Ini sepotong tulisan pengantarku atas buku “Grounding Islamic Spiritualism”.

Membaca buku antologi karya para santri melenial ini membuat wajah saya berbinar-binar sekaligus menitipkan rasa optimisme akan masa depan negeri ini. Di tengah-tengah situasi bangsa yang sedang disergap krisis intelektualisme yang mencerdaskan, dan reduksi kehangatan relasi kemanusiaan, buku ini hadir menawarkan pikiran-pikiran yang mencerahkan dan mendamaikan hati. Tema-tema yang dipresentasikan di dalamnya begitu aktual dan dianalisis dengan semangat kemanusiaan, modernitas sekaligus kontekstual.

Lebih dari itu, hal yang sangat menarik dari buku ini dan istimewa adalah kajiannya tentang berbagam isu kontemporer yang dianalisis melalui perspektif sufistik, sebagaimana kekhasan pesantren tempat di mana para penulis buku ini belajar dan tafaqquh fi al-din. Pendekatan ini sangat relevan dan penting dalam kehidupan hari ini yang sedang mengalami situasi sosial yang kering kerontang dari nilai-nilai spiritual.

Pandangan-pandangan sufistik melihat segala persoalan, isu dan fenomena kehidupan di dunia ini dari sudut ruh, hakikat atau esensinya. Begitu juga dalam memahami baik teks-teks keagamaan maupun fenomena semesta. Imam al-Ghazali dalam bukunya “Al-Tibr al Masbuk” mengatakan :

والعاقل من نظر أرواح الأشياء وحقائقها ولا يغتر بصورها، فكل من لم يتيقن ذلك فليس بعاقل ومن لم يكن عاقلًا لم يكن عادلًا ومن لم يكن عادلًا مأواه جهنم،

Seorang yang memiliki akal budi adalah memandang segala hal/ sesuatu dari sisi ruh dan esensinya, dan tidak terjebak pada rupa, kulitnya, bungkus. Setiap orang yang tidak meyakini hal ini bukanlah orang yang berakal budi. Siapa yang tidak berakal budi dia tak akan bisa berbuat adil. Siapa yang tidak adil tempatnya di neraka.”