Islamsantun.org. Dunia terus bergerak dengan menghamparkan berbagai realitas dalam peradaban. Ilmu pengetahuan menjadi satu bagian terpenting di dalamnya. Manusia sebagai spesies Homo Sapiens dengan warisan akalbudi menjadi pioner dalam aktivitas membuka tabir demi tabir misteri kehidupan. Kemampuan bernalar dan berpikirnya lantas membuka peluang akan berbagai kemajuan yang dilahirkan dari ilmu pengetahuan. Satu di antaranya adalah teknologi, secara mendasar sebagai kerja praksis dari ilmu pengetahuan. Teknologi dengan beragam jenisnya membuka peluang untuk meningkatkan martabat umat manusia.

Namun, apakah dengan demikian teknologi memberikan jaminan akan kehidupan lebih baik atau peningkatan martabat manusia? Rasanya tidak. Pada kenyataannya, teknologi adalah satu hal yang menganduk paradoksal. Ada ancaman tak terkira atas keberadaan teknologi. Apalagi, di era serba penggunan istilah “teknologi” baik itu sebagai slogan kemajuan sebuah negara maupun lambang kemakmuran, nyatanya teknologi tidak lepas melahirkan masalah-masalah baru. Di antaranya: meningkatnya budaya konsumerisme, menguatnya kesenjangan sosial, bahkan kejahatan dengan memanfaatkan teknologi, baik itu perundungan, pembohongan, penipuan, dan pencurian.

Agaknya, Niel Postman lewat buku berjudulkan Teknopoli: Budaya, Saintisme, Monopoli Teknologi tersebut memiliki pemikiran dengan didasarkan upaya penerokaan dunia pasca teknologi. Akademisi dari New York University itu memaparkan lanskap gagasannya dengan istilah teknopoli, situasi di mana sebuah masyarakat tidak sebatas menggunakan teknologi sebagai sistem pendukung dalam kehidupan, namun juga terkait akan bagaimana teknologi mengambil alih peran dalam membentuk sebuah peradaban di kelompok masyarakat.

“Teknopoli adalah sebuah keadaan budaya. Ia juga merupakan kondisi pikiran. Ia adalah pendewaan teknologi, yang berarti budaya mencari otoritasi dalam teknologi, menemukan kepuasan dalam teknologi, dan menerima tatanannya dari teknologi. Ini membutuhkan pengembangan jenis baru tatanan sosial, dan keniscayaan mengarah pada penggerusan cepat banyak hal yang terkait dengan kepercayaan-kepercayaan tradisional” (hlm. 99).

Kenyataan yang kemudian dipaparkan oleh Postman akan maujud dari keberadaan teknologi itu antara lain seperti anak datang ke sekolah karena ada faktor yang mengondisikan—keberadaan televisi dengan pengaruhnya. Ada gejolak perebutan pengaruh baik itu politik, agama, dan perniagaan. Hal itu melahirkan kegagalan akan makna pendidikan. Kegagalan tersebut tak disebabkan pendidian itu sendiri, namun melainkan dari itu kompilasi yang dihadirkan dari perang media.

Dalam lingkungan teknopoli, orang dibiasakan melakukan sesuatu dilandaskan pada bagaimana cara mengakses informasi. Ia disingkirkan dari perkara memhami tujuan dengan melontarkan sebuah pertantaan. Kondisi tersebut tentu saja mengasingkan diri dri sikap berpikir kritis dan bertindak skeptis. Situasi tersebut tentu membahayakan bagi keberadaan tiap manusia. Bagaimana teknologi dengan kekacauan yang membayangi kemudian memanipulasi pikiran manusia. Kehidupan manusia rumit dan runyam.

Saintisme

Keberadaan saintisme menjadi sebuah hal yang begitu erat dengan keberadaan teknopoli. Saintisme muncul tak terlepas dari unsur pengekangan yang muncul di kalangan saintis atas kepercayaan maupun ideologi yang diyakini. Hubungan antara sains dan ideologi pada dasarnya melahirkan dua watak yang berbeda. Di satu sisi keduanya memiliki persamaan mendasar dalam mewujudkan tujuan berupa aksiologi dalam tataran masyarakat, namun di sisi lain melahirkan ancaman keberadaan saintisme, yang berarti sains dengan metodologinya diakui sebagai satu-satunya sumber kebenaran.

Di catatan filsuf perempuan, Karlina Supelli (2017) menjabarkan du ahal yang menjadi ancaman terhadap ilmu pengetahuan. Masing-masing adalah relatvisme dan fundmentalisme. Saintisme mengarah pada konsep fundamentalisme sebagaimana diungkapkan Karlina dalam ceramah ilmiah berjudulkan Ancaman Terhadap Ilmu Pengetahuan tersebut berupa: menaruh semua urusan kehidupan di bawah satu sistem nilai yang diyakini paling mendasar dan murni, yang tidak tercemar oleh tafsir. Fundamentalisme tidak selalu bersifat keagamaan.

Postman mengungkapkan tiga argumen mendasar yang mengurai keberadaan saintisme yang kemudian menjadi satu pilar dari keberadaan teknopoli. Pertama, gagasan bahwa metode ilmu pengetahuan alam bisa diterapkan pada kajian manusia. Kedua, asas spesifik yang dihasilkan dalam ilmu sosial untuk menciptakan realitas pengetahuan yang rasional dan manusiawi. Ketiga, integrasi antara iman dan sains yang dapat membentuk kepercayaan komprehensif untuk memberi makna kehidupan, rasa kesejahteraan, moralitas, dan keabadian.

Menuju Kesadaran

Kesadaran apa yang perlu dilakukan dalam menghadapi situasi tersebut? Ada pola yang mestinya dilakukan dalam menghadapi keberadaan teknopoli. Postman setidaknya mengungkapkan di bagian akhir yang ada di buku tersebut. Ia merujuk pada tradisi trans-disiplin ilmu pengetahuan sebagai konsep dalam pendidikan. “..kurikulum di mana semua mata pelajaran disajikan sebagai tahap perkembangan sejarah umat manusia; di mana filsafat ilmu, sejarah, bahasa, teknologi, dan agama diajarkan; dan di mana ada penekatan kuat atas bentuk klasik ekspresi artistik” (hlm. 264).

Secara tersirat, ia menghindarkan pola keilmuan yang dikotomis, membedakan antara satu dengan lainnya. Ia menekankan akan tiap-tiap ilmu pengetahuan saling memiliki hubungan erat. Terlebih adalah situasi kompleks yang dihadirkan atas perkembangan secara pesat dalam teknologi. Teknologi dan kebudayaan bukanlah dua hal yang berlainan. Namun, keduanya silih berganti saling memberikan pengaruh. Kebudayaan yang telah ada memberikan peluang akan munculnya teknologi baru. Sebaliknya, teknologi yang ada saat ini melahirkan kebudayaan baru dalam fase perkembangan manusia.

Pada situasi pasca teknologi sebagaimana digambarkan oleh Postman, kompleksitas yang muncul adalah sesuatu yang nyata. Seakan manusia terus diuji pada perkara eksistensi dirinya. Akankah manusia secara kolektif dapat melalui fase tersebut dengan mengedepankan teknologi yang berwajah kemanusiaan? Atau bahkan teknologi justru menguasai keberadaan manusia dengan kedigdayaannya dan lepas tanpa kontrol? Peradaban terus dinamis. Kita tak perlu mengkhawatirkan, andai kita terus berani menyangsikan segala realitas yang ada dengan keteguhan diri dalam memfungsikan akalbudi.

Judul: Teknopoli: Budaya, Saintisme, Monopoli Teknologi; Penulis: Neil Postman; Penerjemah: M. Danil Herdiman; Penerbit: Basabasi, April, 2021; Tebal: 276 halaman; ISBN: 978-623-305-210-8.