Islamsantun.org. Imam Abu Hamid al-Ghazali w.1111 M). Siapa yang tak kenal nama ini. Ia adalah filsuf, ahli hukum Islam sekaligus sufi besar. Pikiran-pikirannya terus dikutip dan dijadikan sumber kebijakan kaum muslmin di seluruh dunia sampai hari ini. Karya-karyanya dibaca selama berabad-abad, hingga sekarang. Ia telah menulis ratusan buku. Paling tidak ada beberapa yang sering disebut orang. Ihya Ulum al Din, Tahafut al Falasifah, Al Mustashfa, Faishal al Tafriqah, Al Munqidz min al Dhalall. Dua karyanya yang paling kontroversial : Tahafut al-Falasifah (kerancuan kaum filsuf) dan Ihya Ulumiddin (Menghidupkan ilmu-ilmu agama.

Dari dua buku ini al-Ghazali dituduh biang kerok kemunduran Islam dan mematikan dinamika kreatifitas dan intelektualisme Islam. Kaum tekstualis ortodok menuduh al-Ghazali telah keluar dari Iislam, dia sesat dan kafir.
Al-Ghazali dalam Faishal al Tafriqah menginformasikan pengalaman tentang hal ini :

فإني رأيتك أيها الأخ المشفق؛ والصديق المتعصب؛ موغر الصدر؛ منقسم القلب؛ لِمَا قرع سمعك من طعن طائفة من الحسدة؛ على بعض كتبنا المصنفة في أسرار معاملات الدين وزعمهم أن فيها ما يخالف مذهب الأصحاب المتقدمين؛ والمشايخ المتكلمين، وأن العدول عن مذهب الأشعري ولو قيد شبر كفر؛ ومباينته ولو في شيء نزر ضلال

Sahabat, aku melihatmu sedang gelisah, sakit hati, dan kacau. Hal ini akibat engkau mendengar caci-maki dan stigma orang terhadap pikiran-pikiranku yang aku tulis dalam sejumlah buku. Mereka menyatakan bahwa pikiran dan pendapat-pendapatku bertentangan dengan pandangan al-Salaf al-Shalih dan para guru ilmu Tauhid. Berpaling dari pendapat al-Asy’ari, meski hanya dalam satu isu, adalah kekafiran. Menentangnya, meski hanya satu dua masalah saja, adalah kesesatan.

Sahabat yang sedang bersedih hati. Janganlah engkau berduka dan bersedih hati. Bersabarlah atas ucapan-ucapan stigmatik mereka yang menyakitkan itu. Tinggalkan mereka dengan baik-baik. Anggap saja ucapan-ucapan mereka yang mendengki dan menuduh itu bagai angin lalu. Tak usah juga pedulikan mereka yang tak mengerti apa yang sesungguhnya makna ‘kafir’ dan ‘sesat’ itu?.

Manusia paling baik dan paling terhormat di muka bumi, Nabi Muhammad saw, utusan Tuhan, tak luput dari caci maki dan tuduhan semacam itu oleh teman-temannya, kaumnya sendiri yang tak paham. Nabi disebutnya sebagai “orang gila” (majnun).

Ucapan-ucapan orang paling mulia itu dianggap mereka sebagai “dongeng” dan “mitos” belaka (Asathir al-Awwalin). Tak usah engkau menyibukkan diri melayani dan membungkam mulut mereka yang tak paham itu. Tak ada gunanya. Teriakan apapun terhadap mereka tak akan menggoyahkan pendirian mereka. Bukankah anda pernah mendengan puisi ini :
كل العداوات قد ترجى سلامتها إلا عداوة من عاداك من حسد
“Semua permusuhan masih bisa diselesaikan, kecuali permusuhan orang yang dengki (iri hati) kepadamu”.