“Kebenaran cenderung ada di luar diri (self in its self), maka carilah. Sementara kesalahan cenderung berada di dalam diri, maka introspeksilah. Bila seseorang mampu berpikir dan bertindak demikian, ia akan terbebaskan, merdeka dalam kebahagiaan. Jika sebaliknya, maka seseorang akan selamanya dalam belenggu kesombongan dan kekerdilannya sendiri. Merasa menjadi paling benar hanya akan menjadikan seseorang teralienasi dari sifat aslinya sebagai makhluk sosial. Pada saat bersamaan ia menjadi individu intoleran. Pada akhirnya, kebenaran dan kesalahan adalah dua sisi dari satu keping mata uang, dan selamanya akan secara dinamis mewarnai pikiran dan tindakan setiap individu manusia sebagai makhluk sosial. Wallahu Al’am” (Prof. Dr. Maftukhin, M. Ag, Rektor IAIN Tulungagung).

Banyak dari kita—atau jangan-jangan kebanyakannya—merasa paling benar atau bahkan satu-satunya yang benar ketika berhadapan dengan orang lain tentang satu perkara yang diperselisihkan. Merasa benar dengan satu pendapat, saya kira wajar belaka. Seseorang yang merasa dirinya benar justru menunjukkan bahwa ia yakin dengan kekuatan pondasi yang ia pancangkan dalam membangun argumen. Yang menjadi masalah, seperti telah disinggung, merasa diri paling benar atau bahkan satu-satunya yang benar. Sikap yang harus diambil siapa pun dalam hal ini adalah: meyakini kebenaran diri seraya menyediakan ruang yang cukup bagi kebenaran-kebenaran versi lain dari luar dirinya.

Sikap lain yang harus diambil adalah membuka kemungkingkan bahwa sebuah perkara bisa saja memiliki “wajah” kebenaran yang tidak tunggal. Apa yang kita yakini sebagai kebenaran tentang perkara tersebut bisa jadi hanya salah-satu “wajah” dari banyak “wajah” kebenaran yang dimiliki perkara itu. Dalam hal ini, tidak tertutup kemungkinan mereka yang kita sangka berbeda pendapat sesungguhnya hanya berbeda dalam memandang “wajah” kebenaran; “wajah” yang mereka pandang beda dengan “wajah” yang kita lihat.

Selain soal kemungkinan adanya “multi wajah” kebenaran pada sebuah persoalan, kemungkinan lain menyangkut hal ini adalah adanya keragaman sudut-pandang. Satu hal yang sama, bila dipandang oleh lebih dari seorang dari sudut yang berbeda sangat mungkin melahirkan versi kebenaran yang berbeda. Perbedaan versi kebenaran itu tidak dengan sendirinya saling bertentangan atau menegasikan satu sama lain. Justru, bila dicermati secara lebih saksama, bisa jadi satu sama lain saling melengkapi, mengingat kebenaran-kebenaran itu lahir dari orang-orang yang berdiri di sudut yang berbeda-beda.

Selain merasa benar sendiri, atau bahkan satu-satunya yang benar, kelemahan lain banyak dari kita adalah keengganan menengok keluar diri sendiri saat merasa yakin dirinya berada dalam kebenaran. Memang tidak keliru jika seseorang yakin dirinya mampu mencari dan menggali kebenaran dengan bertopang pada diri sendiri. Hanya saja itu seharusnya diambil sembari tetap membuka diri terhadap apa dan siapa pun di luar dirinya.

Memutlakan kebenaran hanya versi diri sendiri, itu sebuah kesalahan. Memutlakan diri sendiri sebagai satu-satunya kekuatan yang mampu menemukan kebenaran, itu juga sebuah kesalahan. Memutlakan kebenaran versi diri sendiri dan memutlakan diri sendiri, alih-alih membesarkan seseorang, justru, seperti kata Pak Rektor, menjadikan “seseorang akan selamanya dalam belenggu kesombongan dan kekerdilannya sendiri.” Al-Qur`an antara lain menyebut Fir’aun dan Namrud yang mati dalam kehinaan akibat kesombongan. Fira’un dan Namrud hanya dua contoh untuk banyak contoh lainnya yang mati dalam kehinaan akibat kesombongan.

Selain melahirkan kehinaan dan kekerdilan diri, Pak Rektor juga menunjuk akibat buruk lainnya dari kesombongan, yaitu: “Menjadikan seseorang teralienasi dari sifat aslinya sebagai makhluk sosial. Pada saat bersamaan ia menjadi individu intoleran.” Jadi, alurnya seperti ini: merasa benar sendiri menjadikan seseorang sombong.

Kesombongan membuat seseorang mengasingkan diri dari sesamanya. Mengasingkan diri sejatinya melawan kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Pada akhirnya, mengalienasi diri dari pergaulan sosial melahirkan individu yang intoleran. Dengan demikian, jika kita melihat seorang intoleran beserta sifat-sifat turunannya, bisa dipastikan orang itu selalu merasa benar sendiri dan cenderung menarik diri dari pergaulan sosial selain kelompoknya sendiri.

Orang-orang intoleran bukannya tidak berpegang pada kebenaran. Tentu saja, mereka memedomani kebenaran. Hanya saja, mereka memutlakan kebenaran yang dipedomaninya dan memutlakan diri dan kelompoknya sebagai satu-satunya penggenggam keberaran. Kebenaran yang seperti itu adalah kebenaran yang mengerdilkan dan membelenggu, bukan kebenaran yang meluhurkan dan memerdekakan!