Jika ditanya tokoh yang tetap mempunyai idealisme kekhittahan NU dan kebangsaan seperti KHR. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo dan K. Hasyim Asy’ari, Jombang, salah satunya Kiai Ahmad Muzammil. Selain kakak Gus Dur, Gus Solah, kiai Muzammil menjalani dan mewartakan apa itu khittah NU dalam hari-harinya.

Kiai Muzammil tak (mau) bergeser dari perjuangan keputusan mengerikan bernama “khittah NU” yang dipatok palu dan kemudian dibacakan salawat di Situbondo itu. Yang sangat dititipkan betul oleh gurunya, KHR. As’ad Syamsul Arifin.

Kiai Muzammil setelah lama nyantri di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukarejo, Situbondo, dan Ma’had Aly Situbondo, tak lama ia pindah ke Yogyakarta. Jalan berliku ia tempuh. Pasang surut dalam kehidupannya menemui pilihan telak: Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di Yogya, kiai Muzammil terlihat begitu enjoy menjalani kehidupannya. Di matanya, terlihat punya sinar pilihan bagaimana dan apa yang mau diperbuat. Mendirikan pondok pilihan utamanya. Pondok Pesantren Rohmatul Umam berdiri di Tegalsari Donotirto, Kretek Bantul Yogyakarta. Bersama kerabatnya beliau membangun pondok tradisional sederhana yang menekankan pada ikhtiar pendidikan interaktif dan konstan dengan memadukan tradisi spiritual dan keintelektualan.

Seperti pondok legendaris para Sunan, dan sesepuh NU, di mana pondok dibuat dari hasil babat alas dan didirikan oleh bahan kayu sederhana untuk menjadi sempurna. Dikelola dari kecil hingga akhirnya menyulut kepercayaan banyak pihak: berbuah bibit unggul menebar manfaat. Berdiri sebuah pondok bukan hasil dari proposal yang disodorkan kepada “siapa”. Mungkin tetesan KHR. As’ad Syamsul Arifin, yang masih menancap dalam dadanya.

Bahwa semasa Orda Baru KHR. As’ad Syamsul Arifin, pernah didatangi oleh Soeharto untuk diberikan bantuan berupa uang untuk kepentingan pondoknya. Uang ditolak, berganti dengan imingan alat-alat. Ditolak lagi, berganti dengan yang lain dan seterusnya sampai Soeharto kapok dan marah. Tapi begitulah, KHR. As’ad Syamsul Arifin tak mau disogok lewat bantuan untuk pondoknya yang tak lebih dari sekadar cukup. Dan kemungkinan besar, kiai Muzammil meniru apa yang menjadi titah atau lalampan gurunya itu.

Baginya, mungkin tak semua harus diselesaikan lewat proposal. Pondok mesti dibangun dengan tetesan keikhlasan yang sebenarnya.

Kiai Muzammil dekat dengan para tokoh agama dan seniman di Yogya dan Jawa. Selain dekat dengan Gus Mus, beliau dekat dengan Cak Nun (Maiyah dan Kiai Kanjeng). Setiap tanggal 17, kiai Muzammil pasti selalu hadir untuk Sinau Bareng. Berbagi pengalaman dari literatur kitab dan Al-Qurannya.

Sinau bareng bagi kiai Muzammil adalah pilihan yang tepat. Seseorang harus sinau bareng untuk mengerti suatu hal. “Keaslian” manusia tak berbeda dan tak ada yang lebih canggih dan lebih pintar. Semuanya nyaris sama. Jika tahu di bidang ini belum tentu tahu di bidang yang itu. Maka jika dijalani dengan sinau bareng bertemulah ini dan itu tersebut.

Tepatlah cara terbaik dalam merumuskan hidup ini ialah sinau bareng. Keilmuan manusia terbatas. Menurut kiai Muzammil, Gusti Allah sendiri sebagai pencipta telah menegaskan “kalian saya kasih ilmu sedikit saja” (wamaa utiitum minal ilmi illa qaliila). Tapi seringnya manusia merasa sangat tahu bahkan paling tahu. Hingga akhirnya muncullah klaim kebenaran sepihak. Dari situlah lahir kontestasi yang memperebutkan kebenaran di atas kebenaran dan berwujud permusuhan.

Bagi kiai Muzammil, umat babak belur karena pertengkaran-pertengkaran edan tersebut. Kendati, langkah terbaik menurutnya, kita harus melakukan sinau bareng saja. Semuanya menempatkan diri sebagai penyinau atau pembelajar, bukan pengajar. Semua teman belajar, sesama penyinau. Syekh, Abuya, Habib, Kiai, Gus, Lora, Bindhara, dan siapapun saja, sebenarnya penyinau. Dari paradigma tersebut, setiap kiai Muzammil, mengisi acara di mana saja, bukanlah pengajian dari beliau. Tapi itu ajakan sinau bareng dengan pemantik literatur yang sudah ada dan dikontekstualisasikan dengan kebutuhan atau keaadan.

Di tangan hangatnya, kiai Muzammil progresif menyuarakan keadaan atau politik kebangsaan. Beliau tak mau menghadapi satu jalan panjang, tanpa pilihan, yang macet di meja dan kitab kuning yang pingsan. Keserakahan, ketidakadilan, dan ketertinggalan tak boleh pestapora dan termangu di bawah dewi keadilan dan dewi kesenian.

Dunia harus disingkap. Kita harus ambil bagian.

Pada 2013, pada saat Munas Alim Ulama NU di Cikampek Crebon bertema Kembali ke Khittah Indonesia 1945: waktu itu Rais Amnya KH. Sahal Mahfudh dan Gus Mus sebagai Wakilnya, kiai Muzammil bersama PCNU Kabupaten Bantul Yogyakarta, menyuarakan bengkaknya hutang negara, dan tingginya korupsi stadium 5 di Indonesia. Sebagai ketua Bahtsul Masail PCNU Bantul Yogyakarta, beliau mengajukan usulan tersebut untuk dijadikan bahasan utama. Diterimalah dan gemparlah media ketika ketua PBNU menyampaikan ultimatum agar pemerintah memperbaiki penerimaan dan pengelolaan keuangan negara.

Kini KPK lemah bahkan dilemahkan. Belum tatanan KPK membaik, datanglah kabar mengejutkan: pada Kamis pagi, 27 Mei 2021. Jamaah Maiyah mengabarkan: “اِنّالِلّهِ وَاِنّااِلَيْهِ رَاِجِعُوْنَ. Jamaah Maiyah, warga Pesantren Rohmatul Umam beserta Keluarga yang mengasuhnya, kaum Muslimin Madura dan kita semua didawuhi Allah Swt untuk mengikhlaskan Kiai kita semua KH Ahmad Muzammil dipanggil kembali ke rumah sejatinya di keharibaan-Nya, pada hari Kamis, 27 Mei 2021, pukul 02.44 WIB. InsyaAllah Bu Nyai Muzzammil dan keluarga yang ditinggalkan dilimpahi keikhlasan, ketabahan, dan kekuatan untuk meneruskan perjuangan beliau.”

Kiai Muzammil wafat bersamaan wafatnya KPK. Semoga kiai Muzammil diampuni dosanya dan diangkat derajatnya. Penulis ingat betul, sejak 2014, kiai Muzammil sering berkirim pesan lewat Fb, mengabarkan Maiyah manggung di mana, sekaligus mengirimkan tulisan-tulisan dari tema penggelarannya. Lahul Al-Fatikhah.