Islamsantun.org. Kanjeng Nabi Muhammad adalah guru sejati: di alam lahir berpegang pada srengatnya dan akhlaqnya; di dalam tirakat batinnya, mendapatkan cahayanya, menghilangkan segala keruwetan batin. Cahayanya adalah Aqal Muhammadi. Al-Jilli menyebutnya Aqal Pertama. Ibnu Arabi menyebut Haqiqah Muhammadiyah. Syeh Abdul Qadir Al-Jilani menyebut Haqiqah Muhammadiyah, itu juga disebut Aqal, Nur, juga disebut Qalam, karena nisbahnya: aqal digunakan untuk mamahami; disebut nur, karena menghilangkan kegelapan yang menyelimuti; Qolam, karena digunakan untuk memindahkan ilmu. Disebut pula Ruh al-Amin oleh al-Jilli, karena menjadi gudang ilmu yang tak ada habis habisnya.

Kalau merujuk pada sebagian pakar hadits soal ini, yaitu awwalu ma kholaqolloh, akan banyak pandangan yang saling berseberangan. Kalau tidak menemukan tarjihnya, akan menambah keruwetan. Di antara tarjih itu, disebut Ali Al-Qari dalam Mirqatul Mafatih Syarhu Misykatil Mashabih, mengutip Ibnu Hajar:

“Ibnu Hajar mengatakan, perbedaan riwayat riwayat soal awal makhluk yang diciptakan, dan hasilnya adalah sebagaimana yang aku jelaskan dalam Syarhu Syama’ilit Tirmidzi, bahwa awal sesuatu yang diciptakan itu adalah Nur…, kemudian air, kemudian Arsy”(Ali Al-Qari, Mirqatul Mafatih Syarhu Misykatil Mashabih, versi ditahqiq Syeh Jamal Itani, 1422/2001, I: 240, komentar atas hadits No. 79).

Ibnu Hajar setelah mengkaji hadits hadits soal ini, dia berkesimpulan bahwa yang awal dicipta itu adalah memang nur. Ini memberi kesimpulan soal ilmu yaqin tentang Nur Muhammadi yang sempat dikacaukan oleh syakk sebagian pakar hadits itu, kembali memiliki argumentasi, melalui kesimpulan Ibnu Hajar. Sementara para sufi, tidak ada yang menentang pandangan Nur Muhammad ini setelah mereka menahqiqnya melalui haqiqatul yaqin, mereka kadang berbeda hanya dalam penamaan.

Dan dengan Aqal Muhammadi itu, menurut para sufi, belum dapat bersambung dengannya, bila masih berkecimpung dalam martabat hayal dan fikir (versi Ibnu Arabi); atau masih menggunakan Aqal Semesta dan Aqal Kehidupan (versi al-Jilli); dan masih menggunakan Aqal Ma’asyi, Aqal Ma’adi, dan Aqal Zamani (versi Syeh Abdul Qadir). Al-Burhanfuri, menggunakan istilah Haqiqah Muhammadiyah untuk menyebut nama lain dari martabt wahdah, ta’yun awwal. Sementara al-Jilli, tidak menggunakan istilah wahdah, tetapi cukup membahas dengan istilah Wahidiyah, Ahadiyah, dan Dzat.

Dalam tirakat batin, kalau tidak memiliki kekuatan kecerdasan mengurai, kesulitan kesulitan konsepsi dan memahami pengalaman yang diterima, dan mengerti martabat perjalanan aqalnya, yang ditemukan adalah keruwetan yang ditimbulkan melalui setan maknawi. Dan, perjalanan menerima Aqal Muhammadi, disebut juga Nur karena menjadi guru sejati yang menguraikan pemahaman pemahaman sulit, bagi para sufi melahirkan Hikam; dan secara lahir, bila perjalanan Aqal itu sulit dan stagnan, tetap berpegang pada srengat akhlaknya Kanjeng Nabi, akan menghilangkan keruwetan dan beralihlah kepada at-taslim, keruwetan itupun hilang, melahirkan kontinuitas ibadah jawarih, melonggarkan perjalanan Aqal dan menyadari maqam martabat aqalnya.

Maulid, menyadarkan kita bahwa manusia mukmin dinasabkan kepada Aqal/Ruh Muhammadi sebagai Abul Arwah, sehingga menjadikan rindu memperoleh cahaya Abul Arwah; dan secara jasadi dinasabkan kepada Adam sebagai Abul Basyar.