Islamsantun.org. “Hubungan harmonis manusia dengan Tuhan yang lahutiyyah murni tanpa unsur nasutiyah, selalu bersifat personal. Individu-individu yang mencapai maqam tersebut, lebur dalam Tuhannya karena kehilangan sisi nasutiyahnya. Inilah situasi individu yang hampa kemanusiaan. Karenanya, relasi nasutiyah dan ilahiyah layaknya diwujudkan manusia dalam wahdat al-wujud al-insaniyah. Orang Jawa menyebutnya manunggaling kawula, kawulane-kawula, Gustine-Gusti. Itulah kemanunggalan antar-manusia yang sederajat, saling menghormat atas keimanan sesama. Wallahu A’lam” (Prof. Dr. Maftukhin, M. Ag, Rektor IAIN Tulungagung).

Jika pada renungan sebelum ini Pak Rektor menggambarkan bagaimana seorang hamba dengan kualifikasi nasutiyah tertentu dapat “menyatu (ittihad)” dengan Tuhan dengan segala kesucian dan kualifikasi lahutiyah-Nya, pada renungan kali ini Pak Rektor seakan “mengkritik” kemanunggalan model itu sebagai bersifat personal. Tentu saja ruang-ruang personal semacam itu tidak untuk ditutup. Siapa pun yang meyakini dirinya telah mencapai kualifikasi tertentu dalam sisi nasutiyah-nya lalu sisi itu luruh dan lebur dalam lahutiyah Tuhan sehingga memungkinkannya manunggal dengan Tuhan, kita hormati pengalaman paling personal semacam itu. Karena memang setiap orang memiliki pengalaman masing-masing bagaimana berinterasi dan berkomunikasi dengan Tuhan, meski amat sedikit yang sanggup sampai tahap manunggal dengan Tuhan.

Akan tetapi, seperti disitir Pak Rektor, hal seperti itu hendaknya tidak dijadikan sebagai orientasi keberagamaan dan kebertuhanan seseorang. “Menyatu” dengan Tuhan tidak dilarang selagi kualitas diri yang bersangkutan memungkinkan untuk itu. Tapi sebaiknya seseorang tidak berlama-lama dalam kemanunggalan dengan Tuhan. Kenikmatan yang didapat darinya bersifat personal semata. Hanya yang bersangkutan yang mereguk dan merasakannya. Beragama dan bertuhan seharusnya tidak hanya melahirkan pengalaman dan kenikmatan personal. Beragama dan bertuhan harus melimpahkan kebaikan dan kemaslahatan bagi sebanyak mungkin sesama di sekitar.

Dari perjalanan Nabi Saw. memanggul dan mendakwahnya Risalah Tuhan, mungkin peristiwa mikraj dapat ditunjuk sebagai peristiwa di mana beliau “manunggal” dengan Allah. Siapa di antara kita tidak ingin mereguk nikmat dan bahagaianya moment istimewa dapat “menyatu” dengan-Nya. Tapi Nabi sadar, betapa pun beliau “betah” bersama-Nya, di pundak beliau ada tugas yang jauh lebih besar dan berat tapi amat mulia, yakni menegakkan tonggak-tonggak kebenaran, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan dan kemerdekaan. Tonggak-tonggak itu tidak akan pernah tegak kalau beliau hanya berasyik-masyuk bersama-Nya. Momentum kebersamaan beliau dengan-Nya pada peristiwa mikraj justru menjadi penguat tekad, pengukuh keyakinan, dan pelecut perjuangan bahwa beliau diutus untuk menjadi rahmat bagi semesta, bukan untuk mencicipi kenikmatan-kenikmatan personal dalam kemanunggalan bersama-Nya.

Peristiwa mikraj Nabi mengajarkan kepada kita antara lain untuk tidak bersikap egois dalam bertuhan dan beragama. Silakan rasakan manisnya kebersamaan dengan Tuhan dalam ruang-ruang sunyi, dalam semedi, dalam butiran-butiran tasbih yang lekat di jemari. Tapi Tuhan juga ingin kita menjadi pejuang kemanusiaan di mana medannya lebih menantang, lebih luas, namun buah-buah pahala yang dijanjikan lebih berlipat. Silakan, ada saatnya kita memang perlu berada dalam bilik-bilik hening untuk melepaskan segala ego dan pakaian buruk yang melekat pada aspek hewani kita. Tapi itu tidak untuk selamanya. Tuhan, selain ingin dipanggil dalam keheningan, Dia juga senang dipanggil sebagai Tuhan bagi kaum tertindas, diseru dengan perjuangan nyata membebaskan mereka yang hidup lekat dengan ketertindasan, kemiskinan dan keterbelakangan.

Alkisah, Nabi Musa as. bermunajat kepada Tuhan. Sang Mahasuci bertanya: “Hai Musa, banyak sekali ibadahmu, yang mana untuk-Ku?” Musa terkejut mengapa Dia bertanya tentang ibadahnya, sebab semua ibadahnya untuk Tuhan: “Shalatku, hajiku, kurbanku, doa, dan zikirku.” Tuhan berkata:“Semuanya untuk kamu, mana untuk-Ku?” Musa bingung dan berkata: “Tunjukkan pada hamba-Mu yang lemah ini, mana ibadahku untuk-Mu!” Tuhan berkata: “Berkhidmatlah kepada hamba-hamba-Ku!”

Dari kisah ini, sejalan dengan semangat refleksi Pak Rektor kali ini, kita dapat menyimpulkan: “Perbanyak ibadah untuk kebaikanmu sendiri. Perbanyak berkhidmat pada sesama hamba, itulah yang membuat Tuhan senang karena dengannya kita mempersembahkan ibadah untuk-Nya.