‎“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang ‎apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila ‎dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka ‎‎(karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-‎orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari ‎rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang ‎beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh ‎beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki ‎‎(nikmat) yang mulia.” (Q.S. Al-Anfal: 2-4)‎

Dalam rangkaian ayat di atas, Allah Swt. menyebutkan beberapa ciri ‎khas yang menunjukkan keimanan seseorang. Ada lima hal yang menjadi ciri ‎khas seorang mukmin menurut Q.S. Al-Anfal ayat 2-4 di atas:‎

Pertama, bergetar hatinya ketika disebut nama Allah. Kedekatan ‎emosional antara seorang mukmin dengan Allah laksana kedekatan seorang ‎pencinta dengan kekasihnya. Ketika nama sang kekasih disebut, maka hatinya ‎bergetar, jantungnya berdegup kencang, perasaannya diliputi suka cita. Ada ‎rasa bahagia yang menjalar ke seluruh tubuh yang tak bisa dilukiskan dengan ‎kata-kata. Inilah gambaran kondisi seorang mukmin ketika mendengar nama ‎Allah yang agung nan mulia.‎

Kedua, bertambah imannya ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Seorang ‎mukmin sejati adalah mereka yang ketika mendengar ayat-ayat Allah ‎dilantunkan, iman di dalam hatinya semakin meningkat, keyakinannya ‎semakin mantap, serta pendiriannya semakin kuat. ‎

Maksud ayat ini, sebagaimana dijelaskan oleh Abdurrahman As-Sa’di ‎dalam kitab tafsirnya, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan ‎adalah bahwa seorang mukmin, ketika dibacakan ayat-ayat al-Qur’an akan ‎memperhatikan dengan seksama, menghadirkan hatinya untuk mentadaburi ‎maknanya, mengingat kealpaannya dan berjanji dalam dirinya untuk selalu ‎berbuat baik (amal shalih), maka pada saat itulah ia bertambah imannya. ‎Inilah hakekat dari bertambahnya keimanan karena ayat-ayat Allah. ‎

Ketiga, berserah diri (tawakkal) hanya kepada Allah. Kita semua sadar ‎bahwa kita memiliki keterbatasan, kekurangan dan kelemahan. Betapa pun ‎matangnya rencana yang telah kita susun, betapa pun hebatnya cita-cita yang ‎telah kita tanamkan ke dalam sanubari kita yang paling dalam, semua itu tidak ‎akan berarti apa-apa tanpa izin Allah. ‎

Rencana yang matang, cita-cita yang hebat, tanpa disertai dengan ‎kepasarahan diri kepada Allah hanya akan berakhir dengan kekecewaan. ‎Tugas kita adalah, setelah merencanakan sesuatu dengan matang, ‎dimantapkan dengan ikhtiar yang maksimal deisertai doa yang tak kenal lelah, ‎dan diakhiri dengan tawakkal, menyerahkan sepenuhnya hasil usaha kita ‎hanya kepada Allah. ‎

Kita harus yakin bahwa keputusan yang Allah berikan nanti adalah ‎yang terbaik buat kita. Inilah ciri khas seorang mukmin selanjutnya, selalu ‎menyerhkan diri sepenuhnya kepada Allah setelah sebelumnya ‎memaksimalkan ikhtiar.‎

Keempat, mendirikan Salat. Al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan ‎bahwa maksud dari mendirikan salat pada ayat ini adalah melaksanakan salat ‎baik secara lahir maupun batin. Secara lahir, yakni dengan memenuhi syarat ‎dan rukun salat, melaksanakannya dengan penuh khusyu dari awal hingga ‎akhir shalat. Adapun secara batin maknanya adalah ada dampak positif dari ‎ibadah salat yang dilakukan, yakni mampu mencegah seseorang dari ‎perbuatan keji dan munkar.‎

Dengan demikian, ibadah salat yang dilakukan seorang mukmin tidak ‎sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi memberi makna yang sangat dalam, ‎yakni mampu memberi pengaruh positif dalam kehidupan sehari-hari yang ‎dijalaninya.‎

Kelima, membiasakan sedekah. Ciri khas seorang mukmin sejati ‎lainnya, yang termaktub dalam Dalam Q.S. Al-Anfal ayat 3 tersebut adalah ‎kebiasaannya untuk menyalurkan sebagian rezeki yang dimilikinya di jalan ‎Allah. Kebiasaan berinfak untuk kepentingan agama dan sosial menjadi ciri ‎khas seorang mukmin sejati. Berbagi kebahagiaan dengan orang lain, berupa ‎memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan, seperti fakir miskin serta ‎anak-anak yatim adalah salah satu sikap mulia seorang mukmin sejati.‎

Demikianlah gambaran al-Qur’an tentang karakter orang-orang ‎mukmin, yang disebut oleh beberapa ayat pembuka surat Al-Anfal . Karakter ‎orang-orang mukmin lainnya dijelaskan dalam sejumlah ayat lainnya di dalam ‎al-Qur’an.‎

‎* Ruang Inspirasi, Senin, 10 Mei 2021 / 28 Ramadan 1442 H.‎