Tahafut al-Tahafut adalah salah satu judul karya Ibnu Rusyd dan menjadi karya serta literatur penting dalam perkembangan tradisi filsafat Islam. karya ini berisi tanggapannya terhadap karya al-Ghazali dimana secara tegas melawan dan membantah pemikiran para filosof Muslim Paripatetik yang tertuang dalam Tahafutul al-Falasifah.

Melalui karya tersebut, Ibnu Rusyd mencoba mengambil tantangan dengan membela filsafat Islam dan merespon pandangan-pandangan al-Ghazali poin demi poin yang dalam Tahafut al-Tahafut yang merupakan literatur penting filsafat Islam. Walaupun harus diakui, karya ini tak memiliki pengaruh besar atas serangan al-Ghazali terhadap filsafat Islam dan kemandekan serta keredupan tradisi filsafat Islam di wilayah Timur.

Meski begitu karya ini juga tak begitu saja lekang dan musnah di makan waktu. karya Ibnu Rusyd ini sampai pada kalangan peminat kajian filsafat Islam di Indonesia dalam berbagai versi bahasa; Arab, Inggris dan Indonesia. Tahafut al-Tahafut terjemahan bahasa Indonesia pertama kali diterbitkan Pustaka Pelajar sekitar 2004 dengan judul, Tahafut al-Tahafut: sanggahan terhadap Tahafutul al-Falasifah.

Memiliki nama lengkap Abu Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Ibnu Rusyd dikenal sebagai seorang Muslim ahli Fiqih bermazhab Fiqih Maliki dengan karyanya, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, sebuah buku yang membahas tentang perbandingan mazhab fiqih dalam Islam. Buku ini hingga sampai saat ini masih digunakan di pondok pesantren baik salaf maupun modern.

Terkait biografi Ibnu Rusyd ini, saya kira buku Zainal Abidin Ahmad yang diterbitkan Bulan Bintang berjudul, Riwayat Hidup Ibnu Rusyd (Averroes) Filosuf Islam Terbesar di Barat (1973), menjadi salah satu literatur yang di tulis Sarjana Asli Indonesia yang dapat dikatakan cukup detail dan komprehensif.

Sebagai seorang filosof, Ibnu Rusyd menjadi filosof yang sangat berbeda baik, dengan para pendahulunya maupun teman sesama filosof seperti, Ibnu Tufayl sebagaimana narasi yang publis beberapa waktu lalu.

Bedaanya dengan para pendahulunya adalah usuhanya dalam menghadirkan kembali ajaran-ajaran Aristoteles (384-322 SM), serta usahanya dalam mengharmoniskan dua keilmuan antara agama dan filsafat atau wahyu dan akal menjadikan sosoknya tak perlu dipertanyakan apalagi hingga diragukan oleh para pemikir-pemikir belakangan. Maka, tak khayal dapat dikatakan Ibnu Rusyd menjadi filosof terbesar serta paling terkenal sepanjang sejarah intelektual Islam dalam tradisi filsafat Islam di wilayah Barat berkebangsaan Spanyol.

Ibnu Rusyd juga dikenal sebagai filosof spekulatif terbesar sepanjang sejarah intelektual di maghrib (Barat) dimana nasibnya sangat berbeda dengan berbagai julukan. Sebagian besar Barat juga mengenalnya sebagai komentator par exellence dari alam pemikiran filosof yunani kuno terutama Aristoteles. Melalui pemikiran dan gerakan averroisme ini Barat mengenal pemikiran Aristoteles.

Berkat Ibnu Rusyd ini pula, pemikiran-pemikiran Aristoteles disegarkan kembali. Meski begitu, Ibnu Rusyd tak terpengaruh pemikiran filosof Muslim Paripatetik al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan, mengkritik pendahulunya dengan berbagai jalan. Ibnu Rusyd mengkritik teori emanasi dan hubungan antara ruh dan intelekt aktif dalam pemikiran Ibnu Sina.

Di kalangan sarjana dan intelektual Barat, pemikiran-pemikiran dan karyanya Ibnu Rusyd menjadi pusat dan figur dengan sebutan nama Latin Averroes, serta dianggap sebagai simbol rasionalisme Islam. Dalam beberapa literatur disebutkan kalau karya-karya Ibnu Rusyd ini sampai diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di sekitar pada abad ke-14 Masehi.

Konon katanya, sejak pertengahan abad ke-14 Masehi di Barat mulai viral dengan gerakan Averroisme sebagai simbol rasionalisme dalam melawan doktrin irasional gereja. Viralnya gerakan Averroisme ini dilakukan oleh para kaum intelektual dan penyair melalui pamflet serta brosur. Salah satu penyair yang terkenal dari kelompok Louis Bavaria German bernama John Landun yang menjadi motor penggerak sekaligus pengikut gerakan averroisme.

Averroisme menjadi gerakan arus utama dalam sejarah intelektual di Barat. Dan, kenyataan ini memang banyak diakui oleh kalangan sarjana dan intelektual besar di Barat terhadap karya-karya Ibnu Rusyd bertahan tak hanya dalam bentuk bahasa Arab, akan tetapi juga dalam bentuk bahasa Iberani dan Latin.

Karenanya, gerakan averroisme bentuk suatu wujud ajaran sebagai averroisme Latin. Suatu anggapan yang sangat tak berlebihan kalau ditelisik rekam jejaknya yang terus berlanjut hingga periode modern seperti, yang sangat tampak kalau melihat karya Ernes Renan, seorang rasionalis klasik Prancis abad ke-XIX.

Ibnu Rusyd juga dikenal sebagai tokoh salah satu intelektual yang memiliki teori kebenaran ganda dalam mengharmoniskan antara agama dan filsafat, sehingga gelar sebagai simbol rasionalisme disematkan pada Ibnu Rusyd. pandangan Ibnu Rusyd tentang agama dan fislafat, tentu bukan tentang “kebenaran ganda”, akan tetapi lebih tepat dikatakan sebagai ta’wil dalam memahami tradisi filsafat Islam yang bersifat komprehensif.

Dengan demikian, bagi Ibnu Rusyd, agama dan filsafat atau akal dan wahyu tak terdapat kebenaran yang kontradiktif antara keduanya, yang ada hanyalah kebenaran tunggal yang bisa ada dan hadir dalam bentuk pemahaman tradisi keagamaan, dan melalui ta’wil ini kemudian menghasilkan pengetahuan filosofis.

Karenanya, bagi Ibnu Rusyd, agama adalah untuk setiap manusia, sementara filsafat hanya bagi orang-orang yang memiliki kemampuan-kemampuan intelektual yang memadai. Oleh sebab itu, kebenaran dapat dijumpai dan dijangkau pada suatu kelompok tertentu yang bertolak belakang dengan kelompok lain. Dalam kontek ini, prinsip ta’wil Ibnu Rusyd bisa menghadirkan keharmonisan antara agama dan filsafat atau wahyu dan akal.

Harmonisasi antara agama dan fislafat dalam pemikiran filsafat Ibnu Rusyd pada konteks yang lebih luas sebagai seorang filosof dan sebagai seorang Muslim yang saleh sebagai seorang yang pernah memiliki otoritas keagamaan dalam bidang syariah adalah untuk mengharmoniskan keyakinan dan nalar, dimana hal semacam ini sejak muncul filosof Muslim Paripatetik hingga muncul kritik al-Ghazali agak terkesampingkan dan sangat bertentangan.

Pengaruh pemikiran Ibnu Rusyd yang begitu tampak jelas dan bersinar terang hingga hari ini adalah membantu pada proses sekularisasi alam serta membantu landasan epistemik atas kebangkitan pengetahuan sekuler secara total pada tanan alamiyah bagi perkembangan pemikiran dan sains modern di Barat.

Kaum orientalis Barat boleh saja melontarkan klaim dan pernyataan kalau tradisi intelektual Islam sudah mati, seiring meninggalnya Ibnu Rusyd di Marrakesh di tahun 1198 M, yang diinisialisasikan sebagai simbol rasionalisme Islam, tetapi warisan pemikiran dan karya tak bisa mati. Jejak warisan intelektual yang ditinggalkan terus hidup sehingga sampai saat ini. Kalau kita mau misalnya dapat dilacak melalui karya-karya yang telah dan tetap dikaji.

Pada akhirnya, terkait masalah perkembangan dan kemandekan serta keredupan tradisi fislafat Islam itu sendiri di kalangan umat, kenyataannya filsafat islam telah memilih jalan lain. Filsafat Islam di wilayah lainnya mulai berkembang dengan membela dan mengadopsi, serta mengembangkan tradisi filsafat Ibnu Sina dan juga mengikuti filsafat Ibnu Rusyd.

Cahaya filsat Islam kembali pada cahaya Timur melalui filosof Persia seperti, Suhrawardi dan penerusnya. Mataharinya boleh saja tenggelam di Barat tapi besok matahari akan terbit kembali dari Timur. Gitu.