Ngomongin Palestina dalam kaitannya dengan penjajahan Israel, nggak bisa sepotong-sepotong, separo-separo, sepenggal-sepenggal: kudu utuh-menyeluruh. Pun nggak bisa menjadikan satu-dua bentrokan antara keduanya sebagai alat ukur buat menentukan Israel berada di posisi yang benar hanya karena, misalnya, pada bentrokan terakhir di Masjid Aqsa beberapa orang Palestina memulai melempari polisi Israel; nggak bisa juga dengan sendirinya menentukan Palestina bersalah hanya karena, misalnya, setelah bentrokan di Masjid Aqsa, Hamas menembakan rudal ke Israel.

Satu lagi, dalam kasus Palestina kontra penindasan Israel, nggak bisa kita bersembunyi di balik kata-kata retoris “kita harus adil dan obyektif dalam memandang dan memahami bentrokan antara keduanya”, karena sejak awal kelakuan Israel jauh dari keadilan. Parah lagi, jika retorika itu sejatinya selubung diam-diam dukungan bagi Israel vis-a-vis Palestina.

Frame besarnya, menurut saya, jelas: dua pihak dalam posisi tidak seimbang, satu menjajah satunya dijajah, satu menindas satunya ditindas, satu mencaplok satunya dicaplok, satu congkak satunya tertunduk lesu. Celakanya, yang satu kuat satunya lemah dan kepayahan. Yang satu diback-up habis-habisan negara Adidaya, satunya “hanya” didukung sekadarnya negara-negara Ketiga bahkan ditinggalkan sebagian saudara-saudara serumpun. Dalam frame besar ini kita seharusnya membaca setiap bentrokan, kekerasan, dan konflik Israel vs Palestina.

Jika frame-nya seperti itu, maka bagaimana bisa kita tidak memihak dengan aneka dalih: Israel punya hak atas tanah Palestina karena itu adalah janji Tuhan bagi mereka sebagaimana termaktub dalam teks-teks suci agama mereka. Lha, katanya ini bukan konflik agama, tapi kenapa kamu tiba-tiba bawa-bawa teks suci agama? Ada juga yang diam-diam membela Israel dengan menyalah-nyalahkan orang Palestina sebagai enggan hidup damai berdampingan, atau menyesalkan sikap orang Palestina yang sejak awal menolak pembagian wilayah rancangan PBB tahun 1947: satu blok untuk bangsa Palestina, satu blok lagi untuk Israel.

Ada pula yang menarik dukungan bagi Palestina setelah melihat beberapa negara Arab (Mesir, Yordania, Emirat dan Bahrain) malah berdamai sama Israel. Ada lagi yang menarik dukungannya setelah tahu bahwa di internal Palestina sendiri ada faksi-faksi yang nggak satu kata soal musuh bersama mereka; Israel. Rupa-rupa cara orang mundur (tidak) teratur dari sekadar mendukung perjuangan sebuah bangsa yang nyata-nyata ditindas oleh sebuah negara “cangkokan” yang congkak.
—–

Beberapa hari lalu di akun IG miliknya, Permadi atawa Abu Janda, memposting apa yang disebutnya sebagai “meluruskan fakta dari pelintiran media.” Intinya, pada bentrok terakhir di Masjid Aqsa antara polisi Israel dan sejumlah warga Palestina, yang memulai dan memicu keributan adalah warga Palestina dengan melempari polisi Israel. Pun yang terjadi di Gaza, yang memulai adalah Hamas dengan menembakan rudal ke Israel. Permadi pengen bilang, “wajar dong polisi beraksi balik menyerang warga yang memulai melempari. Wajar dong Israel balas ngebom Gaza.”

Nggak sesederhana itu, Abu! Bayangkan Anda orang Palestina yang tinggal di Yerussalem Timur. Itu tanah kelahiramu, kota milikmu yang dicaplok Israel tahun 1967. Bayangkan seperti apa sikapmu terhadap si pencaplok! Bayangkan seperti apa kamu melihat polisi si pencaplok mondar-mandir di tanah yang sesungguhnya milikmu! Katakanlah bahwa kamu yang memulai melempari polisi. Tapi apa bisa dibenarkan reaksi berlebihan polisi terhadapmu? Jangan-jangan memang para polisi itu nunggu “provokasi” kamu supaya mereka punya “alasan” untuk menghajar kamu dengan cara yang lebih sadis!

Sebut saja Hamas memulai menembakan rudal ke Israel. Tapi apakah dengan begitu segala kebrutalan dan kekerasan Israel atas Palestina wabilkhusus atas Gaza sejauh ini dapat dibenarkan? Apakah pengusiran besar-besaran warga Palestina dari tanah air mereka oleh Israel, apakah pencaplokan dan pendudukan tanah-tanah orang Palestina oleh Israel selama ini; apakah semua itu jadi tindakan yang benar hanya karena sesekali Hamas memulai menembakan rudal ke Israel?
—-

Saya tidak tahu seperti apa nanti ujung dari konflik ini. Apakah tanah itu terbelah jadi dua sebagaimana rancangan PBB: Satu bernama Palestina, satunya bernama Israel, satu sama lain hidup berdampingan secara damai, meski dilihat dari kacamata sekarang hal itu lebih dekat ke mustahil tinimbang kemungkinan. Apakah atas kuasa Tuhan semua tanah hanya satu nama: Palestina, sebagaimana diteriakan Pimpinan Hezbollah, Hassan Nasrallah. Ataukah, malah semua bernama Israel seperti diimpikan mereka yang memimpikannya. Yang nyata bagi saya, ada penjajahan di sana.

Dan penjajahan jelas harus dikutuk, si terjajah harus dibela, meski saya dan banyak dari kita membelaanya cuma lewat kata-kata! Saya tidak tahu apakah nantinya semua negara Arab akan ikut jejak Mesir, Yordania, Emirat dan Bahrain berdamai dengan Israel. Ataukah atas kuasa Tuhan, negara-negara itu memutus janji damainya dengan Israel. Yang nyata, ada penindasan di sana, dan penindasan harus dikutuk, dan si tertindas harus dibela, meski lagi-lagi kutukan saya sebatas kata-kata. Fatah dan Hamas mungkin beda pandangan soal strategi perjuangan dan orientasi politik masa depan mereka. Itu soal nanti. Sekarang kita dukung saja keduanya melawan musuh bersama mereka.