Islamsantun.org. Saya membaca bagian-bagian penting dari tiga volume Kuasa Ramalan Pangeran Diponegoro karya Peter Carey, dan ringkasannya: Takdir. Karena penasaran saya mengulang-ulang deskripsi menarik dari Sang Pangeran seperti bahwa ia minum anggur Constantia bersama orang-orang Eropa (meskipun hal itu tidak jadi kebiasaannya yang berlebihan), memakai kalung emas yang dijepit oleh peniti dan dikaitkan dengan surjannya.

Hal yang paling kontroversial adalah bahwa ia tidur dengan perempuan muda Cina (nyonyah Cina) sebagai tawanan perang, yang dijadikan tukang pijitnya, yang bukan istri resmi dan bukan selir. Di saat yang sama Dipenogoro adalah santri Muslim yang taat, shalat lima waktu dan kuat menjalani tirakat hingga dipercaya memiliki kekuatan supranatural luar biasa.

Juga yang bikin penasaran adalah, selain ia didatangi oleh Nabi dan para wali yang memberinya restu untuk mengobarkan “Perang Jawa”, ia juga didatangi dua kali oleh Nyi Roro Kidul, ratu pantai selatan yang menawarkan bantuan, yang kemudian ditolaknya. Saya bukan sejarawan (hanya penikmat buku sejarah) dan tidak punya kemampuan apa-apa membaca Babad atau manuskrip kuno dan meneliti ulang keabsahan bahwa Diponegoro seolah “melanggar syariat”, tapi bahwa Peter Carey meneliti Diponegoro lebih dari 30 tahun, hanya membuat kita takjub luar biasa. Membaca Kuasa Ramalan, seolah Diponegoro sangat dekat dengan kita.

Saya membaca beberapa buku penting Ricklefs seperti A History of Modern Indonesia Since c. 1200, Mystic Synthesis in Java, kemudian Islamisation and Its Opponents in Java, dan sekarang sedang baca Samber Nyawa, biografi Mangkunagara I. Buku ini diberi pengantar oleh Peter Carey, orang yang begitu mengagumi Ricklefs. Seperti ditulis oleh Ricklefs sendiri dalam “Ucapan Terima Kasih” bahwa ia mulai tertarik kepada Pangeran Samber Nyawa sejak tahun 1960-an. Ia mulai mengumpulkan sumber-sumber primer (Serat Babad) dan sekunder mengenai apa pun tentang Mangkunagara I. Barulah setelah pensiun pada 2011, ia punya waktu khusus untuk menulis Biografi sang Pangeran. Dengan gembira dan penuh semangat berkat “waktu luang” itu, Ricklefs mengutip penyair Liu Yuxi dari Dinasti Tang: “Di dalam kamar belajarku yang sederhana, aku paling berbudi mulia. Aku memetik sitar lawasku, membaca Sutra Buddha. Tiada musik yang mengganggu telingaku. Tiada kertas kerja yang melelahkan otak dan jiwaku”.

Seperti Ricklefs, saya tahu persis beberapa teman orang Eropa yang jadi Profesor di Eropa sebenarnya lebih senang tinggal di kamar kerjanya untuk meneliti dan menulis, daripada waktu habis untuk mengajar. Menulis seperti memberi mereka “keabadian”. Begitu pulalah Ricklefs. Bersamaan dengan kesibukan dan rutinitas yang tak mungkin ditolak, Samber Nyawa sesungguhnya sudah mulai “dicicil” secara perlahan tapi pasti dalam rentang waktu hampir 60 tahun! (1960-2018).

Tetapi sayang, kata Peter Carey, Ricklefs harus menerima kenyataan pahit bahwa pada Oktober 2014 ia divonis mengidap kanker prostat. Meski demikian, sebagaimana Raden Mas Said Mangkunagara I: pria luar biasa, berperawakan kecil, sorot mata yang tajam, kaki yang sangat tangkas yang menjadikannya ksatria dan komandan militer yang lebih dari 14 tahun bergumul dengan perang, yang menunjukkan seorang manusia super, Ricklefs juga, kata Peter, menjalani perjuangan hebat menyelesaikan bukunya dalam kurun waktu tiga tahun antara 2015 hingga 2018, padahal kanker prostat itu membuat tulangnya sakit seperti diremukkan dan akhirnya menghancurkan tulang punggungnya. Tapi syukurlah buku ini terbit dalam Bahasa Inggris pada 2018 dan diluncurkan pertama kali di Universitas Monash pada Agustus 2018. Dan 2021 Edisi Indonesianya terbit.

Menurut Ricklefs, karakter keagamaan Raden Mas Said Mangkunagara adalah contoh terbaik dari “Sintesis Mistik”. Ia adalah muslim yang sangat taat menjalankan rukun Islam. Bahkan ia juga menggalakkan khataman al-Quran dan zikir-zikir berjamaah. Tapi pada saat yang sama ia sangat menyukai minum Jenever (gin Belanda) atau minum minuman keras yang lain dan main sabung ayam atau adu hewan yang lain. Ia juga percaya kepada kekuatan roh-roh lokal di Jawa, semacam seorang Animis. Satu praktik mistik sintesis seperti juga Pangeran Diponegoro, raja-raja Jawa, dan ningrat-ningrat keraton lainnya.

Sebagaimana Diponegoro yang sakti, Raden Mas Said juga digelari Samber Nyawa karena tak seorang pun yang sanggup menghadapinya. Jika Mangkunagara melarikan diri ke hutan di pegunungan dengan musuh yang mengejarnya di belakang, di bawah gunung itu musuh akan “tersambar” (sinamber) dan banyak yang tewas. Karena alasan itulah, kata Ricklefs, panjinya dinamai Samber Nyawa (Sang Pencabut nyawa).

Merle Calvin Ricklefs (saya hanya berjumpa sekali di Ciputat dan numpang berfoto dengan ilmuwan LIPI yang hebat Profesor Najib Burhani), kata Peter Carey, akhirnya meninggal dunia di akhir Desember 2019 di hari yang hampir sama dengan hari kematian Samber Nyawa Raden Mas Said Mangkunagara I. Menjelang ajalnya, Peter Carey bercerita kepada Ricklefs tentang karya Marcel Proust yang berjudul “Dalam Pencarian Waktu yang Hilang”. Proust menggambarkan kematian seorang Filusuf khayali bernama Bergotte, yang seolah mendapat kehidupan abadi setelah karya-karyanya diterbitkan, “Mereka mengubur jasadnya, tetapi ketika berkabung sepanjang malam di toko-toko yang terang benderang, buku-bukunya, yang duisusun tiga kali tiga, terus hidup bagaikan malaikat-malaikat dengan sayapnya yang terbentang, dan tampak baginya, yang sudah tiada, seperti simbol kebangkitannya”. Bagi Peter Carey, Ricklefs terus hidup bersama karya-karyanya.

Peter Carey dan Ricklefs adalah dua sejarawan Indonesia, yang secara fisik bukan orang Indonesia. Tapi dengan membaca A History of Modern Indonesia Since c. 1200 dan dilanjutkan dengan Mistik Sintesis, Ricklefs adalah orang Amerika yang berusaha “menyingkap” tabir sejarah Indonesia, khususnya Islamisasi di Jawa selama rentang 700 tahun. Juga Peter Carey adalah orang Inggris yang mengungkap hampir 200 tahun lalu tentang—dalam catatan Goenawan Muhamad— “pemberontakan dan kebangkitan nasionalisme yang muncul dan tumbuh subur di kalangan rakyat, bukan elit, melawan kolonialisme”.

Terhadap dua sejarawan hebat itu, yang membangkitkan kecintaan kepada kekayaan warisan bangsaku, saya menaruh hormat setingginya.