“Seorang maharaja berkuasa penuh atas rakyatnya. Ia ibarat manusia utama yang mewarisi sifat-sifat Ilahiyah, dan karenanya ia digerakkan oleh kehendak akan kebenaran (the will to truth). Maharaja itu menjelmakan yang salah jadi benar, yang bengkok menjadi lurus. Tentu, ia berkuasa melakukan sebaliknya. Bayangkan, sang maharaja adalah jiwa manusia. Sang jiwa mengendalikan segala kehendak ragawi. Itulah jiwa yang merdeka dan terbebas dari segala bentuk keterjajahan. Jiwa yang mengubah hasrat kebinatangan menjadi kemalaikatan. Inilah jiwa yang mengendalikan jagad ruhaniyah karena mengenali segenap hasrat inderawi. Sama seperti maharaja yang mengenali rakyatnya” (Prof. Dr. Maftukhin, M. Ag, Rektor IAIN Tulungagung).

Dalam salah-satu karya agungnya, Matsnawi-i Ma’nawi, Jalaluddin Rumi sering menyebut raja dalam berbagai tekanan pesan yang hendak disampaikannya. Beberapa di antarnya sekadar contoh: “Raja yang Mencintai Gadis Hamba Sahaya”, “Raja Berpaling kepada Tuhan”, “Pertemuan Raja dan Tabib yang Datang dalam Mimpi”, “Kisah Raja Yahudi yang Membunuh Orang-orang Nasrani”, dan “Raja Yahudi Mencemooh dan Mengingkari Nasihat Kawan Karibnya”. Seperti kita tahu, karya-karya Rumi memang sarat dengan nasihat-nasihat “bertenaga” pembimbing arah jiwa. Menariknya, nasihat-nasihat pembangun dan pengarah jiwa dari Rumi itu disampaikannya dengan nada yang tidak menggurui. Kisah menjadi sarana yang dipilihnya guna menyampaikan banyak nasihat padat makna tanpa kesan menggurui.

Seperti Rumi yang sering mengangkat sosok raja dalam sejumlah kisah bermuatan pesan kaya makna tentang jiwa, kali ini Pak Rektor juga menjadikan sosok yang sama untuk menggambarkan jiwa yang merdeka; jiwa yang terbebas dari aneka keterjajahan. Di “syarah” saya untuk quote kedua Pak Rektor sebelum ini, saya juga banyak mengutip penjelasan Rumi tentang pergulatan antara jiwa versus raga; antara akal versus nafsu.

Quote Pak Rektor kali ini masih segaris-senafas dengan quote beliau sebelumnya. Jika pada quote sebelumnya Pak Rektor menggambarkan diri manusia yang dikuasai kekuatan ragawi di mana nafsu menjadi daya penggeraknya, kali ini beliau menggambarkan diri manusia yang dirajai oleh jiwa yang bebas-merdeka di mana akal menjadi panglimanya. Jika kekuasaan ragawi-inderawi atas diri manusia ibarat kekuasaan destruktif yang banal lagi buas, maka kekuasaan jiwa-‘aqlani atas diri manusia ibarat kekuasaan konstruktif yang lembut, penuh kasih dan teramat bijak.

Bagaimana kekuasaan jiwa-‘aqlani tidak demikian, sedang ia adalah keutamaan yang, seperti kata Pak Rektor, “mewarisi sifat-sifat Ilahiyah, dan karenanya ia digerakkan oleh kehendak akan kebenaran (the will to truth).” Seumpama maharaja, jiwa yang bebas merdeka dari belenggu raga memiliki kekuasaan dan kekuatan penuh atas segenap anggota jasadiyah yang ada di bawah kendalinya. Ia punya kekuasaan dan kekuatan untuk mengarahkan mereka yang berada di jalan yang salah ke jalan yang benar, membawa mereka yang berada di ruas jalur yang bengkok ke ruas jalur yang lurus. Sekali lagi, hanya jiwa yang bebas merdeka dari segala bentuk keterjajahan yang memiliki kekuasaan penuh dan kewenangan mutlak untuk melakukan perubahan dan perbaikan itu.

Telah dikatakan bahwa kekuatan ragawi-inderawi-nafsani adalah bersifat destruktif, banal dan liar, sedang kekuatan jiwa-‘aqlani bersifat konstruktif. Maka, ketika jiwa yang dipandu akal di bawah sinaran Ilahiyah berkuasa, alih-alih ia memberangus raga dengan segala hembusan nafsu hewaniyah di dalamnya, ia justru datang mendekati raga dengan senyum dan pelukan, meski cemeti juga dibawanya untuk digunakan sesekali saat diperlukan. Ini yang saya maksud dalam “syarah” sebelumnya, bahwa jiwa datang menyapa raga untuk “mendidik dan menghaluskannya lalu mengarahkannya ke jalan yang dikehendaki-Nya.” Dalam ungkapan Pak Rektor, jiwa yang bebas merdeka berkuasa atas raga untuk “mengubah hasrat kebinatangan menjadi kemalaikatan.”

“Syarah” ini saya tutup dengan puisi Rumi dalam Diwan:

Wahai raja yang dipenuhi kebenaran
pernahkah engkau melihat seorang munafik yang lebih buruk dariku?
Dengan mereka yang hidup untukmu aku hidup
dengan mereka yang akan mati kepadamu aku mati”