Bulan Ramadan merupakan bulan yang suci dan penuh berkah. Ketika bulan Ramadan tiba,  umat muslim menunaikan ibadah puasa kecuali yang sedang ada alasan yang syar’i. Di bulan yang suci ini Allah swt. membelenggu setan-setan yang berkeliaran. Banyak dari kalangan masyarakat yang beranggapan di bulan suci ini tidak adanya maksiat. Walaupun bulan ini suci dan juga setan-setan sudah dibelenggu masih ada yang bermaksiat, lantas mengapa hal ini masih terjadi?

Mungkin ada yang bertanya-tanya mengenai ini, mengapa masih ada maksiat sedangkan setan-setan sudah dibelenggu? Begini jawabannya, manusia bermaksiat karena dua hal, yang pertama karena godaan setan kemudian yang kedua manusia bermaksiat karena hawa nafsunya.

Di bulan suci yang penuh berkah ini kemungkinan besar yang bermaksiat itu selalu mengikuti hawa nafsunya. Jadi jangan salahkan setan, setan nggak salah. Lantas yang salah siapa? Ya, diri kita sendiri yang salah karena telah menuruti hawa nafsu kita. Ingat pesan Rasulullah SAW ketika perang Badar yang mana pada waktu itu Nabi Muhammad SAW bersabda kepada para sahabatnya, “Kalian telah pulang dari suatu jihad kecil menuju jihad besar.” Sahabat pun bertanya, “Apakah jihad yang lebih besar itu, wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Jihad melawan hawa nafsu.”

Dilansir pada republika.co.id jihad melawan hawa nafsu hakikatnya adalah dasar dari jihad melawan musuh-musuh Allah. Sebab, seseorang tak akan mampu berperang melawan mereka sampai ia berhasil menundukkan hawa nafsunya sendiri. Jadi, jihad melawan hawa nafsu bukan untuk menghentikan jihad qital (berperang) yang sesuai syariat yakni dalam melawan musuh-musuh Allah, yakni mereka yang telah memerangi, membunuh, dan mengusir orang Islam dari kampung halamannya serta memerangi agama Allah.

Ada tiga tingkatan manusia melawan hawa nafsu menurut Imam Ghazali seperti yang dilansir pada republika.co.id, Manusia disuruh melawan dan mengendalikan hawa nafsu. Usaha manusia dalam perjuangan melawan hawa nafsu ini tentu bertingkat-tingkat, tergantung iman kita. Menurut buku Mizan al-‘Amal, Imam Ghazali menyebutkan ada tiga tingkatan.

Pertama, orang yang sepenuhnya dikuasai oleh hawa nafsunya dan tidak dapat melawannya sama sekali. Kedua, orang yang senantiasa dalam pertarungan melawan hawa nafsu. Pada tingkatan yang kedua ini ada kalanya menang dan juga pada kali yang lain ia kalah. Ketiga, orang yang sepenuhnya dapat menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya. Inilah orang yang mendapat rahmat Allah, sehingga terjaga dari perbuatan dosa dan juga bermaksiat.

Nah, di bulan yang suci ini mari kita tingkatkan amal serta ketakwaan kita kepada Allah supaya kita terhindar dari perbuatan maksiat. Dengan amal serta ketakwaan kita pasti akan takut ketika ingin berbuat maksiat. Ketika kita ingin bermaksiat karena kita selalu ingat Allah, maka secara otomatis kita takut akan adzabnya yang amatlah pedih. Maka maksiat itu sejatinya bukan hanya godaan setan, melainkan hawa nafsu kita sendiri yang tak bisa dikendalikan.

Akhmad Nasyrudin, Mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Arab UIN Raden Mas Said Surakarta.