Di era medsos, apalagi dalam suasana wabah, pada hari Idul Fitri atau Lebaran, banyak keluarga atau individu mengucapkan Selamat Idul Fitri, dengan foto-foto keluarga. Idul Fitri sangat bermakna bagi lebih dari satu setengah milyar umat Islam, tapi juga bermakna bagi umat-umat non-Muslim di manapun.

1 Syawwal, tahun ini 1442 H, dirayakan Idul Fitri, “mudik kepada fitrah”, asal kejadian manusia, sebagai dipahami kaum beriman, setelah sebulan menggembleng dirinya dengan lapar, dahaga, dan kenikmatan biologis lainnya. Juga dengan disiplin-disiplin yang tidak biasa dilakukan di sebelas bulan lainnya.

Eid Mubarak, Blessed Eid, Hari Raya Yang berkah, umum diucapkan di barat dan di timur. Ucapan lain, Taqabbalallahu minna wa minkum: Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua. Kullu ‘Aam Wa Antum Bi Khair: Semoga Anda senantiasa dalam kebaikan sepanjang tahun. Atau “minal ‘aidin wal faizin.” Semoga kita termasuk orang yang kembali kepada fitrah dan mendapatkan kemenangan.

Ucapan-ucapan itu biasanya ditambah dengan Mohon Maaf Lahir Batin. Tidak ada referensi tekstual atas ucapan ini, akan tetapi tujuan dan maknanya sebetulnya Islam, Qur’ani. Memang, yang Al-Qur’an ajak adalah memaafkan kesalahan orang lain (Dan salah satu sifat Allah adalah Maha Pemaaf). Tidak ada anjuran tekstual Mohon Maaflah!. Yang ada adalah Maafkan orang lain: fa’fu (Al-Baqarah: 109), wal ‘afiiina ‘aninnaas (Ali Imran: 134), fa’fu ‘anhum (Ali Imran: 159, Al-Maidah 13), Hal ini berarti, memaafkan itu bisa jadi lebih sulit daripada mohon maaf. Sering kali, mohon maaf pun diucapkan secara umum di publik tanpa khusus kepada orang tertentu. “Mohon maaf generik”. Bisa jadi karena tidak cukup waktu untuk satu persatu. Bisa jadi karena memang tidak merasa punya salah kepada orang tertentu secara sengaja. Bisa jadi karena memang ini kebiasaan baik yang dilakukan banyak orang. Dari dalil-dalil di atas, yang lebih dianjurkan sebetulnya adalah Memaafkan orang lain.

Di Indonesia, selain Idul Fitri, kata “lebaran” sering digunakan, bukan bahasa Arab, bukan bahasa Al-Quran, hadis, atau ulama. Ada banyak teori. Dari kata “lebar”, luas, plong. Orang menjadi lega telah selesai puasa sebulan. Orang menjadi berlapang dada, memaafkan kesalahan orang lain. Ada yang bilang, lebar artinya “selesai”: Merayakan sesuatu setelah selesai ibadah. Ada yang berpendapat, asal kata lebaran itu berasal dari bahasa Hindu lokal. Terlepas mana yang benar, hal ini menunjukkan integrasi nilai Islam dan budaya lokal sudah lama terjadi di nusantara dan dilestarikan.

Meskipun tidak terjadi atau tidak persis cara dan bentuknya seperti di masa Nabi, tradisi lebaran dan saling mengucapkan selamat lebaran dan selamat idul fitri, mohon maaf lahir dan batin, itu sangat baik. Tidak ada wajah kesedihan dalam bahasa dan dalam foto-foto itu. Hanya ada kegembiraan dan toleransi kegembiraan. Ucapan dan lambang toleransi intra dan antaragama. “bid’ah hasanah”, inovasi yang baik, meminjam bahasa agama.

Di antara kegiatan utama saat lebaran adalah silaturahim. Menyambung persaudaraan. Mengapa? Manusia pasti sering putus hubungan, karena kesibukan, karena gengsi, karena benci atau praduga, karena sakit, dan sebagainya. Nah, lebaran merupakan saat yang ditunggu-tunggu umat Islam dan bahkan non-Muslim untuk menghubungkan kembali persaudaraan, atau persahabatan yang sempat hilang, terputus, sengaja atau tidak sengaja. Dalam kondisi wabah tahun ini seperti tahun lalu, akan sangat sedikit yang berjabat tangan atau berpelukan. Akan sangat sedikit Muslim yang mendatangi ke rumah keluarga, tetangga, atau teman. Akan sangat sedikit yang berkeliling RT. Akan lebih banyak silaturahim lewat zoom, Whatsapps, facebook, twitter, atau telepon. Kartu-kartu lebaran yang dulu cukup populer pun, tampaknya semakin jarang.

Namun, semoga virtual silaturahim seperti ini tidak mengurangi makna silaturahim itu sendiri. Hikmah dibalik musibah antara lain, jangkaun silaturahim kita melampaui batas wilayah geograpis, bahkan bahasa, budaya, dan bahkan agama dan keyakinan (bahkan yang tidak beragama pun mengucapkan Eid Mubarak kepada Muslim).

Wujud silaturahim lainnya adalah berbagi makanan (yang khas lebaran) maupun yang biasa dinikmati di bulan-bulan lain. Makanan adalah bagian penting silaturahim, bagian penting Idul Fitri (bahkan haram berpuasa pada hari Idul Fitri). Dan makanan adalah juga budaya, berbeda sesuai dengan suku, bangsa, dan negara. Apapun bentuknya, berbagai dan menikmati hidangan adalah bagian dari Kegembiraan itu (seperti juga pada hari-hari raya agama-agama lain).

Aksi nyata yang kita juga rasakan di saat Lebaran adalah memberi kelebihan harta dalam bentuk zakat, infaq, dan sadaqah kepada mereka yang membutuhkan. Bukti nyata keimanan sebagai ibadah sosial. Bagi mereka yang tidak beriman, mereka berbagi dan menyayangi semata-mata untuk berbagi dan menyayangi sesama manusia. Bagi yang beriman, mereka berbagi menyayangi sesama dan berharap surga atau merasakan kecintaan dan keridhaan Allah Sang Pencipta dan Pemberi Rizki.

Di Indonesia, dan di berbagai belahan dunia lain, banyak non-Muslim mengucapkan Selamat Idul Fitri (Eid Mubarak, dan bahasa-bahasa lain), kepada saudara dan teman-teman umat Islam, baik khusus maupun umum. Bahkan ada banyak non-Muslim yang menyanyikan lagu-lagu Idul Fitri, seperti umat Kristiani di Indonesia. Mereka non-Muslim pun menyampaikan Selamat idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Mereka juga ikut datang berkunjung atau di zama Covid ini, lewat berkunjung virtual, ke keluarga, saudara, atau teman Muslim mereka. (Hampir tidak ada perdebatan tentang hukum boleh tidaknya mengucapkan Idul Fitri kepada Muslim, seperti perdebatan di kalangan Muslim tentang hukum Selamat Natal atau ucapan hari raya agama-agama lain).

Lebih dari itu, bulan Puasa, atau Ramadan, merupakan pengalaman sosial dan spiritual, tidak hanya bagi milyaran Muslim, tapi juga banyak non-Muslim. Ada yang ikut puasa, sesuai dengan kondisi masing-masing. Teman-teman saya, mahasiswa-mahasiswa saya, kolega, atau non-Muslim yang kita tidak kenal, pun ikut belajar tentang puasa, dan sebagian pun ikut puasa. Biasanya non-Muslim berkata, “kita semua saling berhubungan di bumi ini. Saya ingin menghormati hubungan saya dengan semilyar umat Muslim.” Sebagian lagi mengatakan, “Saya ingin tahu sejauh mana saya bisa disipilin tidak makan dan tidak minum di siang hari, meskipun bukan karena motivasi keagamaan.” Non-Muslim lain berkata,”berpuasa menjadi pengingat kenyataan begitu banyak orang di sekitar kita dan di belahan dunia lain yang lapar dan haus. Saya menjadi lebih empatik.”

Betapa indahnya toleransi beragama yang ditunjukkan! Karena itu kita patut bergembira. Bersyukur. Indah Mengucapkan Selamat Bergembira. Sesulit apapun hidup kita. Sebesar apapun tantangan masa kini. Di Palestina termasuk di dalamnya (Di mana hidup umat Islam, Nasrani, dan Yahudi). Di Indonesia apalagi. Negeri dengan berpenduduk terbesar ke-4 di dunia, dengan segudang masalah tapi juga bergudang-gudang kenikmatan di dalamnya.

Mari berbagi Kegembiraan. Mari saling menguatkan. Umat Islam seluruh dunia pantas bergembira. Umat-umat beragama lain (dan yang tak beragama pun) menyampaikan dan mengungkapkan penghargaan dan kegembiraan mereka atas kegembiraan umat Islam.

Selamat Lebaran saudara-saudara dan teman-temanku semua!