Beberapa hari ini ada banyak perang opini di berbagai belahan dunia, demikian juga di Indonesia. Di masyarakat Indonesia juga terjadi dukung mendukung, ada yang mendukung Palestina, ada yang mendukung Israel (walau tidak terang-terangan). Ada pula yang netral, tidak mendukung keduanya, dengan berusaha mendamaikan antara kedua kubu yang tidak pernah usai dalam perseteruannya. Aksi dukung medukung antara kedua pihak lengkap dengan berbagai alasan dan rasionalitas yang dicipta.

Saya tidak punya kemampuan berbicara konflik Palestina dan Israel, karena saya bukan seorang analis Timur Tengah, tidak seperti Gus Zuhairi Misrawi seroang analis Timur Tengah, “Saat Timur-Tengah berkecamuk, menjamur Ahli Timur Tengah. Padahal tidak punya karya tetang Timur-Tengah. Dan merasa paling pakar dengan bermodalkan Wikipedia”, demikian beliau tulis dalam laman Facebooknya. Berbeda dengan Kang Sumanto Al Qurtuby yang menulis tentang “Bangsa Palestina” dan “Bangsa Israel”, yang pada paragraf pertama sudah membuka pembicaraan terkait dengan dukungan umat Islam Indonesia terhadap Palestina bila terjadi konflik Israel-Palestina, menurutnya pembelaan masyarakat Indonesia karena adanya asumsi bahwa Palestina adalah umat Islam, sehingga perlu didukung, yang kemudian ditutup dengan paragraf “kalau mau membantu jangan hanya warga Palestina tetapi juga warga Indonesia yang juga banyak dari mereka yang hidup sengsara dan menderita lahir-batin” Kang Sumanto banyak mengurai tentang kedua bangsa ini dari aspek struktur demografinya.

Gus Ulil Abshar Abdalla juga menulis tentang Palestina, dalam paragraf kedua beliau menulis “Yang mendorong saya bersikap seperti sekarang (tegas dalam membela Palestina) adalah satu: propaganda Israel untuk membenarkan kejahatannya terhadap warga Palestina mulai ditelan oleh sejumlah kalangan di Indonesia, bahkan sebagaian menyalahkan warga Palestina karena dianggap memprovokasi Israel sehingga melakukan tindakan balasan secara militer”. Dan masih banyak opini-opini lainnya terkait dengan Palestina vs Israel hari ini.

Saya bukan seorang Analis Timur Tengah, saya hanya “sedikit banyak” membaca karya sastra penyair Timur Tengah terutama Mesir, Yordania, Palestina, Djibauti, Saudi Arabia, Aljazair, Maroko, Oman, Mouritania, dan beberapa negara lainnya. Tapi, tidak ada salahnya bagi siapa pun yang berbicara tentang apa pun, asalkan apa yang ditulis berdasarkan fakta atau hasil pembacaan. Menulis bagian dari sebuah kepedulian denga apa yang terjadi, walau diamnya seseorang tidak berarti ia benar-benar diam.

Beberapa tahun yang lalu saya dan Dr. Faisol berkunjung ke kediaman Prof. Dr. Muhammad Majid Al-Dakhil di Al Hasn, Guru Besar Sastra Arab di Universitas Al Balqa’ Yordania. Mengenal beliau 4 tahun yang lalu di grup Muhibbul Lughah Arabiyah wa Adabiha . Beliau banyak meneliti tentang “Muqawamah Falestinia” dan pergumulan sastra perlawanan di Timur Tengah. Sedangkan saya ketika itu meneliti tentang “Tajalliyat Sira’ fi al-Adab al-‘Arabi> al-Ma’as}ir Wa al-Harb al-Araby”. Karya sastra tentang pergerakan, peperangan, perlawanan, kekacauan Timur Tengah dan kaitannya dengan sastra Arab Modern.

Pertemuan yang indah, setelah berkeliling di kebun Zaitun miliknya, ia memaparkan pemikirannya tentang perlawanan, kekacaun dan pergerakan di Syam (Palestina, Yordania, Suria dan beberapa negara lainnya) yang dikaitkan dengan teks sastra yang muncul. Menurutnya, perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel adalah sebuah kewajaran dan bahkan sebuah keharusan. Bangsa Israel yang merebut tanah Palestina dengan dukungan negara-negara Adi Kuasa di dunia tentunya tidak akan pernah seimbang dengan kekuatan rakyat Palestina, negara saja tidak punya, bagaimana ia membangun kekuatan? Kekuatan rakyat Palestina hanyalah doa dan perlawanan seadanya, sehingga terbit karya-karya sastra luar biasa dengan tema-tema “Muqa>wamah/perlawanan”.

Sastra selalu menjadi perlawanan yang luar biasa untuk melawan tirani kekuasaan. Sebuah teks bergerak dengan cepat. Menghempas dan bahkan dapat menjungkalkan penguasa dengan deretan bait-bait puisi muqa>wamah, walau tidak ada bom untuk meledakkan kawasan tertentu, tapi karya sastra mampu menggerakkan manusia untuk mengacaukan kemapanan atau sebaliknya. Hari ini di dinding media sosial gempuran opini luar biasa, berbagai macam karya sastra bermunculan. Walau tidak nyata seperti peluru yang menembus tubuh, pedang menebas leher, bom meluluh lantakkan negeri, tetapi suatu saat ia akan bergerak pelan dan pelan. Kalau tidak hari ini, besok. Kalau tidak besok, besok lusa dan seterusnya.

Sastra bukan hanya deretan kata manis, setiap hurufnya adalah ruh, kalimatnya adalah kilatan petir. Bagaimana penguasa terjungkal ke jurang yang curam karena puisi yang didegupkan setiap harinya, bagaimana kekuatan Intifadah Palestina dengan sihir puisi yang sebelum berangkat ke medan perlawanan digaungkan. Seperti tiga penyair, yang terkenal dengan penyair perlawanan; Taufiq Ziyad, dengan puisinya “Huna> Ba>qun”. Mahmud Darwis, “Sajjil Ana> ‘Arabi>”, dan “Khitab Fi Suqil Bathalah Ya Adhuu Syamsi” oleh Sami Qosim.

Sastra Palestina banyak berkisah tentang; indahnya mati, pahala berperang, martir, nasionalisme, kebebasan, surga dengan syahid, adalah tema penting dalam membangkitkan ruh perjuangan rakyat Palestina. Seperti mendapatkan pecut api, karya para penyair bergerak pasti, memukaukan setiap pejuang yang haus mati. Sampai hari ini, beberapa vedio yang dikirimkan di beberapa media, selalu menyertakan nasyid, syair, dan kalimat-kalimat penyemangat untuk membangkitkan ruh para pejuang Palestina.

Afan Fathukan, seorang penyair Palestina, menurut para pengamat, puisinya lebih militan dari 20 penjuang yang paling militan. Ruh puisinya membangkitkan para pemuda untuk berjuang membela agama dan tanah airnya, Palestina. Di negeri para Anbiya’ ini ada banyak penyair; Said al-Muzayin, Ibrahim Tauqan, Samih Al-Qosim, Maurid Barghauti, Souad, Harun Hasyim Rashid, Afad Fatukan, said Abi Nahs, Ghassan Kanfani, Ishaq Musa, Ilyas Khauri. Sedangkan negeri tetangga Palestina, Suria juga banyak menulis sastra Muqawamah; Nizar Qobbani, Dhahi Khulfan, Imaduddin Musa, Maha Bakr, Muhamamd Ulauddin, Tamam Talawi, Shalah Ibrahim Hasan dan beberapa sastrawan lainnya.

Dan di setiap negara, tidak sedikit penyair yang selalu mengobarkan pemberontakan pada penguasa tiran, revolusi dan kemerdekaan. Maka tidak heran sastra adalah perlawanan yang ampuh. Mereka tidak lagi mengenal waktu menulis, baik dikala api membara atau dikala salju mendera, mereka tetapi membubuhkan darahnya di kanvas sastra, bahkan tidak sedikit yang turun jalan berdarah-darah membawa batu untuk menhantam para tiran kekuasaan. Mereka tetap melawan, semakin kuat intimidasi, semakin kuat pula aksi dan kreatifitas diri.

Untuk urusan Palestina cukuplah bagi saya apa yang ditorehkan oleh Penyair asli Palestina, Mahmoud Darwish, tentang berbagai peristiwa yang terjadi di negerinya, mulai sejak dahulu (sejak ia dilahirkan) sampai sekarang (beliau meninggal beberapa tahun yang lalu). Tanahnya yang direnggut, dirampas, dan diporak-porandakan sebagaimana dalam bait-bait puisinya “Maqimah al-insani bila Wathani bila alamin” manusia yang tidak punya harga diri yang tanah airnya dirampas, dan tidak punya bendera. Benar-benar memilukan bagaimana seorang Palestina yang diusir dari tempat lahirnya, “Ughniyat Ila Wathan”. Bagaimana ia menceritakan kekejian Bangsa Israel dan penderitaan rakyat Palestina dari waktu ke waktu, “Bithaqah Huwiyah”.

Perlawanan diciptakan bukan karena menciptakan kerusuhan, karena sebelumnya ada yang menciptakan kerusuhan.

Apakah kalian rela negara Anda dijajah, tanahnya dirampas, anak cucunya dipenjara dan Anda sendiri diasingkan?

***
Beberapa paragraf diambil dari tulisan saya berjudul Sastra dan perlawanan