Islamsantun.org. Terorisme Indonesia lahir sebagai respons atas adanya aspirasi politik umat “Islam”. Aspirasi politik ini bergerak di jalan “kanan” yaitu keinginan untuk menerapkan syariat Islam. Ini dimulai sejak DII, hingga kini JAD dan MIT.

Setiap pelaku terorisme di Indonesia memiliki keterkaitan rekam jejak politik Islam di atas itu. Baik dari konsep ideologi, atau yang lahir dari ideologi transnasional, bahkan darah. Lahir dari keluarga turun ke keluarga lainnya. Lahir dari ustaz dan ke santrinya dari ideologi yang sama. Ini terbukti sejak tewasnya Kartosoewirjo lalu ambil alih oleh Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir, yang kemudian sampai ke Noordin M. Top, dan kini generasi MIT.

Terorisme Prospek Indoktrinasi di Indonesia

Banyaknnya kelompok anak muda yang menjadi penerus teroris tersebab banyak hal. Ada yang lahir karena kondisi ekonomi, pendidikan, psikologis, dan doktrin. Misalnya dari kondisi psikologis, pengakuan mereka menjadi teroris karena menganggap hidupnya tidak bermakna.

Situasi ini kemudian dikapitalisasi oleh ustaz/mentor berwajah teroris. Bahwa menurut ustaz/mentor ini, jiwa-jiwa yang redup karena kehilangan makna hidup harus kembali pada agama. Kebermaknaan hidup akan kembali jika agama menjadi tumpuan.

Agama adalah tempat kembali. Dari situlah kemudian ustaz/mentor ini, mengarahkan mereka untuk melakukan jihad. Maka, jalan jihad inilah nantinya para pelaku yakini sebagai satu-satunya untuk mengembalikan kebermaknaannya diri.

Bom bunuh diri menjadi pilihannya. Atau berperang berkumpul memusuhi agama lainnya menjadi jalan utamanya. Banyak di antara yang bergabung adalah pemuda dari latar belakang berbeda: kegagalan di masa lalu, balas dendam, penebusan dosa, hingga alasan mati syahid untuk mendapatkan keistimewaan di akhirat seperti menikahi 72 bidadari di surga (Mapparessa, 2019).

Kondisi psikologis terbumbui manisnya teologis menjadi bara api dalam nadi remaja. Maka, tak heran jaringan teroris global bisa merekrut banyak anggota dalam kurun dua tahun di 2001. Bahkan di dalam keluarga yang mapan seperti kasus bom gereja di Surabaya, menjadi mainan para teroris laknat itu.

Tak banyak seperti di Afghanistan. Tapi teroris di Indonesia terkenal sangat bengis dan mematikan. Mereka berani mengorbankan keluarganya hanya pada janji dan rayuan palsu. Para teroris senior bakal berjanji, bahwa jika ia mau mati dengan mengebom, maka anak-anaknya atau keluarga yang tertinggal akan terpelihara hidupnya dengan sejahterah.

BACA JUGA  HAM, Aktivis HAM, dan Simpatisan Teroris

Maka, menjadi bukti tak terbantahkan di Indonesia, para sukarelawan teroris ini siap meledakkan diri di tempat sasaran-sasaran tertentu. Pengantin bom panci di Jakarta itu menjadi buktinya. Mereka suka rela melakukan amaliyah dengan iming-iming surga. Padahal tidak tahunya dapat lelehan bara api neraka. Kenak tipu-tipu.

Faktor Pendorong dan Penarik

Perilaku teroris di atas terjadi karena faktor pendorong dan penarik. Sikap berontak atau radikalisme muncul secara membabi buta dalam dirinya. Mereka memilih jalan “lain” untuk menuruti hawa nafsunya. Bertindak sekarepnya. Di ujung jalan, ia diterima oleh bangsa penarik.

BACA JUGA  Polemik Masker di Masjid; Antara Eksklusivisme dan Mindset Anti-Pemerintah

Penarik ini adalah orang lain yang memanas-manasi kekelaman hidup individu di atas. Ia lahir dan terjadi antara interaksi melalui berbagai media seperti kelompok pengajian, lewat dunia maya, dan juga melalui tatap muka intensif (Azra dalam Zulfahri, 2020) seperti dilakukan ustaz, mentor, dan senior gerakannya.

Maka dari interaksi antara individu dengan penarik, lalu terarahkan ke jalur jihad, hijrah, perang, dan bom bunuh diri. Motivasi-motovasi yang terucapkan dari ustaz dan mentor menjadi subsidi hati menguatkan egoisme batin untuk segarah membunuh dan melakukan amaliyah.

Ustaz dan mentor secara cepat mengubah cara pandang mereka. Dalam bahasa lain, ia mengalami proses radikalisasi. Sebuah proses di mana kandidat akan mengalami indoktrinasi, proses pelepasan nilai-nilai moral, dan penguatan ingroup dan outgroup (Zulfahri, 2020). Proses ini kemudian menghasilkan kesiapan kandidat bom bunuh diri dan martir. Proses ini terjadi bukan hanya di dunia teroris tetapi juga di dunia sekolah keislaman kanan.

Dalam diri kandidat itu kemudian ditancapkan sifat kepasrahan, orang menyebutnya imoortality. Kandidat teroris atau bom bunuh diri merasa tidak hanya mati begitu saja. Melainkan kemudian ia akan hidup kekal di akhirat dengan nasip yang mulia. Ia menganggap mendapat kemuliaan dari kematian sia-sianya.

Bahkan, di dunia nyata teroris ini akan dianggap pahlawan oleh kelompoknya. Dan wasiat-wasiat yang ditulis akan dapat menjadi legacy untuk keluarga atau rekan dekatnya agar mengikuti jalan nahasnya. Ingatlah peristiwa perempuan penembak Mabes Polri, Jakarta. Itu sekelumit misteri terorisme di Indonesia.

Selengkapnya baca di I