Untuk dapat memenangkan peperangan, tentu saja diperlukan persiapan, baik berupa persiapan kekuatan fisik ataupun kekuatan psikis. Inilah yang dilakukan Raden Mas Said. Tak jarang dia mengadakan latihan perang bagi pasukannya. Musthofa, Wakidi dan Ekwandari (2016) mencatat bahwa para pasukan RM Said dilatih perang, misalnya tentang cara menyerang, menangkis dan membela diri. Ini untuk melatih kekuatan fisik.

Sementara untuk melatih kekuatan batin, RM Said sering mengadakan latihan spiritual semisal menyepi, tirakat, tapa brata, dan berdoa kepada Tuhan. Bahkan ada juga latihan berendam di sendang. Semua ini merupakan gemblengan untuk memupuk semangat jiwa dan raga para prajuritnya. Termasuk salah satu pemupuk semangat adalah mendengarkan wejangan dari para kiai, yang salah satunya adalah Kiai Kasan Nuriman.

Siapa itu Kiai Kasan Nuriman?

Ricklefs (2018) mencatat bahwa menurut Serat Wahanabrata, diceritakan ada seorang Bisman dari daerah Laroh (sekarang: Nglaroh) pada zaman Kartasura, yaitu sebelum tahun 1746. Ia adalah anak seorang kiai yang sering melakukan meditasi berat (strenuous meditations). Ketika menikah dengan salah satu puteri Kiai Nurkadim, namanya diganti menjadi Kasan Nuriman.

Tiga bulan kemudian, Kiai Nurkadim jatuh sakit. Ia meminta Kasan Nuriman untuk membasuh jenazahnya setelah meninggal dunia, dengan maksud untuk menurunkan kesaktiannya kepada Kiai Kasan Nuriman. Kiai Kasan Nuriman ini kemudian menjadi mertua, ketika puterinya yang bernama Rara Rubiah dinikahkan dengan RM Said, dan pada saat yang sama sekaligus menjadi guru spiritualnya.

Dalam berbagai sumber disebutkan bahwa RM Said mempunyai 40 prajurit andalan yang disebut Punggowo Baku Kawandoso Joyo, di samping juga memiliki kelompok khusus yang berjumlah enam orang, termasuk di dalamnya Kiai Kasan Nuriman dan puterinya, Rara Rubiah. Di sinilah tampak peran Kiai Kasan Nuriman dalam menggembleng semangat spiritual pasukan baku RM Said.

Menurut Marsudi (dikutip dari Kresnawati, 2019), Kiai Kasan Nuriman merupakan turunan keempat (canggah) dari RM Jatmika atau Sultan Agung Anyakra Kusuma, raja Mataram. Silsilahnya adalah: RM Jatmika menurunkan RM Hino Panembahan Rangga Kajiwan. Panembahan Rangga Kajiwan menurunkan Panembahan Minangkabul Imam Besari atau Gandamustaka Matah. Imam Besari menurunkan Panembahan Masjid Wetan Tembayat, dan Panembahan Masjid Wetan menurunkan Kiai Kasan Nuriman Matah. Selanjutnya Kiai Kasan Nuriman menurunkan Raden Ayu Matahati atau yang bernama kecilnya Rara Rubiah.

Dalam konteks ini menarik ulasan Majalah Tempo (https://majalah.tempo.co/read/selingan/123494/catatan-harian-samber-nyawa) yang membuat catatan harian RM Said, yang di dalamnya dipaparkan bahwa hingga saat ini tidak dijumpai gambar RM Said. Ini merupakan bukti pengaruh Kiai Kasan Nuriman yang berkeyakinan kuat bahwa pembuatan gambar itu dipandang haram. Dengan demikian, Kiai Kasan Nuriman yang menjadi guru RM Said secara genealogis berasal keluarga kerajaan dan keluarga kiai. Benarkah kesimpulan ini? Civitas academica UIN Raden Mas Said Surakarta perlu membuktikannya dengan mengkajinya dengan ilmu silsilah, yang memang bagian dari ilmu bantu sejarah.

Salam beradab dan berbudaya!