Awal 1990, pekerjaan mengharuskanku bolak-balik dari Jakarta ke Samarinda setiap bulan. Saat itu, separuh kehidupanku ada di Samarinda. Bahkan, pernah sampai sebulan lebih aku tinggal di kota itu untuk satu kunjungan. Biasanya, aku lanjutkan dengan cuti untuk menyalurkan hobi mengeksploitasi pedalaman.

Beragamnya suku Dayak selalu membuat decak kagum. Termasuk Erau, festival budaya tertua di Nusantara. Pesta rakyat yang diadakan di ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara; sekitar satu jam ditempuh dengan mobil dari Samarinda .

Setelah rutinitas tersebut berjalan beberapa tahun, ada saat yang paling aku nanti, yaitu bulan Ramadan. Masa yang menyenangkan lantaran jam kerja selesai lebih awal. Artinya, lebih banyak waktu luang untuk menikmati kota Samarinda sebelum gelap.

Kesempatan yang tidak boleh dilewatkan adalah bergabung di keramaian pasar Ramadan. Hamparan aneka penganan pada meja yang berjajar menarik minat siapa saja untuk menyantapnya. Aku menemani Nur –teman kantor– membeli makanan untuk berbuka puasa bagi dia dan keluarganya.

Amparan Tatak berdiameter tiga puluh sentimeter sebanyak dua loyang selalu menjadi jajanan yang pertama dibelinya. Makanan wajib buka puasa. Penganan mirip kue talam ini kalau di Jawa ukurannya jauh lebih kecil; hanya setengah genggaman orang dewasa.

Menyediakan makanan berbuka puasa menjadi tugas perempuan piatu ini. Sementara keenam saudara laki-lakinya secara bergantian membeli sayur dan lauk pelengkap makan malam. Tanggung jawab itu yang mendekatkan kami.

Selepas salat magrib, Nur membagi rata Amparan Tatak untuk seluruh keluarga. Pembagian yang adil menurutnya, tetapi terlalu besar untuk aku; yang tidak berpuasa. Irisan itu sangat mengenyangkan sehingga aku menyerah ketika mereka mengajak makan malam setelah tarawih.

Aku lebih sering berada di rumahnya daripada di mes kantor walau fasilitas mes jauh lebih baik. Tempat tinggalnya berada di pinggiran sungai Mahakam. Rumah panggung dengan dinding dan lantai dari kayu itu penuh kehangatan. Terlebih saat Ramadan, mereka selalu berkumpul untuk mengawali puasa dan berbuka, mengingatkanku pada keluarga di rumah; yang selalu bersama-sama saat Natal.

Tawaran untuk menemani sahur aku terima dengan senang hati. Beberapa kali aku berusaha untuk bangun saat dini hari, tetapi mataku enggan terbuka. Aku lebih memilih melanjutkan tidur. Mereka memakluminya, bahkan menyisihkan sepiring nasi lengkap dengan lauk sebagai sarapanku.

Sebelum berangkat kerja, aku menyantap hidangan yang telah dingin itu di belakang rumah. Sungkan. Nur tertawa. Dia memintaku untuk masuk. “Kalau sudah niat, tidak akan tergoda’” jelasnya sambil menemaniku menghabiskan sarapan di meja makan.

Selama Ramadan kantin di kantor tutup. Karyawan yang tidak berpuasa harus keluar kantor untuk makan siang kecuali yang tinggal di mes; tetap disediakan. Ketika Nur datang bulan, aku menemaninya makan siang.

Setelah beberapa hari berganti-ganti tempat makan, akhirnya kami menemukan sebuah warung sederhana di seberang kantor. Letaknya tersembunyi karena tertutup deretan kayu Ulin. Kedai itu hanya menjual nasi, ayam goreng, sambal terasi, dan teh manis.

Diperlukan kesabaran yang tinggi untuk menikmatinya. Pemilik warung mengulek sambal satu persatu di atas cobek sebesar piring makan. Tingkat kepedasannya menyesuaikan permintaan pemesan. Air liur semakin deras saat potongan ayam diangkat dari penggorengan dan langsung diletakkan di atas sambal.

Paduan yang serasi dengan nasi hangat. Kami makan dengan tangan karena tidak disediakan sendok dan garpu. Siraman air teh dari baskom pencuci tangan menutup makan siang kami. Tetapi, air teh tersebut tidak sanggup menghilangkan bau terasi di tangan kami.

Di kantor, kami melanjutkan membersihkan dengan sabun. Berkali-kali dilakukan, tetapi aromanya masih ada. Hal tersebut tidak membuat jera. Warung itu tetap menjadi satu-satunya tujuan saat Ramadan.

Satu alasan lagi yang membuat aku ikut menanti Ramadan adalah suasana. Lebih teduh. Senyuman ada dimana-mana. Jarang melihat orang marah-marah. Andai keadaan tersebut dapat berlangsung selamanya; tidak saat Ramadan saja.

Mengendalikan nafsu pada Ramadan, lain dengan cara berpuasa secara Katolik; agamaku. Ada beberapa jenis puasa dengan tata laksana yang beragam. Cuma satu yang wajib dijalankan, yaitu puasa pada masa Prapaskah. Aturannya adalah makan hanya sekali.

Kewajiban tersebut berlaku bagi umat berumur antara delapan belas hingga enam puluh. Dilakukan sebanyak dua kali. Pertama, pada hari Rabu Abu–awal masa prapaskah–dan yang ke dua–sebagai akhir masa Prapaskah–pada Jumat Suci; peringatan wafatnya Yesus Kristus.

Puasa tersebut disertai dengan berpantang, yaitu tidak makan semua jenis daging atau makanan lain yang disukai. Selain hari Rabu Abu dan Jumat Suci, pantang juga wajib pada setiap Jumat selama masa Prapaskah. Hal ini berlaku untuk orang yang telah berumur empat belas tahun. Namun, tradisi Gereja universal, berpantang dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun. Beberapa rohaniwan dari ordo tertentu menjalankan pantang setiap hari; tanpa jeda.

Banyak perbedaan di antara kami. Namun, persahabatan semakin erat hingga anak kami bertumbuh dewasa. Setiap orang yang meyakini Tuhan dari agama apa pun pasti mencintai sesama dan memperlakukannya sebagai saudara.

Hari ini, ketika menulis, aku lupa nama kue yang dibeli di pasar Ramadan saat itu. Nur memberitahu melalui WhatsApp. Lebih dari itu, dia segera pergi ke Telok Lerong–tempat Amparan Tatak yang enak–dan membelinya. Mengenang kebersamaan kami; puluhan tahun yang lalu. Dan, berharap dapat mengurangi rindu yang terpendam selama pandemi.

***

Tangerang, 12 April 2022