“Server (peladen) adalah wadah untuk menampung data informatika. Inilah perangkat yang paling menentukan kinerja dalam mobilitas sirkulasi infromasi. Dalam diri manusia, peladen itu bernama hati. Inilah perangkat dalam diri manusia yang mampu menampung seluruh pengetahuan, terutama pengetahuan yang bersumber dari Tuhan. Hati itulah cahaya (nur) yang bersumber dari Nur Allah. Hati yang bersih dan mampu menampung Nur Allah, akan memendarkan cahaya ke sekelilingnya. Seberapa besar pendarannya, sangat bergantung pada seberapa besar Nur Allah yang bisa ditampung dalam hati. Semakin dekat dengan Allah, maka Nur-Nya semakin besar dan menyinari segenap manusia di sekitarnya. Wallahu Al’am” (Prof. Dr. Maftukhin, M. Ag, Rektor IAIN Tulungagung).

Manusia ibarat perangkat yang biasa kita gunakan dalam dunia data dan informasi. Di dunia data dan informasi, perangkat terpenting yang cukup menentukan kinerja dan mobilitas kita dalam menerima data dan mengolah informasi adalah server. Dalam diri manusia server itu adalah hati. Secara harfiah server berarti peladen atau pelayan. Dalam dunia informasi, server berfungsi melayani dan menampung data. Dalam diri manusia, hati berfungsi sama; melayani dan menampung, hanya saja yang diterima dan ditampung hati adalah pengetahuan yang bersumber dari Tuhan.

Server yang bagus dan kuat, selain stabil dalam menerima data dan setiap informasi yang masuk, ia juga kuat dalam memendarkan sinyal kepada para users yang mengaksesnya. Para users dimanjakan dengan stabilitas dan kekuatan sinyal oleh server yang bagus, stabil dan terawat. Seperti itu pula hati. Hati yang kuat; jernih, bening, dan terawat, selain kuat dalam menangkap setiap pengetahuan Ilahiah, ia juga stabil dan mantap dalam memendarkan cahaya ke sekitarnya. Hati yang seperti itu, bukan hanya baik bagi pemiliknya, tapi juga menebarkan kebaikan pada lingkungan sekelilingnya.

Dari sini dapat dikatakan bahwa hati adalah “duta” Tuhan pada diri manusia. Setiap diri dituntut untuk merawat serta memastikan kesehatan dan kebeningan “duta” itu agar dapat selalu menjalankan fungsinya sebagai “wakil” Tuhan dalam diri manusia. Sang “duta” harus selalu dalam keadaan siap dan terjaga untuk menerima perintah, komando, dan limpahan arahan Sang Tuan Yang mengutusnya menjadi “duta”. Jika keadaan “duta” itu sehat dan selalu terjaga, sehat pula seluruh “pasukan” yang ada di bawah pengawasan dan kendalinya. Ini sejalan dengan hadis yang mengatakan:

“Ingatlah sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik maka baik pula seluruh jasad, namun apabila segumpal daging itu rusak maka rusak pula seluruh jasad. Perhatikanlah, segumpal daging itu adalah hati!”

Ibnu Qayyim dalam satu satu karyanya, Ighatsah Lahfan, menulis:

“Tatkala hati kedudukannya bagi badan seperti raja yang berkuasa mengatur pasukannya, semua (pergerakkan)-nya berasal dari perintahnya dan sang raja menggerakkannya sesuai dengan kehendaknya maka semua (anggota badan) di bawah pengaturan hati dan kekuasaannya. Dari hati inilah dihasilkan tindakan yang lurus dan yang menyimpang. Badan mengikuti tekad kuat hati atau mengikuti sesuatu yang tidak dikehendaki oleh hati…Hati adalah raja dari seluruh anggota badan, dan badan itu taat terhadap perintah hati, siap menerima petunjuk hati. Tidaklah lurus suatu amal sehingga amal tersebut berasal dari tujuan dan niat hati, dan hati itu bertanggungjawab atas seluruh (amalan badan).”

Seperti telah disinggung, hati yang baik dan sehat bukan hanya membaikkan dan menyehatkan pemiliknya, melainkan juga membaikkan dan menyehatkan lingkungan sekitarnya. Lalu apa yang membuat hati tetap baik dan sehat? Apa yang membuat hati memendarkan cahaya bukan hanya untuk pemiliknya, tapi juga ke lingkungan sekitarnya. Pak Rektor menjawabnya: “Semakin dekat dengan Allah, maka Nur-Nya semakin besar dan menyinari segenap manusia di sekitarnya.” Ya, stay close to God!