Barangkali tak mengapalah, kalau saya hendak berandai-andai.

Mungkin, bumi ini, dunia ini dan kehidupan ini tak akan rusak, apabila perilaku puasa menjadi motor utama kesadaran hidup manusia. Tapi sayangnya, kita berpuasa hanya di sektor-sektor tertentu saja, yang itupun sifatnya sangat artifisial. Hmm… Alangkah indahnya, kalau mulai dari detik ini, seluruh manusia mulai memuasai zaman! Atau istilahnya, masani zaman.

Artinya, mulai dari sekarang metode dan praktik puasa benar-benar harus kita jadikan sebagai sebuah kesadaran hidup, sehingga zaman menjadi lebih santun kepada kita. Sebab, zaman tampak sudah sedemikian tidak santun lagi, bahkan zaman sekarang ini seperti hendak meruntuhkan bangunan kehidupan manusia. Cepat, atau lambat!

Konsep “masani” sendiri, tentu sudah bukan barang asing lagi bagi manusia Jawa, khususnya. Karena, secara khusus “masani” adalah ihwal yang begitu sakral dan estetik untuk digunakan supaya bisa meng-“goal”-kan suatu tujuan hidup tertentu, yang sifatnya bisa amat mendesak dan harus segera dilakukan, atau yang sifatnya sekadar sebagai sebuah metodologi untuk memahami kehidupan, yang runway jarak tempuhnya panjang.

Yakni, sebagai “thariqat” hidup. Umpamanya, yang sifatnya mendesak: berpuasa supaya bisa lulus dan lolos seleksi ujian, diterima perguruan tinggi, maupun hal-hal yang bersifat teknis lainnya. Atau, yang sifatnya lebih santai: berpuasa supaya anak-cucu kita kelak nasib hidupnya bisa lebih baik dari kita, dan seterusnya, yang sifatnya jangka panjang. Dan pastinya, itu semua ada rule of game-nya masing-masing terkait tata cara dan aturan pelaksanaannya.

Akan tetapi, yang saya maksudkan dengan masani zaman disini, tidaklah lantas hanya sekadar bahwa kita ramai-ramai bertirakat agar yang kita maksudkan atas zaman, kemudian dapat dipenuhi sesuai harapan kita. Misalnya, supaya zaman tidak jadi ngamuk dan membunuhi manusia. Tidak sekadar demikian. Meskipun hal itu juga tidak lantas bisa kita elakkan, sebab pada dasarnya kecenderungan kita kalau berpuasa memang sering kali penuh dengan tendensi-tendensi yang sifatnya teknis-artifisial semacam itu.

Sebagaimana mungkin di antara kita, pernah yang melakukan model puasa-puasa tertentu supaya si gadis cantik yang kita demeni lantas mau dengan kita, untuk kita pacari dan kemudian kita nikahi. Atau yang sifatnya lebih arif, misalnya, supaya kita mendapatkan wangsit (semacam model karomah) sebagai bekal tertentu dalam hidup. Jadi, kalau misalnya kita masani zaman, tentu sedikit-sedikit pasti tidak akan terlepas dari tendensi-tendensi penuh kepentingan yang kita maksudkan terhadap zaman tersebut.

Namun demikian, saya ulangi sekali lagi, bahwa yang saya maksudkan dengan masani zaman tidaklah hanya sekadar puasa yang maksud dan tujuannya sangat-sangat teknis-artifisial semacam itu. Tetapi lebih bermaksud bahwa, kita-kita ini benar-benar menjadikan konsep dan metode puasa sebagai motor kesadaran utama dalam setiap perilaku kita. Inilah maksud yang paling saya utamakan. Adapun nanti, kalau maksud paling utama ini benar-benar terealisasi, sudah secara otomatis maksud-maksud dan tujuan yang sifatnya teknis itu akan juga ikut kita dapatkan.

Apalagi bulan ini, adalah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya ada kewajiban untuk melakukan ibadah puasa. Dan, Rasulullah secara khusus juga menyebut Ramadhan sebagai madrasah (wahana pendidikan). Karena, memang di dalamnya kita dididik baik secara jasmaniah, batiniah, ruhaniah agar nantinya kita lulus menjadi manusia yang matang dan pantas mendapat gelar tattaqun. Jadi, kalau ramadhan ini dikatakan sebagai wahana pendidikan, maka KI (kompetensi Inti) yang harus diraih oleh para pelaku puasa adalah menjadi manusia yang bertaqwa (Al-Baqarah: 186).

Yang perlu di garisbawahi, idiom atau nomina yang dipilih dalam redaksi ayatnya untuk menyebut manusia bertaqwa, adalah tattaqun, bukan muttaqun. Pilihan idiom atau nomina tattaqun disini, menunjukkan bahwa taqwa merupakan suatu proses yang sifatnya dinamis dan akan terus berlangsung, dalam arti tidak akan berhenti sepanjang zaman. Jadi, bukan sesuatu yang sifatnya statis, maka takwa menjadi sebuah proses yang harus senantiasa diperjuangkan, diraih dan kemudian ditingkatkan.

Sehingga pada akhirnya, setelah berhasil mendapat gelar tattaqun, kualitas jiwa dan akhlak kita menjadi semakin bermutu. Karena memang itulah tujuan dari pendidikan, ialah supaya perilaku kita menjadi lebih baik dan lebih berkualitas. Maka, dalam puasa sebenarnya yang paling dididik agar sampai di titik sublimasi kemurniannya adalah tiga hal yang paling prinsip dan mendasar dalam diri manusia: yakni akal, hati dan nafsu. Yang apabila ketiga hal tersebut telah sampai pada titik sublimnya, tentu getarannya akan beresonansi secara langsung ke dalam manifestasi perilaku kehidupan dalam silaturahmi kita kepada sesama (hablumminannas) maupun kepada Allah itu sendiri (habluminallah).

Oleh karenanya, konsep dan metode puasa menjadi penting untuk senantiasa kita jadikan sebagai motor utama kesadaran hidup. Tidak hanya di bulan Ramadhan saja, melainkan juga di sebelas bulan lainnya. Di sepanjang zaman, di setiap nafas kehidupan dan di dalam tiap-tiap persentuhan perilaku hidup kita.

Artinya, konsep puasa kita ambil poros maknanya sebagai perihal upaya menahan diri atas sesuatu hal. Baik atas sesuatu yang kita sukai maupun yang tidak kita sukai. Tujuannya adalah untuk menjadikan kita benar-benar menjadi sosok yang “dewasa”, dan memiliki kedewasaan sikap dan perilaku. Kita berpuasa atas sesuatu yang kita sukai, dalam arti menahan diri untuk tidak melakukannya sementara waktu.

Dan, kita berpuasa terhadap sesuatu yang tidak kita sukai, dalam arti mau melakukannya meskipun sesuatu itu tidak kita sukai. Pertimbangannya, adalah untuk nilai kebaikan dan kemanfaatan bersama. Di situlah sebenarnya posisi nilai kedewasaan terletak. Kalau hanya melakukan sesuatu yang kita sukai dan tidak melakukan sesuatu yang tidak kita sukai, anak-anak balita pun bisa melakukannya. Apa hebatnya, melakukan sesuatu yang memang kita sukai dan tidak melakukan sesuatu yang memang tidak disukai?

Kalau sikap dan perilaku seseorang sudah memantulkan cahaya kedewasaan, maka petimbangan mainnya bukan hanya soal: tentang suka atau tidak sukanya kita atas sesuatu, tetapi lebih ke soal baik atau tidak, dan bermanfaat atau tidaknya sesuatu itu untuk mayoritas orang—bukan untuk dirinya sendiri. Apalagi demi dan untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya saja.

Inilah yang benar-benar harus kita garisbawahi, bahwa agaknya sikap dan perilaku kita selama ini di dalam persentuhan kita tatkala menempuh dan mengelola hal ihwal tentang kehidupan, belum sungguh-sungguh dewasa. Dan itu sebabnya adalah, karena tidak dijadikannya konsep dan metode puasa sebagai sebuah kesadaran kerja, kesadaran manajemen dan kesadaran hidup kita. Walhasil, orientasi pertimbangan kita dalam upaya kita menempuh dan mengelola kehidupan, masih cenderung kekanak-kakanakan—yakni hanya berorientasi pada suka tidaknya kita atas sesuatu hal, dan dihitungnya hanya berdasarkan kepentingan pribadi dan kelompok saja, tidak demi dan untuk kemaslahatan bersama.

Kita bisa mendapati itu secara terang-terangan. Mulai dari cara kita memilih pemimpin, mengelola jalannya pemerintahan, memanajemen perputaran ekonomi negara, memainkan roda perpolitikan, membangun lembaga sosial masyarakat, memilih dan menerapkan kurikulum pendidikan, menciptakan supremasi hukum, dan di sektor-sektor lainnya, baik yang sifatnya mikro sampai yang makro. Tampak sekali, bahwa kita belum sungguh-sungguh dewasa, sekaligus belum benar-benar menjadikan konsep dan metode puasa sebagai landasan orientasi pertimbangan kita dalam memilih dan memutuskan sesuatu, untuk kemudian dilakukan.

Termasuk dalam cara kita menambang bahan-bahan tambang dan sejenisnya, bahkan cara kita berhutang pun sama sekali tidak ada unsur-unsur “puasa”nya. Kita lampiaskan semuanya dengan sedemikian rupa, tanpa reserve sama sekali.

Seharusnya, memang, konsep dan metode puasa menjadi hal yang riskan untuk diterapkan dalam setiap tindak-tanduk perilaku kehidupan kita, serta di setiap ranah maupun wilayah kehidupan ini kesadaran akan prinsip puasa harus senantiasa kita temukan. Terutama di era, di mana hak asasi manusia dan konsep demokrasi menjadi dua hal yang sama sekali diutamakan, yang nyawanya adalah: sebuah “kebebasan”.

Sebab, yang dimaksud hak asasi manusia dan wacana demokrasi, selamanya tidak akan menemui titik temu dan mustahil bisa sampai pada ujung nilai yang dimaksudkan, kalau keseluruhan manusia yang ada dalam kehidupan ini tidak menjadikan konsep dan metode puasa sebagai kesadaran hidup, yang kemudian diterapkan dalam kehidupan. Dan, kalau tetap saja prinsip nilai puasa disingkirkan dari kesadaran hidup ini, maka kita justru hanya akan ditipu dan dibodohi terus-menerus dengan nomenklatur-nomenklatur istilah yang cenderung “absurd” semacam itu.

Maka, bukan tidak mungkin zaman akan enggan untuk berpuasa (baca: menahan diri) lagi, dan akan memilih mokel dengan cara melampiaskan kegeramannya atas manusia-manusia lalim, yang tak pernah lulus-lulus dalam melaksanakan ujian tentang puasa dalam hidup, sehingga membuatnya sama sekali kepayahan untuk menyentuh derajat tattaqun.

Saya menjadi ngeri, membayangkan apa yang akan terjadi nantinya kalau kita terus-terusan bersikap kekanak-kanakan seperti ini, dan tidak pernah serius dalam menjalani kehidupan. Bisa-bisa bom milik zaman akan meledak sangat dahsyat, melebihi ledakan bom-bom milik teroris yang telah kehilangan esensi puasa di dalam kesadaran hidupnya. Ngeri!

Maka dari itulah, saya lantas hendak bermaksud mengajak seluruh manusia supaya berkenan: memuasai zaman. Dan, tujuan saya juga sederhana saja sebenarnya, yakni supaya kita selamat. Saya ulangi sekali lagi, supaya kita selamat. Itu saja!