Sebagian besar manusia, terperangkap dalam siklus sirkuit kemelut perebutan kenikmatan duniawi yang tak pernah mau berhenti. Diberi satu gunung emas ingin dua gunung emas dan seterusnya.

Lalu saat bahagia mereka lebih asyik dengan kenikmatan diri dan lupa pada yang lain. Bahkan membiarkan yang lain terlunta-lunta.

Tetapi saat gagal dan menderita mereka mengeluh, marah-marah, caci maki dan menimpakan kesalahan pada orang lain. Katanya : gara-gara dia, gegara mereka, si Anu, konpirasi bangsa Anu dan Anu, dan seterusnya. Lalu mereka terbakar.

Imam Syafii menulis puisi indah :

نَعيبُ زَمانَنا وَالعَيبُ فينا
وَما لِزَمانِنا عَيبٌ سِوانا

وَنَهجو ذا الزَمانِ بِغَيرِ ذَنبٍ
وَلَو نَطَقَ الزَمانُ لَنا هَجانا

وَلَيسَ الذِئبُ يَأكُلُ لَحمَ ذِئبٍ
وَيَأكُلُ بَعضُنا بَعضاً عَيانا

Kita sering mengeluhkan buruknya zaman Padahal keburukan itu berasal dari kita sendiri
Zaman tidaklah buruk. Kitalah yang buruk.

Kita menyerang zaman yang tak berdosa
Andai zaman bisa bicara, ia pasti menyerang kita

Srigala tak akan memangsa srigala
Sedang kita saling memangsa

Imam Syafii memberikan nasehat :

لما عفوت ولم أحقد على أحد
أرحت نفسي من هـمّ العـداوات

Manakala aku memaafkan orang dan tidak mendengki
Jiwaku menjadi tenang
Tak hendak membalasnya

Dan itu menjadi obat bagi stress dan hati yang sakit.

Para bijakbestari berjuang untuk mengalahkan egonya sendiri, bukan menyalahkan orang lain
Mereka selalu bersyukur. Manakala gagal mereka melihat diri sendiri. Apa yang keliru, salah dan lalai dari diriku.

12.08.21
HM