Islamsantun.org. Saya termasuk mahasiswa yang cukup beruntung dibandingkan kawan-kawan saya. Ya, beruntung sebab acap kali saya mendapat santunan buku dari teman-teman maupun dosen saya. Jangan ditanya jumlahnya. Cukup banyak tentu. Andai saja ditukar menjadi rupiah, nilainya cukup lumayan, setidaknya untuk ukuran kantong mahasiswa. Tak usah disebut nama orang-orang baik itu, cukup saya dan Tuhan saja yang tahu.

Saya terlambat menyadari betapa nikmatnya mendapatkan buku gratisan, mampu membeli buku secara rutin, dan tentu saja membacanya. Ya, walaupun tidak banyak jumlahnya. Biasanya, dalam waktu sebulan saya rutin membeli 3-10 buku. Baik itu buku baru maupun buku lawas. Itu dulu, ketika beasiswa studi saya masih berjalan. Tanpa beasiswa, membeli 5-10 buku saban bulan kok rasanya berat.

Kembali ke soal santunan buku, baru-baru ini saya kembali mendapat buku baru dengan judul “Wacana Keagamaan di Indonesia Pasca Reformasi (2021)”, buku garapan para dosen (progresif) IAIN Surakarta (kini UIN Raden Mas Said Surakarta). Buku itu diterbitkan oleh IAIN Surakarta Press dengan dukungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Surakarta.

Selepas membuka sampul buku, saya mendapati bahwa buku itu terbit pada tahun lalu, tepatnya Desember 2020. Namun, buku setebal 226 halaman itu baru saja launching belum lama ini. Rupanya pandemi yang belum tampak ujungnya juga berdampak pada penerbitan buku. Tentu saja hal demikian wajar, apapun bisa terjadi di masa pagebluk ini.

Awalnya, saya mengira isi dari buku ini sudah barang tentu tulisan-tulisan yang berat, ndakik-ndakik, dan sangat agamis. Bagaimana tidak? Membaca sekilas dari judulnya saja, saya, anda juga barangkali bisa menebak dan sepakat dengan asumsi saya. Namun, setelah membaca pada kata pengantar, saya baru tahu apabila buku ini adalah kumpulan artikel yang berasal dari kegiatan penelitian para dosen (muda) IAIN Surakarta.

Laporan hasil penelitian itu, kemudian ditulis ulang kembali menjadi artikel pendek dengan gaya bahasa yang lebih membumi, ringan, dan enak dibaca. Harapannya, artikel berbasis penelitian ini dapat dibaca oleh khalayak lebih luas, termasuk para birokrat yang gemar membaca secara cepat. Tak hanya itu, buku ini juga diharapkan mampu memberi dampak, juga relevan dengan kehidupan masyarakat mutakhir.

Meski buku ini berjudul “Wacana Keagamaan di Indonesia Pasca Reformasi”. Namun, buku besutan Abd. Halim, dkk. ini tak melulu berisikan narasi-narasi keagamaan, melainkan terdapat ragam pemikiran dari lintas disiplin keilmuan. Oleh sebab itu, buku ini kaya akan wacana keilmuan, baik terkait ikhwal keagamaan, pendidikan, politik, ekonomi, hingga kondisi sosial saat ini, kondisi yang diselimuti badai pandemi yang belum berkesudahan.

Dalam topik keagamaan, misalnya, kita bisa membaca esai Abraham Zakky yang berjudul “Langgam Dakwah Muslim Muda”. Abraham mengamati sekelompok anak muda di Solo yang gemar mengikuti kajian mingguan #YukNgaji, tepatnya di Masjid Kalitan Solo.

Dalam amatannya, ia melihat fenomena unik pada generasi urban ketika hadir dalam forum kajian. Mereka tampak gaul, stylish, dan fashionable. Berpakaian kasual, berkemaja dan bercelana jins. Tak seorang pun dari mereka yang mengenakan sarung, koko, maupun peci. Tentu hal seperti itu cukup aneh atau tidak lumrah di acara pengajian pada umumnya.

Rupanya #YukNgaji didirikan oleh sejumlah orang, salah satunya ialah Felix Siuaw, mantan pentolan HTI. Tentu kita tahu Felix Siuaw adalah salah satu dari sekian pendakwah baru yang mempopulerkan komunitas hijrah di sejumlah kota besar di Indonesia. Komunitas hijrah memang cukup menjamur belakangan ini. Mereka berhijrah lazimnya mengubah penampilan. Perempuan yang sebelumnya tidak berjilbab memutuskan mengenakan jilbab besar. Sedangkan para lelaki mengubah penampilannya dengan jenggot dan celana di atas mata kaki (hlm. 12).

Tentu tak semua orang sependapat dengan konsep hijrah yang demikian. Husein Ja’far Al-Haidar dalam buku Tuhan Ada di Hatimu (2020) menyebutkan, jika hijrah hanya dipahami sebatas aspek ritual saja, seperti halnya tata cara dalam berpakain, maka hal demikian telah mereduksi makna dari hijrah sendiri. Bagi Husein, hijrah harus dipahami menyeluruh, tidak hanya pada satu aspek saja, melainkan dalam segala aspek kehidupan manusia. Pendek kata, hijrah adalah bergerak dari kegelapan menuju nur atau keterangbenderangan.

Sementara itu, dalam topik pendidikan kita bisa membaca esai Muhammad Zaenuri dengan judul “Modernisme Buku Ajar Pesantren”. Zaenuri melihat buku ajar di Pesantren, yakni kitab-kitab kuning sudah waktunya untuk dimodernisasikan. Artinya, diperlukan perubahan, transformasi ke arah yang lebih baik yang sesuai dengan perkembangan ilmu teknologi dan tantangan zaman.

Apa yang disampaikan Zaenuri tentu bukan tanpa alasan. Dewasa ini kemampuan anak pesantren atau santri dalam memahami kitab kuning mengalami penurunan drastis. Jangankan memahami, untuk sekadar membaca saja, tak semua santri bisa melakukannya. Tidak hanya itu, di zaman yang serba digital ini kita juga dihadapkan pada generasi milenial atau generasi instan yang cenderung mengedepankan efektivitas dan efisien.

Dengan begitu, tentu santri milenial tak akan sabar dan cukup telaten menggeluti kitab-kitab klasik utawi, iki, iku yang notabene adalah buku ajar, juga buku referensi di Pesantren. Untuk itu, memodernasisikan buku ajar di Pesantren adalah sebuah keniscayaan. Namun, untuk merealisasikannya bukanlah perkara mudah. Butuh kematangan intelektual dan mental untuk menghadapai berbagai macam pertentangan dan perdebatan.

Tentu kita senang dan patut berterima kasih kepada para penulis dan pihak yang telah menerbitkan buku ini. Bagi saya, menghimpun atau menulis kembali artikel jurnal yang berserakan menjadi esai pendek seperti ini adalah sebuah ide brilian. Dengan begitu, kita akan lebih mudah menemukan fenomena dan persoalan kehidupan di masyarakat tanpa harus berlelah-lelah membaca artikel jurnal yang panjang yang membosankan, juga melelahkan.

Walhasil, buku ini sangat layak untuk dibaca sebab isi yang terkandung di dalamnya sangat relevan dengan kehidupan masyarakat. Meski begitu, kita tidak tahu apakah riset-riset dalam buku ini dapat diaplikasikan sehingga membawa dampak yang nyata atau hanya akan berhenti pada publikasi semata? Wallahu ‘a’lam.

 

Buku

Judul  : Wacana Keagamaan di Indonesia Pasca Reformasi

Penulis  : Abd. Halim, dkk.

Penerbit : IAIN Surakarta Press

Tebal Buku : 226 halaman

Cetakan : Desember 2020

ISBN  : 978-602-0864-79-2

Lihat di youtube