Islamsantun.org. Ketika cahaya spiritual seseorang semakin terang, di saat dia membaca Qur’an, dia seakan mendengarkan bacaan-bacaan kitab suci kaum muslimin itu dari para sahabat Nabi Muhammad Saw yang telah menyaksikan langsung peristiwa agung pewahyuan. Begitu bergetar dia menyusuri keindahan sekaligus keagungan firman-firman Allah Ta’ala yang merupakan mukjizat terbesar sepanjang sejarah kehidupan umat manusia.

Lalu, dia seakan menyimak dan merasakan bacaan-bacaan ayat-ayat suci itu meluncur langsung dari lisan Rasulullah Saw yang penuh dengan keberkahan. Begitu terpesona dia oleh kalam-kalam Ilahi yang seolah dibacakan oleh orang yang paling suci dan paling bermartabat, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Kemudian, dengan terus-menerus menyusuri jenjang-jenjang ruhani pada bacaan-bacaan Qur’an itu, dia seakan mendengarkan langsung firman-firman itu dari Rabbul ‘Alamin dengan tanpa huruf dan suara. Serasa lenyap seluruh keberadaan dirinya, digantikan oleh wujud dan kesadaran Allah Ta’ala.

Keindahan transendental pada saat yang sangat agung itu adalah keindahan yang tak terpermanai, keindahan yang tidak sepenuhnya tertampung baik oleh ungkapan lisan maupun tulisan-tulisan, keindahan yang ketika diungkapkan hanya akan tinggal separuh atau bahkan hanya sepuluh persennya saja, keindahan yang terlampau agung untuk diterangkan dengan apa pun.

Keindahan yang sangat sakral semacam itu oleh para sufi sering kali dititipkan pada kesucian sekaligus kesunyian puisi sebagaimana yang telah dilakukan oleh Maulana Rumi (1207-1273) dalam salah satu puisinya berikut ini: “Musim semi telah datang, musim semi telah datang, musim semi yang penuh dengan bunga-bunga telah datang.

Kawanku telah datang, kawanku telah datang, kawanku yang memikul beban telah datang.”

Puisi di atas berusaha semaksimal mungkin menggambarkan kegembiraan yang bertalu-talu dalam diri Maulana Rumi, juga dalam diri siapa saja yang telah dianugerahi kedekatan yang begitu intim dengan hadiratNya.

Idiom-idiom tentang musim semi dan bunga-bunga sengaja dipilih untuk menciptakan korelasi yang sepresesif mungkin dengan kegembiraan spiritual yang senantiasa dikunyah dengan sangat lahap oleh ruh sang pecinta.

Baik musim semi maupun bunga-bunga sama-sama merupakan gambaran keindahan yang tidak saja alami, akan tetapi juga memiliki nilai-nilai yang sangat transendental yang menunjuk kepada awal mula penciptaan ketika segala sesuatu masih murni dan asri, ketika keelokan wajah Tuhan “masih” sedemikian nyata dan mempesona.

Adanya pengulangan kalimat yang disengaja (musim semi telah datang, musim semi telah datang) mengacu kepada gemuruh ketakjuban yang tidak kunjung rampung terhadap segala keindahan dan kemahaanNya yang tidak pernah tersentuh oleh batas dan ukuran apa pun.

Panutan seluruh umat manusia yang kenabian dan kerasulannya merupakan rahmat bagi semesta alam, Muhammad bin ‘Abdullah, pernah melengkingkan sepotong doa kepada Allah Ta’ala: “Rabbi zidni tahayyura/ Tuhanku, tolong tambahkanlah kepadaku rasa ketakjuban itu.” Itulah ketakjuban yang tidak akan pernah memiliki tepi karena obyek dari ketakjuban itu sendiri sungguh sangat mutlak dan sedemikian absolut.

Idiom kawan pada puisi di atas mengacu kepada kedekatan yang begitu sublim antara Maulana Rumi atau siapa pun yang telah mengalami pendakian ke puncak cinta ilahiat dengan Tuhan semesta alam. Pengulangan ungkapan tentang datangnya kawan yang sangat dirindukan itu adalah bukti mengenai “dua sisi” dari mata uang yang tunggal.

Artinya adalah bahwa seorang kekasih Ilahi itu tidak akan pernah bisa sepenuhnya terpisah dari hadiratNya. Ibarat keterhubungan samudra raya dengan gelombangnya. Gelombang itu memang bukan samudra. Akan tetapi, bisakah gelombang itu eksis tanpa samudra? Sama sekali tidak mungkin. Sungguh, tidak mungkin. Karena jelas bahwa keberadaan gelombang itu murni bergantung kepada eksistensi samudra. Tidak bisa sedetik pun terlepas darinya. Sama sekali hal itu tak mungkin.

Makna lain dari filosofi idiom kawan itu juga menunjuk kepada adanya “kesetaraan” kedudukan antara pecinta dengan kekasihnya. Artinya adalah bahwa cinta ilahiat yang telah jadi sarana penghubung antara seorang pecinta hakiki dengan hadiratNya sanggup menciptakan bentangan “relasi horizontal” di antara keduanya.

Dalam konteks hubungan di antara sesama manusia, bukankah cinta sanggup mengangkat derajat seorang budak menjadi raja? Demikian juga sebaliknya. Yaitu, dengan cinta pula pangkat seorang raja bisa turun ke tingkatan budak. Sungguh, sangat mengagumkan.

Ketika Allah Ta’ala mencintai seseorang dari kalangan hambaNya, maka diciptakanlah rerindangan pohon cinta ilahiat di keluasan hati si hamba itu. Dan cinta ilahiat itu akan menjadikan si hamba tidak lagi bersikap struktural ketika mempersembahkan seluruh sembah sujud di hadapan Allah sebagai kekasihnya, tapi akan menggelar poros “horizontal” di mana cinta suci merupakan hiasan utamanya. Wallahu a’lamu bish-shawab.