Islamsantun.org. Agama Hindu mendominasi kehidupan penduduk mayoritas di India. Menurut data penduduk India terdapat 973.750.000 pemeluk Hindu. Artinya sekitar 94.30% penganut Hindu di dunia hadir di India. Sisanya merupakan serpihan minoritas agama Kristen, Islam, dan sebagainya. (Purwakarta.com 19/2/2022). Dapat dipastikan India termasuk dalam daftar negara rawan konflik agama. Ketika penduduk mayoritas berkuasa maka, penduduk minoritas akan tetap tertindas. Hal itu dikuatkan dengan maraknya pelarangan hijab di lingkungan sekolah di Kanartaka, India Selatan. Seperti hukum rimba, yang terkuat berkuasa menentukan aturan sementara yang terlemah harus tetap mengikuti aturan tanpa bantahan lagi. Alhasil ketimpangan demi ketimpangan senantiasa terjadi dari waktu ke waktu.

Ketegangan antara kaum mayoritas Hindu Budha dengan minoritas muslim di India sedang dalam fase memanas. Pelarangan terhadap pemakaian hijab dalam dunia pendidikan membuat kedua kubu tersebut terus berseteru. Desakan dari kaum minoritas muslim di India sudah berkali-kali dilakukan guna mendapatkan keadilan. Nyatanya, keadilan tidak pernah berpihak pada mereka. Justru aksi protes yang mereka usahakan tidak sekali pun dihiraukan otoritas pemerintah melainkan sebatas angin lewat saja. Mayoritas Hindu Budha tetap bersikukuh terus mempertahankan anggapan bahwasannya penggunaan jilbab tidak diperkenankan di sekolah dikarenakan alasan menjaga formalitas di ruang kelas. Jelas hal ini merupakan salah satu bentuk diskriminasi agama di lingkungan sekolah.

Tak sepantasnya generasi muda yang sedang menimba ilmu diajarkan untuk melakukan diskriminasi terhadap kelompok yang berbeda agama. Sekolah tempat di mana mereka menimba ilmu seakan-akan menjadi ruang penjara yang membatasi  hak-hak mereka. Sekolah bukan tempat untuk saling bertikai atas perbedaan keyakinan yang mereka anut. Sekolah juga bukan tempat untuk saling menginjak meski berada dalam satu atap yang sama. Sekolah seharusnya menjadi tempat pengembangan potensi diri guna menimba ilmu demi meraih cita-cita di masa depan kelak.

Berawal dari desas-desus informasi dan kabar-kabar yang saya terima memancing saya untuk menelusuri kembali mengenai kasus ini. Menurut informasi yang saya lansir dari BBC News Indonesia, di daerah Mandya tepatnya di salah satu sekolah, sebuah video viral seorang perempuan muda pemakai burka bernama Muskaan Khan dirundung oleh sekelompok lelaki dewasa yang mengenakan  selendang safron pertanda kubu antihijab. Mereka berteriak Jai Shri Ram (salam Tuhan Ram) berulang kali sementara, perempuan itu menyahut dengan postur tubuh berdiri sembari mengepalkan tangan ke atas meneriakkan takbir “Allahu Akbar” (Tuhan Maha Besar) tanpa peduli dengan keberadaan mereka. Disinyalir Muskaan Khan melakukan protes terhadap pelarangan hijab di sekolahnya. Dia tidak pernah takut dirundung hanya karena memakai hijab. Keimanan telah menguatkan hatinya untuk tetap tabah menghadapi perundungan yang dilakukan teman-temannya di sekolah. Yang dia harapkan dari pihak sekolah hanyalah kebebasan dalam memakai atribut keagamaan di lingkungan sekolah.

Lantaran maraknya diskriminasi terhadap perempuan berhijab membuat perundungan kian merebak. Lagi-lagi saya melihat unggahan postingan viral dari akun Instagram Worldhijabday. Postingan itu menampilkan kartun muslimah berhijab dilengkapi tulisan   justice for Hoda. Setelah ditelusuri ternyata Hoda adalah satu dari banyaknya korban perundungan pada perempuan berhijab. Diceritakan bahwasanya Hoda dan teman-temannya dihadang oleh tiga orang non muslim. Mereka memaksanya untuk mengajari umpatan berbahasa Arab tetapi Hoda  menolaknya.

Hijab dipakai mereka tarik secara paksa dan dirobek. Perempuan berhijab disinyalir bernama Hoda juga diserang secara fisik seperti dipukul.  Selain itu mereka juga melontarkan ejekan” teroris dan pelacur muslim” sembari mengacungkan tangan. Siswi SMA Putri Otago itu mendapatkan luka-luka serius. Akibatnya ia menderita gegar otak sehingga dilarikan ke rumah sakit. Rupanya setelah kejadian itu, para pelaku tetap gencar melakukan teror terhadap para perempuan berhijab. Kekerasan fisik maupun berupa ejekan tetap mereka lakukan sekalipun, wali murid dari para korban telah mengajukan protes ke pihak sekolah. Dari pihak Kepala Sekolah Otago Girls, Bridget Davidson, memutuskan untuk tidak ikut campur dalam urusan ini. Ia menganggap bahwa, perilaku kekerasan tidak perlu diperpanjang apalagi dikomentari lebih jauh lagi.

Ketika membuka beranda Instagram, saya dikejutkan dengan sebuah postingan berisi video viral berdurasi sekitar satu menit. Terlihat sekumpulan wanita berhijab berlarian karena disiram air oleh beberapa laki-laki di pinggir jalan yang mengenakan syal safron. Diketahui video tersebut terjadi di India tepatnya di Kanartaka. Atribut keagamaan seperti hijab tak sepantasnya dijadikan sebuah penghalang dalam mendapatkan hak-hak melalui pendidikan.

Hijab memang identik dengan atribut keagamaan tetapi pemakaian hijab dalam hal ini sebagai bentuk ketaatan seorang hamba. Maka ketika melihat murid-murid sekolah sejak dini sudah di dikenakan hijab tandanya moralitas ketaatan terhadap Tuhan telah dipupuk sejak kecil. Sebuah pertanda baik bagi kepribadiannya kelak menjadi seorang yang taat dan patuh terhadap aturan agama. Ketika melihat kasus perundungan terhadap perempuan berhijab, seketika pula saya berpikir kasus perundungan dapat menjerumuskan dalam perilaku diskriminatif. Sejatinya perilaku ini rawan sekali memicu konflik. Lebih-lebih lagi konflik yang terjadi di mengusung soal keagamaan. Bisa jadi mimpi buruk berhubungan dengan Islamophobia kembali menghantui.

Organisasi Kerja Sama Negara Islam (OKI) mengecam keras tindakan diskriminatif terhadap perempuan Muslimah di India. Hissein Ibrahim Taha, Sekjen OKI memberi ultimatum pada India untuk segera membereskan permasalahan ini dan menjamin kesejahteraan serta keamanan minoritas muslim di India. Selain itu beliau juga menegaskan kepada PBB untuk segera bertindak siaga. Perdana menteri India Narendra Modi menentang pendapat OKI. Beliau berpendapat miring bahwa OKI justru memanfaatkan keadaan untuk membela salah satu golongan demi kepentingan pribadi. Beliau juga mengatakan bahwa Islamophobia sedang gencar melanda.  Jelas hal ini tentu mengundang perhatian publik secara luas.

Pemimpin yang seharusnya bisa memberikan kebebasan terhadap rakyatnya untuk menjalankan hak-hak asasi justru memangkas hak-hak secara universal. Seakan-akan ruang gerak rakyat minoritas muslim dikesampingkan begitu saja. Sementara mayoritas Hindu Budha diberikan fasilitas yang lebih memadai. Sikap intoleran seperti inilah yang harus segera ditangani lebih lanjut. Kaum minoritas semestinya diberikan ruang untuk memperjuangkan hak-haknya. Maka diajukanlah sebuah petisi common dress code. Semoga dengan diajukannya petisi diimbangi dengan pertimbangan lain-lainnya memberikan jalan keluar terbaik bagi masa depan perempuan muslimah di India.

Umi Nur Baity, mahasiswi UIN Raden Mas Said Surakarta