03.11.2014, aku diundang untuk bicara dalam bedah buku “Mendidik Pemimpin dan Negarawan, dialektika Filsafat Pendidikan Politik Platon Dari Yunani Antik hingga Indonesia ”, karya filsuf muda, A. Setyo Wibowo dan Hariyanto Cahyadi.

Untuk itu aku menulis cukup panjang. Aku bilang : “Membaca buku ini telah memberi saya kenikmatan intelektual meskipun juga membuat saya “pusing kepala”. Uraiannya amat detail dan ketat. Bagi orang yang tak terbiasa membaca karya-karya filsafat, seperti saya, buku ini akan membuatnya lelah. Akan tetapi dari situ saya menemukan gagasan-gagasan Platon yang menggairahkan sekaligus mencerahkan.

Platon (w. 427 SM) dikenal sebagai Filsuf terbesar sepanjang zaman, sesudah Socrates, gurunya, sekaligus guru dari Aritoteles. Abd al Karim al Jili menyebutnya “Qutb al-Zaman”, kutub zaman. Dalam bukunya yang terkenal “Al Insan al Kamil fi al Awakhir wa al Awail”, al Jili mengatakan :

قال الجيلى (لقد اجتمعت بأفلاطون الذي يعده اهل الظاهر كافرا، فرأيته قد ملأ العالم الغيبي نورا وبهجة، ورأيت له مكانة لم ارها الا لآحاد من الاولياء، فقلت له: من انت؟ قال: قطب الزمان وواحد الأوان). الانسان الكامل (2 / 53ـ52).

“Aku bertemu Plato yang dianggap kafir oleh kaum literalis. Aku melihat dia di alam metafisika yang penuh cahaya nan megah. Aku melihat dia di suatu tempat yang tidak pernah aku lihat diduduki siapapun selain wali. Aku katakan : siapakah anda?. Dia menjawab : “aku kutub zaman”.(Insan Kamil, 2/52-53).

Pikiran-pikiran di dalam buku di atas menghubungkan saya pada khazanah tradisi klasik Islam karya-karya Al-Hallaj, Ibnu Arabi, Abu Hamid al-Ghazali, Ibn Rusyd (Ave Roes), Fariduddin Al-Attar, Hafiz Syirazi, Sa’di Syirazi, Syams Tabrizi, Jalal al-Din Rumi dan Abd al-Karim al-Jili, untuk menyebut beberapa nama saja.

Saya menduga kuat pikiran-pikiran Neoplatonisme telah memengaruhi dan merasuk ke dalam pikiran dan jiwa para bijakbesrari muslim ini, berkat pertemuan yang akrab antar peradaban dunia pada abad pertengahan dan keterbukaan pikiran dan jiwa mereka. Mereka adalah para bijakbestari yang namanya terus hidup dan disebut-sebut di dunia muslim dan pikiran-pikirannya menjadi rujukan dalam kajian-kajian spiritualisme, esoterisme (tasawuf) sampai hari ini, meskipun sering atau bahkan selalu memicu kontroversi dahsyat. Mereka hadir untuk mengembangkan pesan-pesan profetik : “mengeluarkan (membebaskan) manusia dari situasi dunia gelap menuju dunia bercahaya”. Dunia gelap adalah dunia yang diliputi kebodohan, kedunguan dan kezaliman. Dunia bercahaya adalah dunia yang diliputi oleh ilmu pengetahuan, keadilan dan cinta.

Pendidikan dalam pandangan mereka adalah sebuah ruang pergulatan eksploratif intelektual dan permenungan intuitif manusia yang tiada henti untuk menemukan makna-makna, nilai-nilai esensial dan keindahan hidup, di tengah derita dan kecemasan yang terus menyergap dan menciptakan petaka kemanusiaan.

Pengetahuan yang benar menurut mereka akan menghasilkan sistem social yang beretika. Ia direpresentasikan melalui cinta pada kejujuran, kebijakan publik yang adil dan tanpa diskriminasi, ketulusan dalam bekerja, kerjasama dalam riset dan kesiapan untuk menerima pandangan kemanusiaan universal.

Pandangan-pandangan mereka ditekankan pada pembentukan “al-Akhlaq al-Karimah” (moralitas luhur), sebuah terma yang di dalamnya tersimpan nilai-nilai keluhuran budi, kecerdasan akal, keindahan ekspresi dan kebeningan nurani. Ia adalah kejujuran, kebersahajaan, rendah hati pengabdian tulus, ketekunan, keberanian, serta kesalingan membagi pengetahuan dan kegembiraan. Pada tingkat yang lebih tinggi, Al-Akhlaq al-Karimah menekankan pada persaudaraan umat manusia atas dasar cinta dan kasih sayang.

29.05.2021