Islamsantun.org. Potret pendidikan Indonesia selama pagebluk Covid-19 yang melanda dunia saat ini mengalami banyak perubahan, segala bentuk interaksi manusiapun berubah. Sebelumnya proses pembelajaran dilakukan secara ofline (PTM) pembelajaran tatap muka, namun dikarenakan pagebluk yang melanda saat ini proses belajar mengajar dilakukan secara daring (PJJ) pembelajaran jarak jauh di semua jejang pendidikan.

Sistem pembelajaran jarak jauh (online) jika ditinjau dari dua sudut pandang positif dan negatif mempunyai aspek kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam sudut pandang sisi positif akan menumbuhkan kreativitas, inovasi, kemandirian, dan fleksibel bagi peserta didik, sedangkan jika dilihat dari sisi kekurangannya penguasaan dan pemahaman materi menjadi berkurang, guru atau dosen mengalami kesulitan dalam penilaian, pengawasan menjadi berkurang, sehingga menyebabkan menurunya motivasi belajar dan kondisi psikologis anak dapat terganggu.

Melihat fenomena hal tersebut Kemendikbud Ristek Nadiem Anwar Makarim tidak lantas berdiam saja, beliau melakukan upaya trobosan-trobosan baru untuk mengembalikan kembali anak ke sekolah untuk menimalisir terjadinya learning loss dan dampak psikologis anak yang bisa berdampak permanen, harus segara dilakukan seaman mungkin dan secepat mungkin. Kemudian upaya yang dilakukan Nadiem yaitu dengan melakukan percepatan vaksinasi bagi pelajar, mahasiswa dan tenaga pendidik. Harapannya dengan melakukan langkah tersebut proses belajar mengajar secara ofline dapat segera dilaksanakan.

Potret pendidikan di Indonesia saat ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof Musa Asy’arie bahwa rasionalitas pendidikan adalah mencari makna dan pemaknaan hidup. Hidup menjadi lebih bermartabat dan bermakna bagi sesamanya. Dalam pendidikan, anak didik adalah subyek, obyek dan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Substansinya adalah memanusiakan manusia pendidik dan anak didik.

Dengan demikian pendidikan adalah proses pembelajaran makna kebenaran, bukan pembenaran atas aliran, ideologi, institusi dan kepentingan subyektif pendidikanya. Sehingga pendidikan bukanlah pemasungan kemerdekaan pribadi dan kebebasan berfikir.

Jika seandainya suatu aliran atau ideologi dan institusi sosial kegamaan mandirikan usaha pendidikan, maka subtansinya adalah membentuk manusia yang merdeka , bertanggung jawab dan beramal shaleh. Meningkatkan karya kesalehan dalam peradaban mulia. Rasionalitas pendidikan adalah kebersihan hati dan membersihkan diri untuk mengabdi pada makna kebenaran otentik . diperlukan jiwa pengabdian, ketulusan dan komitmen yang tinggi pada realitas kebenaran.

Rasionalitas pendidikan adalah kebersihan hati. Pendidikan akan rusak kalua pendidiknya tidak bersih hatinya. Sehingga diharapkan dengan pendidikan yang memanusiakan manusia menumbuh dan mengembangkan kreativitas, inovatif dan aplikatif bagi peserta didik.

Selain itu pendidikan moderasi beragama di masa pagebluk merupakan salah satu kunci untuk saling memanusikan manusia, dengan moderasi beragama dapat mengembangkan sikap toleran dan rukun sehingga memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan masuknya muatan moderasi beragama dalam kurikulum pendidikan diharapkan dapat mengembangkan wawasan multicultural dan multireligius di kalangan masyarakat (pendekatan bottom-up) dan mengintensifkan dialog antar umat beragama berbasis komunitas (community based) dan melibatkan seluruh masyarakat untuk menyelenggarakan kegiatan sosial-ekonomi lintas budaya dan agama khususnya di kalangan generasi milenial.

Oleh karena itu, berdasarkan urain diatas perlu dipahami bersama bahwa dalam situasi pandemi Covid-19 seperti ini di luar nalar dan jangkauan umat itu sendiri. Pendidikan yang memanusiakan manusia dan moderasi beragama di tengah pandemi Covid-19 menjadi suatu isu yang menarik yang perlu dimaksimalkan dalam menghadapinya. Tenaga pendidik harus mampu memanusiakan peserta pendidiknya dan peserta didik harus mampu bersikap moderat dalam menjalani kehidupan keberagamaa ini, bukan hanya memberikan propaganda diberbagai aspek, misalnya menebar hoax dan kencian dimedia sosial.

Keduanya mempunyai korelasi yang sama antara pendidikan yang memanusiakan dengan pendidikan moderasi beragama jika di perumpamakan seperti bangunan dengan fondasi, jika salah satu darinya tidak ada maka bangunan tersebut tidak bisa didirikan. Seperti halnya pendidikan dengan moderasi beragama yang merupakan satu muatan yang harus saling mendungkung dan saling suprot, jika salah satu darinya tidak ada maka pendidikan tersebut akan terasa complang dan sempurna.

Namun hal tersebut harus dibarengi dengan saling bergandengan tangan dan bersatu melebur menjadi satu untuk Indonesia kuat Indonesia yang bermartabat, Sehingga diharapkan kedepannya sektor pendidikan di Indonesia mampu kembali menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka (PTM) sehingga diharapkan kajian-kajian keilmuwa akademisi akan terus berjalan dan mutu pendidika Indonesia akan kembali meningkat.

Semoga kebaikan yang kita tanam di dunia akan dibalas Allah SWT dengan surganya. Semoga kita selalu senantiasa diberikan Allah SWT kesehatan, kekuatan dan kebarokahan dalam menjalani kehidupan ini. Semoga kita menjadi hamba-hambanya yang terus beriman dan beramal shaleh. Amin.

Dwiky Bagas Setyawan. Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta.