“(mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (Q.S. Al-Nahl: 44)

Sayyid Quthb dalam tafsirnya, Fi Zhilal al-Qur’an, ketika menjelaskan makna “wa la’allahum yatafakkarun” menegaskan bahwa maksud diturunkannya al-Qur’an itu, agar manusia senantiasa memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah, ayat-ayat al-Qur’an, dengan cara bertafakkur dan tadabbur. Yang demikian ini agar pikiran dan perasaannya tercerahkan.

Penulis sangat sepakat dengan pernyataan Sayyid Quthb tersebut. Al-Qur’an dalam sejumlah ayatnya, selain memerintahkan kita untuk selalu mengingat dan menyebut Allah (zikir), juga mengajak kita untuk berpikir dan merenung. Berfikir dan merenung tentang diri sendiri, tentang alam sekitar, tentang ciptaan Allah Swt.

Hasil dari proses zikir dan pikir atau merenung itu adalah sebuah sikap seorang, yang disebut al-Qur’an sebagai ulul albab yang meyakini bahwa tidak ada satu pun yang diciptakan Allah sia-sia.

Al-Qur’an adalah kitab pencerah pikiran. Mengkaji al-Qur’an dengan penuh keikhlasan dan ketulusan akan menghadirkan terangnya pemahaman, bersinarnya akal, serta bercahayanya pengetahuan kita.

Pikiran yang cerah karena disinari oleh cahaya al-Qur’an, akan menjadikan ilmu yang didapat seseorang sebagai penuntun dan penunjuk ke jalan kebenaran. Pikiran yang cerah karena disinari oleh cahaya al-Qur’an akan menjadikan seseorang bersikap arif, bertindak bijak, berlaku santun.

* Ruang Inspirasi, Jumat, 3 September 2021.