Islamsantun.org. IAIN Surakarta akan alih status menjadi UIN Raden Mas Said Surakarta. Masjid Tiban Wonokerso, menurut berbagai sumber internet, merupakan tempat persembunyiannya ketika perang melawan Belanda. Konon masjid ini merupakan maket Masjid Demak, yang saat itu Walisongo mencari kayu untuk masjid Demak.

Akhirnya dipilihlah jati yang berasal dari hutan Donoloyo oleh sunan giri. Dibuatlah maket Masjid yang kemudian dinamakan masjid Tiban Wonokerso.

Disebut Tiban karena saat Raden Mas Said dikejar Belanda beliau sembunyi di semak-semak dan anehnya Belanda tidak melihat beliau walau berjarak beberapa meter saja. Beberapa saat kemudian beliau baru sadar bahwa dirinya berada di kolong masjid. Setelah kembali ke Surakarta beliau menyuruh prajuritnya untuk kembali ke masjid itu agar di daerah tersebut didirikan perkampungan yaitu Wonokerso.

Bagaimana kebenaran cerita ini, perlu riset lanjutan. Yang jelas, orang sekitar menyebut masjid ini sebagai masjid yang ditemukan oleh Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa, yang kini masuk cagar budaya di Wonogiri.

Raden Mas Said

Sebagai seorang pendiri Praja Mangkunegaran, Raden Mas Said adalah seorang pejuang yang gigih melawan Belanda. Berbagai senjata yang menjadi pusakanya senantiasa dibawa, sebagai ciri khas dan menjadi tradisi saat itu.

Sumber Googling menyebutkan beliau memiliki tiga senjata, yaitu Keris Kiai Karawelang, tombak Kiai Totog dan tombak Kiai Jaladara/Baladewa. Ketiga pusaka ini kini menjadi peninggalan yang bermakna historis.

Konon, ketiga pusaka bersejarah itu kini disimpan di dalam Tugu Pusaka Selogiri, yang berada di Gunungwijil, Kaliancar, Selogiri Wonogiri.

Tugu pusaka ini dibuat oleh Mangkunegaran VII pada 1935 untuk mengenang bagaimana gigihnya Raden Mas Said dalam berbagai aksi peperangannya. Tesis Sri Suparmi (2009) menyebutkan beberapa pusaka lain yang disimpan di Rumah Tiban Bubakan Girimarto.

Di sini disebutkan bahwa keris Karawelang merupakan salah satu pusaka andalan Raden Mas Said. Begitu keris ini menyentuh tubuh musuh, maka musuh sudah bisa tewas. Untuk melihat kebenaran ini, perlu riset arkeologis yang fokus pada peninggalan benda-benda kuno. Selamat menyambut UIN Raden Mas Said Surakarta.
Salam beradab dan berbudaya!