Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. Al-Maidah: 100)

Sudah menjadi sunnatullah bahwa di dunia ini selalu ada dua hal yang saling berlawanan satu sama lain. Ada senang ada susah, ada suka ada duka, ada tangis ada tawa, ada benci ada cinta, ada positif ada negatif, ada baik ada buruk.

Secara naluri, manusia akan tertarik kepada hal-hal yang menyenangkan hatinya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang lebih memilih derita daripada bahagia, sedih daripada gembira, duka daripada suka. Setiap orang akan memilih kesenangan, kegembiraan dan kebahagiaan.

Persoalannya adalah, apakah yang menarik hati seseorang itu yang pada gilirannya akan melahirkan kesenangan dan kegembiraan adalah hal yang baik? Ataukah justru yang membuat seseorang tertarik itu hakekatnya adalah sesuatu yang buruk?

Di titik inilah setan menjalankan perannya sebagai penggoda agar manusia jatuh ke dalam jurang kesesatan dengan penuh lumur dosa. Ya, setan sang durjana tidak pernah kehabisan strategi untuk menyeret manusia mengikuti jejak langkahnya agar bisa bersama-sama kekal di neraka kelak.

Dengan kelicikannya, setan akan mempengaruhi manusia untuk menganggap hal-hal yang sesungguhnya buruk untuk dikerjakan dan berdosa jika dilakukan, sebagai hal-hal yang baik dan wajar-wajar saja.

“Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Q.S. Fathir: 8)

Ayat tersebut menegaskan tentang kelihaian setan mengaburkan pandangan manusia, menanamkan keraguan dalam hati mereka, membuat mereka ‘buta’ mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Setan dengan kekuatannya mampu meyakinkan manusia bahwa hal buruk yang dilakukan mereka dianggap sebagai sesuatu yang baik.

Banyak kita jumpai dalam kehidupan ini, orang-orang yang biasa melakukan keburukan dan kejahatan tidak menganggap apa yang dilakukannya adalah suatu dosa. Mereka menganggap kebiasaan buruk yang dilakukannya adalah hal yang wajar dan lumrah. Tidak jarang mereka menganggap baik yang dikerjakannya itu.

Para pedagang yang biasa berlaku curang, misalnya, mereka tidak menganggap perbuatannya itu sesuatu yang buruk apalagi dosa. Dengan dalih bahwa tanpa berbuat demikian mereka tidak akan mendapatkan keuntungan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, maka mereka pun tetap melanggengkan praktek curangnya dalam berdagang.

Para pejabat yang biasa melakukan tindak kejahatan berupa korupsi dan penyalahgunaan wewenang karena kekuasaan yang dimilikinya, tetap merasa enjoy dengan perbuatan jahatnya tersebut.

Para penegak hukum yang harusnya menegakkan keadilan tanpa pandang bulu dan pilih kasih, karena iming-iming materi yang menggiurkan, mereka tak segan memutar balikkan fakta dan menafikan nilai-nilai keadilan. Dan mereka tidak merasa bersalah dengan tindakannya tersebut. Jangan-jangan mereka menganggap baik apa yang mereka kerjakan itu.

Para akademisi dan ilmuwan yang harusnya menjunjung tinggi kejujuran, memberikan teladan kepada masyarakat, justru melakukan tindak pengkhianatan intelektual dengan melakukan plagiasi atas karya orang lain, atau memanipulasi data, sekadar untuk menaikkan pangkat, golongan dan jabatannya. Dan mereka merasa bahwa hal itu wajar belaka, bukan merupakan sebuah dosa.

Inilah tipu daya setan. Menjadikan pandangan manusia terbolak-balik. Keburukan dianggap kebaikan, sedangkan kebaikan justru dianggap keburukan.

Apabila kita ingin mendapat kebahagiaan dan keberuntungan yang hakiki, maka kita harus hati-hati dan waspada, jangan sampai terjebak keburukan yang melenakan.

* Ruang Inspirasi, Kamis, 20 Mei 2021.