“Kang Syaroni itu…” almarhum abah memulai cerita di suatu pagi, di ruang tamu, sewaktu saya ngelalar Alquran, “…seluruh hidupnya dihabiskan untuk Alquran. Makanya, abah pingin di antara kalian ada yang jadi penghafal Alquran.”

Saya terdiam, karena tidak tahu kudu saya respons seperti apa.

“Tapi menghafal Alquran itu fadol dari Allah, kadang-kadang tidak bisa sekadar modal ikhtiar.”

Saya pun lega.

Menurut cerita abah, setelah beliau boyong dari Pati (ngaji dengan Mbah Dolah Salam), beliau melanjutkan ngaji ke Kudus dengan Mbah Arwani Amin. Bahkan ijazah thariqah abah dari Mbah Arwani semua. Dan di sanalah abah bertemu seorang alim bernama Kiai Syaroni Ahmadi.

“Setoran Alfatihah (tahsin?) dengan Mbah Wan (baca: Mbah Arwani Amin) itu jarang yang lulus di bawah sebulan. Bahkan ada yang setahun baru pindah surat lain. Kang Syaroni itu, menurut yang aku dengar, adalah sedikit santri yang mampu melewatinya hanya dalam waktu tujuh hari.”

Saya makin menyimak kenangan abah tentang orang alim yang menguasai qiro’ah sab’ah ini.

“Nah, kebetulan Abah cukup tiga hari saja.”

Saya tersenyum. Abah juga tersenyum.

“Sebab sebelumnya abah sudah digembleng sama Mbah Dolah.”

Gambaran saya tentang bagaimana “gemblengan” Mbah Dolah dalam mengajar Alquran cukup saya wakili dengan Abah. Harus saya akui ketika abah mengajar Alquran (bin-nazar) itu galaknya bukan main. Saya sendiri merasa jadi orang lain sewaktu berhadap-hadapan (talaqi) membaca Alquran di depan Abah. Seperti bukan mengajari anaknya sendiri.

Berkahnya, ketika mondok di Kudus dan teman-teman segothak’an pondok saya menghabiskan berbulan-bulan (bahkan setahun lebih) hanya untuk Alfatihah, kebetulan saya hanya membutuhkan tujuh hari saja.

Sewaktu kakak menikah, Kiai Syaroni diminta abah untuk mengisi mauizah hasanah. Dalam ceramah, beliau berkelakar:

“Kehadiran saya di sini memakai jas yang rapi begini tuh demi menghormati Kang Masrur. Di samping teman saya di Kudus, sekarang Kang Masrur sudah jadi juragan emas. Ya kiai, ya sugih. Masak pakai baju biasa? Gak sopan, doooong?!”

Seluruh hadirin dibuat tertawa seketika. Lazim bagi kiai-kiai NU bikin gojlokan di majelis-majelis seperti ini.

Saya tidak punya banyak kenangan dengan Kiai Syaroni kecuali pada acara tersebut, dan masyayikh pinarak di rumah.

“Ini anak lanangku paling kecil, Kang. Lagi mondok di Kudus. Minta barokah sampean, biar ke-futuh.” demikian abah mendorong saya ke Kiai Syaroni, memperkenalkan saya.

Setelah salim wolak-walik, bekas minuman Kiai Syaroni disodorkan abah untuk saya habiskan.

Ngaji sing tekun, ya, Cung. Gak usah ngalim-ngalim, sing penting manfaat. Kayak abahmu ini, lho. Gak terobsesi punya ilmu banyak sing mutafannin, tapi sing penting manfaat. Man tabahhara ilman wahidan tabahhara sa`iral ‘ulum.”

Itulah satu-satunya kenangan yang saya miliki dengan Kiai Syaroni.

Sugeng tindhak, Yai.
Wainna insya Allah bikum lahiqun~