Islamsantun.org. IAIN Surakarta sudah menetapkan untuk mengambil nama Raden Mas Said bagi lembaganya ketika berubah menjadi UIN. Mengapa Raden Mas Said? Ini pertanyaan banyak orang.

Raden Mas Said sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional sesuai Surat Keputusan Presiden Nomor 048/TK/1988 Tanggal 17 Agustus 1988. Raden Mas Said juga adalah pendiri Masjid Mangkunegeran yang dikenal sebagai masjid negara di Kauman, yang berubah nama menjadi Masjid Al-Wustho pada tahun 1949.

Ricklefs, sebagaimana dikutip Peter Carey (2020, researchgate.net), menuliskan: “Ini memberitahu kita bahwa dia setidaknya menguasai bahasa Arab yang cukup untuk tujuan saleh ini. […] Ia tak henti-hentinya menuliskan Al-Qur’an, sementara pasukannya menari mengikuti iringan gamelan.

Ia juga menulis […] ‘buku panduan dalam bahasa Jawa dan Arab’, yang pastinya merupakan pelajaran pembacaan Alquran dengan gloses Jawa, serta ‘menulis Alquran dalam bahasa Jawa dan bahasa Arab’, mungkin berarti salinan lengkap Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa Jawa.

[…] Pada tanggal 5 Maret 1788, dia menyelesaikan pembuatan salinan lengkap keenam dari Al-Qur’an”. Menurut catatan Dian Noorma Sari (2006), salinan mushaf ini kini tersimpan di Perpustakaan Rekso Pustaka Surakarta.

Hal menarik lainnya dari Raden Mas Said ini adalah sisi religiusitasnya. Azra menyampaikan bahwa ia merupakan Muslim Priyayi yang menyukai gamelan dan wayang, dan pada saat sama taat menjalanakan rukun Islam. Bahkan, menurutnya, ia adalah pengamal tarekat Syatariyah, salah satu tarekat mu’tabarah di Indonesia.

Semua sisi-sisi ini tentu saja merupakan tantangan bagi civitas academica UIN Raden Mas Said Surakarta untuk melakukan riset-riset terkait sosok Raden Mas Said secara serius.

Selamat menyambut pendirian UIN Raden Mas Said Surakarta.
Salam beradab dan berbudaya!