“Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak akan meminta hartamu.” (Q.S. Muhammad: 36)

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridlaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q.S. Al-Hadid: 20)

Muhammad ‘Ali ash-Shabuni dalam Shofwat al-Tafasir, ketika menafsirkan ayat ke -36 dari surat Muhammad di atas menegaskan bahwa kehidupan dunia itu tidak tetap dan cepat sirna. Kehidupan dunia tak ubahnya seperti permainan, senda gurau, serta canda ria yang melenakan anak-anak yang tengah menikmatinya. Mereka lupa waktu karena asyiknya bermain. Demikian perumpamaan dunia bagi orang-orang yang lalai dan mengingkari petunjuk Allah. Tetapi bagi orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah, ia akan berhati-hati dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini.

Al-Maraghi dalam Tafsirnya, ketika menjelaskan maksud dari ayat ke-20 surat Al-Hadid menyatakan bahwa kesenangan duniawi berupa harta benda dan anak keturunan itu layaknya permainan dan senda gurau yang melenakan dan cepat sirna, seperti halnya seorang petani yang takjub melihat tanamannya tumbuh subur karena disirami air hujan, kemudian tiba-tiba kering dan menguning dan akhirnya mati.

Dari keterangan dua ayat di atas, dapat dipahami bahwa pada hakekatnya kehidupan dunia itu seperti arena permainan yang penuh dengan keceriaan, ditingkahi canda tawa, senda gurau yang pada akhirnya melalaikan siapa saja yang ikut di dalamnya. Mereka lupa waktu karena asyik bermain. Mereka baru tersadar, ketika ada yang mengingatkan kalau hari sudah mulai gelap, siang akan menuju peraduan, sedangkan malam akan segera menjelang.

Inilah hakekat kehidupan yang digambarkan al-Qur’an. Banyak manusia yang lalai dan terlena dengan kenikmatan duniawi yang nisbi dan fana ini. Di antara mereka ada yang tersadar pada saat usianya menginjak paruh baya, kemudian mulai memperbaiki hidupnya menempuh jalan Ilahi. Ada juga yang baru tersadar ketika usianya sudah lanjut, kemudian bertaubat dengan taubatan nasuha, taubat yang sebenarnya, dan mengisi sisa hidupnya dengan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Ada pula yang baru tersadar, justru di saat-saat akhir hidupnya, ketika dalam kondisi tak berdaya, terbaring sakit parah, misalnya, kemudian dia mengakui segala dosa-dosa yang telah diperbuatnya di masa lalu. Dia bertaubat, kembali ke jalan Allah, hingga akhirnya datang ajal menjemputnya.

Mereka ini adalah orang-rang yang masih diberi kesempatan oleh Allah Swt. dan memanfaatkan kesempatan itu untuk memperbaiki diri, kembali ke jalan Ilahi, menempuh dan mengisi sisa hidupnya dengan ketundukan dan ketaatan kepada Allah Swt. Mereka ini adalah orang-orang beruntung yang berkesempatan mendapat tempat mulia di sisi Allah Swt kelak.

Selain orang-orang yang penulis sebutkan di atas, ada orang yang paling celaka dalam hidup ini, yaitu mereka yang lalai dan terlena dengan kehidupan duniawi, mereka tak kunjung sadar hingga ajal datang menjemput. Mereka inilah orang-orang yang merugi dan akan mendapatkan kesengsaraan berkepanjangan di akhirat nanti.

* Ruang Inspirasi, Selasa, 25 Mei 2021.