Artikel ini akan menguraikan hubungan keimanan dan kesahelahan sosial. Keimanan menjadi modal dasar dalam kehidupan dunia dan akhirat, keimanan menjadi sendi kehidupan, keimanan menjadi dasar spiritual. Keshalehan social merupakan buah dari keimanan seseorang yang berdampak kesejahteraan dan keadilan sosial. Belum baik iman seseorang bila masih ada tetangga sekitar yang kekurangan, kelaparan, kemiskinan. Etos kesukalarelaan, kedermawanan, kepeduliaan, filantropi menjadi kunci harmoni social dalam semua level masyarakat.

Islam itu indah, Islam itu damai, Islam itu kesejahteraan, Islam itu kemakmuran, Islam itu berbagi, Islam itu tolong menolong, Islam itu kemajuan dan keunggulan. Islam dalam nash Alquran dan Hadis sangat indah, sumber ideal perilaku kehidupan manusia.

Namun dalam praktiknya masih ada kesenjangan antara idealita yang seharusnya dengan apa yang senyatanya terjadi masih jauh dari panggang dengan apinya. Oleh karena itu nilai-nilai normatif ajaran Islam itu yang indah, sejahtera, makmur dan damai, harus dengan sekuat tenaga diwujudkan dalam realitas kehidupan pemeluknya yang nyata saat ini dan yang akan datang, sebagai tugas dakwah setiap diri muslim berkewajiban membuktikan ajaran Islam yang tangguh menghadapi aneka masalah sosial kehidupan manusia.

Sistem nilai yang ditawarkan Islam dapat menjadi satu pijakan untuk menentukan arah kemana horizon harus melangkah, sekalipun masih banyak yang tidak bisa “tertangkap” secara jelas semua pesan-pesan tersebut. Sebagai keseluruhan pesan, Islam sangat memperhatikan kesungguhan, kontinuitas dalam beramal shalih. Dari sini dapat pula dipahami bahwa komitmen social, solidaritas social dalam bahasa populernya menjadi perhatian pokok utama (Zuly Qodir, 2002: 131).

Setting Masalah

Gerakan social interprenuership terus bergerak menjadi etos kerelawanan, kesukarelawanan, kepedulian, filantropi. Orang yang telah terjun ke dunia kerelawanan merasakan hati dan pikirannya menjadi tenang, dampak social yang dirasakan menjadi etos social yang tinggi. Merasakan hati dan pikiran tenang dan penuh kebermaknaan hidup karena bisa membantu mereka yang membutuhkan.

Merasa bahagia ketika orang yang dibantu berbahagia, terbantu oleh uluran tangannya, sekalipun bantuan tersebut terlihat sepele, sederhana dan mudah dilakukan banyak orang. Betul-betul merasakan kekuatan power of giving merasuk dalam sanubari dan jiwa raganya. Merasakan kebermaknaan hidup dalam keberadaannya. Asset yang dimiliki sangat berarti bagi yang membutuhkan bantuan.

Belum lagi doa-doa yang dipanjatkan oleh mereka yang terbantu begitu ikhlas tulus memohon kebahagiaan dan kesejahteraan lebih bangi yang telah berbagi dengannya. Sungguh harmoni kehidupan yang indah saling membantu, yang bekecukupan berbagi dengan yang kekurangan, sehingga terjadi sharing keduanya, mendapat manfaat ketenangan jiwa, kesehatan jasmani dan rohani yang prima dan produktivitas hidup yang lebih baik.

Keimanan

Iman menjadi landasan perilaku baik dalam konteks hubungan vertikal (hablum minallah. Keimanan secara vertical kepada Allah, namun dampak keimanan bersifat horizontal sesama manusia.  Hikmahnya adalah membangun kekuatan mental yang berbasis pada keimanan kepada Allah SWT.

Hubungan horizontal dengan sesama manusia atau hablum minannas dan hablum minallah merupakan keseimbangan. Keduanya merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Kita beribadah mahgadah secara vertical kepada Allah SWT, namun dampak dan hasil ibadah akan membentuk laku sikap dan perbuatan dalam muamalah hubungan horizontal sesama manusia. Bahkan iman seseorang tidak afdhal bila hanya dirasakan nikmat untuk dirinya sendiri saja.

Keimanan yang sempurna adalah bila warga tetangga di sekitarnya adalah merasa damai, tenteram dan berkecukupan dari apa yang telah dinikmati dirinya dan keluarganya. Ucapan dan perbuatan yang tidak melukai tetangganya.

Fungsi social sangatlah kuat terpatri dalam perbuatan seorang muslim yang progresif dalam keimanannya individunya. Bahkan ditandaskan dalam sebuah hadis sebaik-baik manusia yang memberi manfaat bagi yang lain.

Gerakan kedermanwanan dan keindahannya. Etos kedemawanan telah menginspirasi untuk menguatkan semangat berbagai, semangat filantropi, karena para aktivis filantropi merasakan keindahan, ketenangan, kendamaian, kesucian hati, kebersihan harta, keberhakan harta yang dimiliki, semakin banyak yang dikeluarkan dan semakin ikhlas dibelanjakan untuk kebaikan, semakin tenag jiwa dan berkah harta yang tersisa menjadi berkembang dan banyak pihak yang merasakan kenikmatan dari kebrharta yang ditasrufkan.

Orang yang mendapatkan manfaat langsung dari harta yang berkah terbantu dalam kehidupannya, dimana pada saat yang sama mereka juga berdoa atas harta yang diperoleh dari ghani seraya mereka berdoa untuk muzakki kelak diberkahi hartanya dan keluarganya. Inilah yang menyebabkan para penderma semakin keranjingan amal sholeh karena merasakan betuk power of berkah. Dengan keikhlasan tingkat tinggi balasan keberhanan tunai langsung diberikan oleh Allah Swt.

Mungkin para pembaca pernah merasakan betul hikmah dari kekuatan berkah sedekah. Hasil penelitian social para antropolog, sosiolog membuktikan data-data positif tentang kemakmuran seseorang dan wilayah tertentu karena keberkahan harta yang mereka miliki ambil contoh Zuly Qodir membuktikan risetnya dengan judul Agama Etos Dagang berangkat dari pertanyaan “Benarkah spirit keagamaan secara langsung memberikan pengaruh pada prilaku hidup atau etos pada pemeluknya? Islam sebagai agama kerja, agama social, agama keimanan telah membuktikan. Sehingga para psikolog juga membukikan dengan riset yang serius untuk membuktikan dari data-data lapangan implementasi doktrin agama dalam kehidupan social.

Semua aspek ini bila ditinjau dari pandangan pendidikan agama Islam saling mendukung dan tidak terdapat kontradiktif di mana kurikulum pendidikan nasional bertujuan menumbuhkan. keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha … iman, ilmu dan amal tampak dalam surat al-Baqarah [2] ayat 177 Allah Swt berfirman.

Sofyan Ats Tsauri seorang ulama salaf dalam karyanya (Shafwatu Masa’il Fittauhid wal Fiqh Wal Fada’il: 2/410) pernah mengatakan: “Harta di zaman kita sekarang ini adalah senjata seorang mukmin”. Harta menjadi sarana sangat efektif untuk dijadikan meraih surga. Para hartawan memungkinkan baginya meraih surga dengan harta yang ditasyarufkan untuk kebaikan, meskipun amalan-amalan lain juga dijadikan jalan masuk surga. Harta sangat efektif untuk menyukseskan semua program tanpa kecuali, termasuk program meraih gelar ashabul jannah-penghuni surga (Ihsan SF dan Abdullah Rabbani, 2017: 3).

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS Al Baqarah [2]:177).

Allah berfirman dalam Surat Munafiqun ayat 9 “Wahai sekalian orang-orang yang beriman, jagalah kamu semua dilalaikan oleh harta-hartamu atau anak-anakmu dari berdzikir (ingat) kepada Allah. Barang siapa yang melakukan demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi” (Munafiqun [63] ayat 9.

Sedekah segera ditunaikan dan jangan ditunda, karena kita tidak bisa mengulang waktu yang telah berlalu.

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian dating kepada salah seorang di antara kamu; lalu di aberkata (menyesali), Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh”. (Munafiqun [63] ayat 10.

Keshalehan Sosial

Adanya fenomena bahwa kesalehan individu kurang berdampak pada kesalehan sosial merupakan latar belakang kajian ini. Pilar agama Islam (Rukun Islam) tidak bisa dipahami hanya sebagai bentuk kewajiban ritual individual seorang muslim dengan Sang Khalik, melainkan juga mengandung maksud bahwa kelima hal itu menjadi suatu sarana membina hubungan sosial antara seorang muslim dengan orang lain, bahkan dengan makhluk lainya. Dengan kata lain, kewajiban menjalankan rukun Islam, memenuhi kewajiban spiritual seseorang (muslim) juga kewajiban sosial. Pada akhirnya hal tersebut akan membentuk karakter kesalehan sosial.

Kelima rukun Islam tersebut secara sosiologis memberikan pemahaman bahwa di dalam menjalankan kewajiban ritual agama, seorang muslim hendaknya memenuhi aspek lainnya, yaitu membina hubungan harmonis dengan sesama manusia. Dengan demikian maka terciptalah keharmonisan hubungan secara vertikal dengan Sang Pencipta (hablum minallah), juga hubungan harmonis dengan manusia (hablum minannas). Jika kedua aspek sudah terpenuhi maka akan menjadi nyatalah perwujudan seorang insan kamil atau manusia sempurna.

Hidup manusia selalu mencari untung, manusia hidup tidak mau rugi dan tidak mau hidupnya sia-sia. Keberuntungan selalu diusahakan manusia di mana saja dan kapan saja. Namun tidak semua orang bisa memperoleh keberuntungan. Bahkan sebaliknya yang didapatkan adalah kesia-siaan. Keberuntungan harus diperjuangkan, tidak ada keberuntungan yang kebetulan, semuanya merupakan proses dari hukum sebab akibat-sunnatullah. Demikian juga hukum suplay and dimand.

Keseimbangan antara kesalehan spiritual dan kesalehan sosial merupakan perintah agama Islam, baik ajaran yang tercantum dalam al-Qur’an, maupun dalam hadits  Rasulullah SAW. Dan di antara salah satu kesalehan sosial adalah dengan memberikan filantropi Islam, sebagai wujud rasa syukur atas karunia rezeki yang diberikan Allah SWT.

Filantropi sebagai rasa empatinya kepada sesama manusia dengan harapan dapat meringankan beban hidup mereka. Filantropi yang shaleh akan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya dengan penuh keikhlasan dan penuh kesadaran bahwa harta dan kekayaan agar tidak terus berputar di sekeliling orang kaya saja, maka dari itu dengan filantropi Islam harta dan kekayaan bisa dinikmati hasilnya oleh fakir, miskin, dhuafa, yatim piatu, dan yang berhak menerimanya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka di bidang ekonomi, kesehatan dan pendidikan.

Kesalehan spiritual dan kesalehan sosial perlu dibentuk sejak dini mungkin melalui pendidikan dan pengajaran yang dilakukan di sekolah dasar dan menengah. Etos kedermawanan ditanamkan kepada generasi muda, menjadi gaya hidup social interpreneurship. Kedua bentuk keshalehan tersebut seperti dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, sehingga orang yang shaleh secara spiritual menjadi lebih membumi dan berpengaruh nyata terhadap lingkungan sekitarnya. Bukti keberadaannya terasa kehadirannya. Hartanya menjadi berkah dan terus berkembang dari yang masih ada.

Solusi

Islam sejak kelahirannya telah mengajarkan hakikat kehidupan yang mulia, kehidupan yang bersahaja, dan selalu mengendapankan kebaikan, kemaslahatan dan kebahagiaan sejati.

Kedua, Kehidupan manusia selalu menghadapi berbagai masalah, baik yang bersifat ubudiyah kehidupan ukhrawiyah, maupun urusan kehidupan duniawiyah yang tidak ada habisnya, bahkan semakin kompleks masalah kehidupan dihadapi manusia. Semakin kompleks masalah yang dihadapi, dibutuhkan skill yang terasah dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketiga, sebagai solusi masalah masyarakat dan bangsa, masyarakat dibekali dengan keimanan secara benar, bertaubat dari segala bentuk kemaksiatan yang telah dilakukan, bersyukur atas segala anugerah dengan senantiasa berakhlakul karimah, meningkatkan kepedulian dan solidaritas sosial, etos kedermawanan, etos filantropi, sehingga masyarakat akan damai, sejahtera dan selalu dalam lindungan Allah Swt dalam keberkahan harta.

Keempat, Persaingan hidup yang semakin ketat, menuntut kita lebih giat bekerja dalam mencari nafkah. Tak sedikit yang tergelincir melakukan tindakan tak terpuji dengan mengambil jalan pintas, seperti korupsi, judi, bahkan ada yang menjual harga diri. Atau kalau perlu datang ke dukun dan tempat keramat1.

Program-program kedermawanan kini mulai menjamur di berbagai daerah, seperti warteg gratis, gratis makan di warung hik, jumat berkah dimana setiap hari jumat ada sedekah dari jamaah untuk jamaah masjid, gerakan subuh berjamaah dilanjutkan sarapan bersama jamaah yang merupakan donasi jamaah, pengajian ahad pagi, SPBU gratis BBM untuk jamaah yang membaca Alquran berapa juz, gerakan kedermawanan dimotori oleh masjid-masjid visoner seperti masjid Jogokariyan Yogyakarta yang menginspirasi bagaimana masjid dikembangkan sebagai pusat peradaban dan pusat ekonomi jamaah, bedah rumah gratis, pembagian sembako rutin kepada jamaah

Islam sebenarnya telah mengajarkan cara membuka dan melipatgandakan rizki bagi penduduk suatu negeri, caranya adalah:

Pertama, silaturrahmi. Silaturrahmi ini dapat membuka dan melipatgandakan rizki, sesuai sabda Rasulullah SAW:

مَنْ سَرَهُ اَنْ يَبْسُطُ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَاَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثْرِهِ فَلْيَصِلَ رَحِمَهُ. رواه البخرى

Barangsiapa yang senang dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahmi, (HR Bukhari).

Kesadaran bersilaturraham semakin terkikis oleh peradaban materialistik. Alasan kesibukannya, karier, dan lain sebagainya menjadikan kita jarang bersilaturrahim. Berpegang dari Hadis di atas, jelas manfaat silaturrahim dapat membuka akses pintu rizki peluang-peluang terbaik dalam komunikasi sosial. Dari silaturrahim inilah pintu informasi dan kasih sayang menjadi terbuka. Oleh karena itu, mari budayakan silaturrahim dengan tetap jaga protocol kesehatan di tengah pandemi.

Kedua, istighfar selalu memohon ampun kepada Allah di mana pun dan kapan pun kita berasa. Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ أَكْثَرَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهَ لَهُ مِنْ كُلِّ غَمٍّ فَرِجًا. وَمَنْ كًلِّ ضَبْقٍ مَخْرَجًا. وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ. رواه أحمد وابوداود وابن ماجه

Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah) niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihan jalan keluar, untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberikan rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah).

Allah Swt juga menegaskan dalam surat Hud ayat 3:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ -٣-

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus Menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (basalan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Aku takut kamu ditimpa siksa hari kiamat.

Ketiga,hijrah fi sabilillah. Hijrah adalah perubahan sikap dari yang buruk kepada sikap kebaikan. Allah akan menolong mereka yang hijrah berjuang di jalan Allah. Allah berjanji dalam surat An Nisa’ [4]: 100:

وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللّهِ يَجِدْ فِي الأَرْضِ مُرَاغَماً كَثِيراً وَسَعَةً وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِراً إِلَى اللّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلى اللّهِ وَكَانَ اللّهُ غَفُوراً رَّحِيماً -١٠٠-

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Move on  maka kalian akan sejahtera. Bergerak dan terus bergerak kearah yang lebih baik dan meninggalkan yang negatif dalam perilaku dan perbuatan kita. Bergeraklah ke berbagai penjuru dunia menggapai karunia Allah Swt yang bertebaran di muka bumi. Berakhlaklah yang terpuji sebagai cara bergaul yang baik.

Keempat, gemar berinfaq. Infaq dan shadaqah adalah jalan menyuburkan rizki kita, karena menjadikan harta kita bersih dan barakah. Jangan kira semua harta miliki kita itu mutlak menjadi hak kita, karena Islam mensyariatkan bahwa dalam harta kita ada hak orang lain, yakni kaum fakir dan miskin. Allah Swt berjanji dalam surat Saba [34]: ayat 39:

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ -٣٩-

Katakanlah, “Sungguh, Tuhan-ku Melapangkan rezeki dan Membatasinya bagi siapa yang Dia Kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan Menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang terbaik.

Untuk bekal hidup di dunia dan agar bisa berbuat baik lebih banyak, kita memerlukan rizki yang berlipat. Namun pelipatgandaan rizki itu harus kita lakukan secara Islami, yakni dengan memperbanyak istighfar, berhijrah, gemar berinfaq, dan membudayakan silaturrahim. Tentu saja kerja keras, kerja produktif, kerja ikhlas dan kerja cerdas dengan memanfaatkan segenap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan keharusan yang mengikuti semua resep itu.

Etos kedermawanan terus dibangun di tengah masyarakat, apapun kondisinya baik saat krisis maupun saat lapang dan penuh kemakmuran. Etos kesukarelaan bederma kepada mereka yang membutuhkan menjadi solusi social dan kemasyarakat yang ada di tengah masyarakat.

Keimanan menjadi landasan kehidupan social dalam masyarakat. Orang yang beriman tidak akan sempurna tanpa adanya kasih sayang kepada sesama manusia, bahkan nabi bersadba tidak lengkap iman seseorang yang apabila orang di sekitar kita merasa kelaparan dan kehusan tanpa ada yang memperdulikan, maka etos kedermawanan adalah menjadi kucni dalam masayarakat patembayan, guyup rukun saling peduli dan saling membantu dalam keterbatasan akses ekonomi, akses social, akses politik, akses kebudayaan dan lain-lain.

Daftar pustaka

Pujiono, “Cara Menggandakan Rizki” dalam Suara Muhammadiyah N0 03/102/1-15 Februari 2017 hlm. 33-34.

Yedi Purwanto, MEMAKNAI PESAN SPIRITUAL AJARAN AGAMA DALAM MEMBANGUN KARAKTER KESALEHAN SOSIAL, Vol 13, No 1 (2014)  http://journals.itb.ac.id/index.php/sostek/article/view/1133.
DOI: http://dx.doi.org/10.5614%2Fsostek.itbj.2014.13.1.5

Fauzi al-Mubarok & Ahmad Buchori Muslim, “Kesalehan Sosial Melalui Pendidikan Filantropi Islam”, JIEBAR : Journal of Islamic Education: Basic and Applied Research, Vol. 01, Nomor 01, April 2020. http://e-journal.stit-islamic-village.ac.id/index.php/JIEBAR.

Muhammad Julijanto, S. Ag.,M.  Ag dosen Prodi Hukum Ekonomi  Syariah Fakultas Syariah IAIN Surakarta dan Penulis buku Membangun Keberagamaan Mencerahkan dan Mensejahterakan

1 Pujiono, “Cara Menggandakan Rizki” dalam Suara Muhammadiyah N0 03/102/1-15 Februari 2017 hlm. 33-34.