“Kemuliaan, keagungan dan kehormatan, adalah bagian terpenting bagi sebagian besar manusia. Untuk mencapainya, seseorang akan berusaha dengan berbagai cara, tergantung persepsinya. Jika kemuliaan, keagungan dan kehormatan adalah materi, maka diukur oleh seberapa besar kekayaannya, seberapa tinggi kekuasaannya. Di sinilah perebutan, konflik, bahkan perang antar manusia yang terjadi. Jika semuanya adalah tata nilai, moralitas, maka untuk memperolehnya dengan kasih sayang, penuh kebijkasanaan dan merangkai nilai-nilai kemanusiaan” (Prof. Dr. Maftukhin, M. Ag, Rektor IAIN Tulungagung).

Imam al-Syafii, selain dikenal sebagai pendiri mazhab fikih, beliau juga penulis banyak bait syair indah padat makna sarat hikmah. Di antara syairnya yang relevan dengan quote Pak Rektor kali ini berbunyi: من طلب العلا سهر الليالي (orang yang mendambakan ketinggian harus banyak terjaga malam). Tak keliru rasanya jika dikatakan bahwa pada umumnya manusia menginginkan kehormatan, tentu dalam takaran dan lingkupnya masing-masing. Kata “ketinggian” pada syair Imam al-Syafii mengacu pada apa yang dikatakan Pak Rektor sebagai “kemuliaan, keagungan dan kehormatan”. Sedangkan “terjaga malam” pada syair Imam al-Syafii adalah pengibaratan dari berbagai cara yang ditempuh manusia dalam menggapai apa yang mereka anggap sebagai kemuliaan, keagungan dan kehormatan.

Meski secara umum manusia mengejar kemuliaan, keagungan dan kehormatan, pada kenyataannya mereka berbeda dalam merumuskan kemuliaan, keagungan dan kehormatan. Ada kelompok manusia yang memandang kemuliaan, keagungan dan kehormatan itu bersifat materi. Bagi kelompok ini, wujud konkret dari kemuliaan, keagungan dan kehormatan adalah melimpahnya kekayaan dan tingginya kekuasaan. Sementara itu, ada pula kelompok manusia yang berpandangan bahwa kemuliaan, keagungan dan kehormatan itu bersifat non-materi melainkan berupa tata nilai dan moralitas. Bagi kelompok yang ini, wujud nyata dari kemuliaan, keagungan dan kehormatan adalah keanggunan perilaku dan keelokan sikap.

Perbedaan pandangan antara dua kelompok itu sudah barang tentu melahirkan cara yang berbeda pula satu sama lainnya dalam meraih apa yang mereka tunjuk sebagai kemuliaan, keagungan dan kehormatan. Cara yang ditempuh oleh kelompok yang menganggap kemuliaan, keagungan dan kehormatan itu bersifat materi adalah cara-cara fisik, kasar bahkan barbar berupa perebutan, konflik, bahkan perang. Sedang cara yang ditempuh oleh kelompok yang menganggap kemuliaan, keagungan dan kehormatan itu bersifat non-materi adalah cara-cara yang halus, lembut, dan beradab berupa pengembangan kasih-sayang di antara sesama anggota kelompoknya.

Renungan Pak Rektor kali ini terkait cukup erat juga dengan renungan sebelumnya yang memetakan pribadi manusia menjadi dua bagian: jasad-materil yang dikuasai hawa nafsu, dan jiwa yang dikendalikan akal-budi. Pada setiap diri manusia terdapat pergulatan antara nafsu versus akal. Ke mana orientasi seseorang dalam mengejar kemuliaan, keagungan dan kehormatan ditentukan oleh apa yang memegang kendali dalam dirinya. Jika nafsu-ragawi-inderawi-hewani yang berkuasa, maka kemuliaan, keagungan dan kehormatan materi-lah yang akan mereka kejar. Jika akal-ruhani-‘aqlani yang berkuasa, maka kemuliaan, keagungan dan kehormatan non-materi-lah yang akan mereka perjuangkan.

Sebagai agama yang mengembangkan prinsip tawassuth (jalan tengah) dan tawazun (keseimbangan), Islam sesungguhnya tidak memusuhi raga dengan dorongan-dorongan nafsaniyahnya. Islam hanya ingin mengendalikan dan mengarahkannya ke jalur yang diinginkan Sang Pencipta. Dalam hal ini, Islam tidak mengharamkan capaian-capaian materil bagi para pemeluknya. Orang Islam tidak diharamkan menjadi kaya. Orang Islam tidak dilarang menggenggam kekuasaan. Orang Islam tidak dicegah memiliki jabatan penting yang menjadikannya terpandang di mata publik.

Hanya saja Islam menerapkan “protokol” yang tegas dan jelas menyangkut capaian-capaian materil yang oleh sebagaian orang dipandang sebagai puncak kemuliaan, keagungan dan kehormatan itu. Pertama, capaian-capaian itu tidak boleh dijadikan orientasi tertinggi dalam daftar prestasi yang ingin diraih dalam hidup.

Orientasi utama dan pertama yang harus diperjuangkan dan dijadikan sebagai capaian tertinggi dan terluhur adalah kemuliaan, keagungan dan kehormatan non-materi berupa terpancangnya tata nilai dan tegaknya moralitas yang berwujud dalam bentuk keanggunan perilaku dan keelokan sikap. Kedua, harta boleh didapat, kekuasaan boleh diraih, popularitas boleh digenggam, hanya saja semua itu tidak boleh direngkuh dengan menghalalkan segala cara. Semua harus direngkuh dengan cara yang benar dan beradab. Ketiga, setelah kekayaan, kekuasaan dan kemasyhuran didapat dengan cara yang benar, semuanya harus melahirkan kemaslahatan bagi khalayak luas.