“Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Pasti itu seburuk-buruk tempat orang yang menyombongkan diri.” (Q.S. An-Nahl: 29)

Salah satu sifat buruk yang sangat dibenci oleh Allah Swt. adalah sombong atau takabur. Hal ini dikarenakan yang paling layak untuk sombong adalah Allah Swt. Salah satu sifat Allah yang terdapat dalam Al-Asma al-Husna adalah Al-Mutakabbir. Ya, hanya Allahlah yang layak untuk sombong. Karena Dialah yang maha segala-galanya. Dialah yang memiliki langit dan bumi serta segala isinya. Dialah yang menciptakan semua makhluk di muka bumi ini, termasuk manusia. Dialah yang menentukan nasib seluruh makhluk-Nya, mengatur rezekinya, serta menentukan ajalnya.

Maka, ketika ada manusia yang sombong, maka pada hakekatnya ia telah mengingkari kemahakuasaan Allah. Ia telah berlaku seolah-olah ialah yang menentukan nasibnya sendiri. Kekayaan, jabatan dan kedudukan, popularitas, garis keturunan serta status sosial yang disandang seseorang, kemudian menjadikannya merasa lebih baik dari orang lain, maka ia telah jatuh pada sikap sombong.

Al-Qur’an mengisahkan, sifat sombong pertama kali ditunjukkan oleh Iblis ketika diperintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam a.s. Dengan penuh keangkuhan dia mengatakan: “ana khairun minhu, khalaqtani min nar wa khalaqtahu min thin”. Aku lebih baik daripada dia. Kau ciptakan aku dari api, dan Kau ciptakan dia dari tanah. (Q.S. Al-A’raf: 12)

Kalimat ana kahirun minhu atau “aku lebih baik daripada dia” diucapkan pertama kali oleh Iblis untuk menunjukkan ketakaburannya. Kalimat ini pula yang akhirnya menyebabkan Iblis diusir dari surga selama-lamanya.

Rasulullah Saw. menegaskan dalam salah satu sabdanya, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat takabur (sombong) walaupun hanya sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)

Ada tiga tokoh yang diabadikan di dalam al-Qur’an, yang masing-masing mewakili karakter manusia-manusia sombong karena ‘sesuatu’ yang dimilikinya.

Pertama, Fir’aun. Dia bersikap sombong dan angkuh karena kekuasaan yang dimilikinya. Bahkan, kesombongannya mencapai puncaknya ketika ia menyatakan dirinya sebagai tuhan. “Ana Rabbukum al-a’la”. “Akulah tuhan kalian yang paling tinggi”. Demikian ungkap fir’aun sebagaimana diabadikan di dalam Q.S. An-Nazi’at: 24.

Fir’aun mewakili karakter manusia yang sombong karena pangkat, kedudukan dan jabatan yang dimilikinya. Dia merasa bahwa jabatan yang dimilikinya akan mengekalkannya. Dia beranggapan bahwa kekuasaan yang ada di genggamannya dapat menghindarkannya dari kematian. Al-Qur’an menceritakan, akhir hidupnya sangat tragis. Dia bersama para pengikutnya mati ditenggelamkan Allah di Laut Merah.

Kedua, Qarun. Dia bersikap angkuh lagi sombong karena kekayaan yang dimilikinya. Kelimpahan harta serta materi yang melingkupinya telah melenakannya. Dia lalai bahwa seluruh kekayaan yang kini berhasil didapatkannya adalah titipan (amanah) dari Allah Swt. yang suatu saat akan diambilnya, dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Riwayat hidupnya pun berakhir secara mengenaskan. Dia beserta harta yang menjadi sumber kesombongannya hilang ditelan bumi.

Ketiga, Haman. Dia bersikap sombong karena ilmu serta jabatan yang dimilikinya. Dialah penasehat Fir’aun. Dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, alih-alih memberi petunjuk ke jalan yang benar, Haman justru menjadi tangan kanan Fir’aun dengan segala kebijakan yang jauh dari nilai-nilai kebenaran. Haman adalah tipikal ilmuwan dan pejabat ‘yes man’, ABS (Asal Bapak Senang), kumaha juragan wae. Apa yang dikatakan Fir’aun selalu mendapat pembenaran dari intelektual bermental penjilat seperti Haman. Dia kaburkan kebenaran dan kebatilan. Dia tidak peduli umat tersesat di jalan yang salah. Baginya, posisi strategis di pemerintahan, dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya adalah segala-galanya. Sejarah mencatat, dia pun bersama dengan Fir’aun mati tenggelam di Laut Merah.

Beberapa kisah yang diabadikan al-Qur’an di atas menunjukkan bahwa siapa menabur kesembongan akan menuai petaka.

* Ruang Inspirasi, Sabtu, 8 Mei 2021 / 26 Ramadan 1442 H.