Islamsantun.org. Mungkin sudah bukan lagi menjadi rahasia umum di kalangan para peminat filsafat Islam, kalau umur dan nasib tradisi filsafat Islam di wilayah yang amat jauh dari dunia Islam khususnya Barat; tepatnya andalusia memiliki kehidupan yang sangat pendek. hal ini, bila dibandingkan dengan tradisi filsafat Islam di wilayah timur, apalagi persia yang hingga kini masih bertahan.

Banyak kalangan orientalis mengatakan, kalau umur dan nasib filsafat Islam di wilayah Barat berakhir, seiring dengan meninggalnya Ibnu Rusyd yang dianggap sebagai simbol rasionalisme di dunia Barat Islam. Tentu, memang harus akui demikian, bila dibandingkan dengan wilayah Timur dan Persia.

Namun yang pasti, meski memiliki umur dan nasib sangat pendek, tetapi jejak tradisi filsafat Islam di wilyah Barat, telah memberikan warna dan jejak yang tak kalah penting bagi peradaban Barat pada khususnya, baik Timur dan persia itu sendiri.

Sebenarnya, di wilayah Barat juga muncul filosof Muslim termashur yang juga pernah meninggal jejak tak terhapuskan pada tradisi filsafat Barat, dimana ini juga merupakan bagian terpenting dari tradisi filsafat Islam.

Sebagai contoh misalnya bagi peradaban Barat itu sendiri, di sekitar abad ke-14 Masehi, hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd di terjemahkan ke dalam bahasa latin.Dalam beberapa literatur disebutkan kalau Pangeran Fraderik II sampai turun tangan dan memberikan fasilitas khusus untuk menerjemah karya-karya Ibnu Rusyd yang berpusat di kota Toledo dan Palermo.

Hal semacam ini pernah hampir sama dengan apa yang pernah dilakukan harun al-rasyid ketika melakukan penerjemah buku-buku dari beragam bahasa asing seperti, India, Persia, Yunani, Latin, Suryani, dan Ibrani, ke dalam bahasa Arab.

Selain Ibnu Rusyd, ada filosof muslim awal di wilayah Barat ini, Ibnu Masarrah (w.319/931) namanya. Nama aslinya, Muhammad bin Abd Allah al-Jabali dan lebih banyak dikenal sebagai Ibnu Masarrah dikenal sebagai seorang batini, mistikus dan filosof sekaligus pendiri mesterius dalam ajaran Almeria; suatu kelompok yang terdiri dari beberapa inteleketual dari kalangan Cordova Sierra, dimana Ibnu Masarrah menjadi pemimpin sampai menutup ajal.

Nama dan pemikiran Ibnu Masarrah sendiri di kalangan mahasiswa jurusan filsafat Islam di Indonesia mungkin agak jarang sekali terdengar, apalagi sampai menjadi bahan diskusi diruang-ruang kelas. Hal ini bisa di maklumi, bisa jadi karena kurangnya literatur tentangnya, atau bisa juga karena pemikirannya tak begitu penting diajarkan.

Dan, harus diakui, memang agak sulit menemukan tulisan yang secara detail membahas pemikiran Ibnu Masarrah ini. Tulisan yang saya temui dan agak cukup detail membahas pemikiran Ibnu Masarrah ini hanya tulisan jurnal sarah stroumsa dan sara sviri berjudul “the Beginning on Mystical Philosophy in al-Andalus: Ibn Masarra and his Epistle on Contemplation”.

Saya sebut agak cukup detail karena, di sini sarah dan sara pajang lebar menulis autobiografi dan pemikiran Ibnu Masarrah yang dapat dikatakan cukup menarik. Sementara, Theology, Philosophy and Spirituality World Spirituality, tulisan Sayyed Hossein Nasr, hanya berupa ulasan sekilas tentang pemikiran Ibnu Masarrah.

Oleh karenanya, agak pantas nama Ibnu Masarrah kalah populer dengan filosof-filosof Barat Muslim seperti, Ibn Hazm, Abu Bakar Ibn Bajjah, Ibnu Tufayl dan Ibnu Rusyd, yang memang sudah jadi bahan daras untuk diskusikan.

Sepanjang hidup Ibnu Masarrah telah menghasilkan banyak karya-karya penting dalam bidang metafisika, akan tetapi sebagian besar karyanya hilang, dan hingga saat ini yang tersisa cuma dua buah karya yang masih bertahan seperti misalnya, Kitab al-Tabsirah yang berisi tentang penguraian kunci dari ajaran filsafat metafisika.

Dan, Kitab al-Huruf, karyanya ini terselamatkan dan disebar-luaskan oleh murid-muridnya. Karya yang berisi tentang hubungan dengan al-jabar dengan mistis. Kalau boleh dikata karya Ibnu Masarrah ini hampir sama dengan Nahwu al-Qulub karya al-Qusyairi.

Mungkin bedanya, al-Qusyairi memadukan dan menggabungkan dua unsur keilmuan, antara ilmu nahwu dan ilmu tasawuf menjadi satu kesatuan yang sangat utuh, sehingga menjadi nahwu yang bersifat sufistik.

Ajaran Ibnu Masarrah ini berpusat pada kosmologi, dimana ajarannya sering kali disebut sebagai Empedocles dan sering juga dirujuk sebagai Pseudo Empedoclean, cirinya pada esoterisme filsafat dan psikologi. Doktrin-doktrinnya lebih menekankan kesederhanaan absolut, dan wujud absolut tak tertuliskan, emanasi tingkat eksistensi, herarki ruh serta emanasinya dari ruh universal.

Kosmologi Ibnu Masarrah didasarkan pada teori emanasi anarkhis dari lima substansi seperti materia prima, Intelek, Ruh, Sifat, dan Materia Secunda. Materia prima dipandang sebagai zat yang dapat mengerti atau realitas pertama yang dapat dimengerti, tapi tak sama seperti materia prima kaum aristotelian. Materi prima berada dalam aktualitas dan emanasi pertama ilahi.

Pengaruh pemikiran Ibnu Masarrah sendiri banyak ditemukan pada kalangan sufi berkebangsaan andalusia, mulai dari ibn al-Arif dan Ibn Bajjaran sampai ada yang mengatakan hingga Ibn Arabi serta filosof-filosof Muslim belakangan seperti Mulla Sadra dan juga filosof-filosof Yahudi seperti Solomon ben Gabirol.

Banyak juga yang melihat kalau pemikiran dan ajaran Empedocles Ibnu Masarrah ini dianggap sebagai filosof pertama dan terbesar setelah yunani yang diikuti tokoh besar seperti, Pythagoras, Socrates, Plato dan Aristoteles. Bahkan ada yang menyamakan seperti nabi yang menerima ajaran langsung dari tuhan.

Ibnu Masarrah sendiri menyebut ajaran empedoclean yang diperkenalkan sebagai energi kosmik tentang cinta dan perpecahan, dimana tafsir dan interpretasinya sangat berbeda jauh dengan dengan ajaran-ajaran Aristotelian maupun neo-Platonis dan belakangan kalau tak salah dielaborasi kembali oleh sufi besar Ibn Arabi dengan sebutan materi spiritual.