dan jika Engkau tidak mengampuni kami serta menyayangi kami, sungguh kami akan menjadi orang-orang yang rugi).

Nabi Yunus a.s., ketika berada dalam perut ikan hiu, beliau menyadari kesalahannya karena meninggalkan umatnya, seraya bermunajat kepada Allah, “La ilaha illa Anta subhanaka inni kuntu min al-zhalimin” (Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk ke dalam golongan orang-orang yang zalim).

Nabi Muhammad Saw., dalam banyak riwayat dijelaskan bahwa beliau tidak pernah melewatkan salat malam (qiyam al-lail) untuk bermunajat kepada Allah, memohon ampun atas segala dosa, serta memohon diberikan jalan keluar atas segala persoalan yang tengah dihadapinya.

Inilah contoh sikap yang dilakukan oleh manusia-manusia mulia pilihan Allah. Mereka hanya memohon dan berharap pertolongan kepada Allah, tidak yang lainnya. Karena mereka yakin sepenuh hati bahwa hanya Allah-lah Sang Maha Pemberi Solusi.

Sungguh, betapa bodohnya kita, jika di saat persoalan hidup datang menghadang, kita justru lari dari Sang Maha Pemberi Solusi. Sungguh, betapa naifnya kita, jika di saat ujian dan cobaan hidup hadir menghampiri, kita justru menjauh dari Sang Ilahi. Sungguh, alangkah dungunya kita, jika di saat masalah tiba mendera, kita justru menjaga jarak dari Sang Mahakuasa.

Bagaimana mungkin persoalan kita akan terselesaikan, jika kita tidak melibatkan Allah Sang Maha Pemberi Solusi. Mustahil kita bisa menghadapi ujian dan cobaan hidup dengan penuh kesabaran hati dan kelapangan jiwa, jika kita tidak menyandarkan diri kepada Sang Ilahi.

Sekali lagi, hanya Allah-lah Sang Pemberi solusi.

* Ruang Inspirasi, Senin, 12 Juli 2021.