Setelah 2 tahun lebih Kini kita bisa menikmati bersama menjalankan ibadah tarawih dengan nuansa senang, gembira, dan penuh kemeriahan. Momen yang sangat dinantikkan oleh kaum muslim untuk berlomba-lomba menyiapkan sesuatu baru dalam menjalankan ibadah tarawih. Ada yang setiap masjidnya jauh-jauh hari sudah mengerjakan acara kerja bakti, dan menyiapkan segala kebutuhan demi bisa menjalankan ibadah tarawih.

Sadar atau tidak, salat witir pun jarang sekali diperdebatkan lantaran hanya sebagai tambahan salat tarawih saja. Tentu ini menjadi persoalan serius mengingat fenomena ini seringkali dilakukan tanpa adanya perdebatan. Mereka cenderung memperdebatkan jumlah salat tarawihnya bukan salat witirnya? Sebagian para ulama hanya mempersoalkan kapan waktunya salat witirnya baik sesudah tarawih atau sesudah tahajud. NU misalnya, yang mayoritas Islam tradisional memilih melakukan salat witir 2 rakaat kemudian 1 rakaat terakhir.

Berbeda dari Muhammdiyah atau kaum lainnya mayoritasnya memilih 3 rakaat salat witir yang dikarenakan pengerjaannya adalah ganjil sesuai tuntunan Nabi Muhammad saw. Hal itu sudah dijawab Gus Baha 1 tahun yang lalu beberapa channel youtube begini isinya, “aku yakin salat witir kalian ggk sah, tapi Allah mengampuninnya, jenenge salat witir iku ganjil, shollu sunnatan rok’atani minal witri, dadine wong kie bingung” (“namannya salat witir itu ganjil, shollu sunnatan rok’atani minal witri, jadinnya orang bingung”).

Bahkan fenomena ini sampai ke daerah saya saat ini yang sebagian masjid memiliki perbedaan salat witir dengan kata lain, salat witir yang paling utama adalah ganjil. Jika kita melakukan salat tarawih 20 rakaat atau 11 rakaat dan 2 rakaat serta 1 rakaat witir penutup maka yang dihitung adalah 1 rakaat saja Begitu juga sebaliknya.

Kejadiaan yang sudah terlanjur sulit dibenahi dan perlu perbaikan. Apalagi perbedaan-perbedaan ini menjadi sesuatu hal yang indah dilakukan mengingat di bulan Ramadan penuh banyak pahala dan ampunan. Tetapi pada hakikatnya salat witir mempunyai tujuan sebagai ringkasan penutupan salat Isya dan tarawih pada malam hari. Maka kesempatan kita sebagai umat muslim adalah saling mengingatkan satu sama lain terkait salat witir melalui keilmuan agama. Karena, pada dasarnya ketika kita mengajarkannya, pahala yang diberikan oleh Allah swt pula bertambah pula.

Sehingga kita termasuk orang-orang yang besyukur menjalankan ibadah di bulan Ramadan seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 185, yang pointnya adalah kita diharuskan bersyukur ketika berpuasa. Itu sama halnya juga ketika kita melakukan ibadah Ramadan lainnya seperti menjalankan salat witir. Dan juga merupakan titik kebahagiaan kita agar bisa dekat dengan dengan Allah SWT, terutama perbedaan-perbedaan mengenai salat witir di kalangan masyarakat. Jadikan perbedaan ini sebagai jalan beribadah dengan Allah SWT. Jangan biarkan perbedaan-perbedaan ini sebagai perdebatan yang memecah belah antar sesama umat Islam.

Islam luas dan bermakna karena penuh perbedaan. Mengayomi kaum-kaum minoritas dan melindungi kaum tertindas. Selalu tebarkanlah kebaikan Ramadan di masa sulit ini. Gali hikmah sedalam-dalamnya agar hidup terasa nyaman dijalankan. Tumbuhkanlah rasa kasih sayang semua kalangan baik Islam maupun Non-Islam. Karena kebaikan adalah langkah menuju kesukseskan akherat. Semoga ibadah kita di bulan Ramadan menjadi berokah dan berkualitas. Amin..