“Marhaban ya syahro ramadan” suara manis yang akhir-akhir ini berkeliaran dan terdengar menandakan bulan yang penuh berkah telah datang menghampiri kita, ditambah mulai bermunculan iklan Marjan dengan segala daya tariknya yang kian bervariasi menunjukkan kreativitasnya. Juga banyaknya meme, video terkait perang sarung yang kian menambah warna di setiap bulan Ramadan. Dan tahun ini ramadan kian berbeda dari tahun kemarin dan terasa spesial.

Yang dulu hanya berdiam diri, mengurung dalam kebekuan diri dan hanya cukup menghamba kepada yang maha kuasa, sekarang terbelenggu itu agak mengendur dengan masa new normal dan lahirlah berbagai peraturan serta kebijakan pemerintah yang membolehkan Ramadan kali ini menjadi lebih berwarna lagi.

Wujudnya kian kental dan terlihat dengan dimulainya Pondok TPA, didirikannya salat Tarawih dan mungkin salat Ied sebagai salat legend (setahun sekali) juga akan didirikan. Tentunya semua ibadah pada Ramadan tahun ini harus serta mengikuti himbauan pemerintah terkait penerapan protokol kesehatan ketat di setiap acara maupun agenda Ramadan tahun ini.  Implementasi dari penerapan protokol kesehatan saat beribadah sudah diwujudkan di daerah kampung saya, dengan Takmir Masjid, yaitu pemberian masker juga penggunaan hand sanitizer yang pada setiap titik/sudut masjid diberikan hal itu.

Dengan setiap masjid mengikuti himbauan dari pemerintah terkait beribadah di tengah wabah, tentunya hal itu menjadi angin segar bagi masyarakat yang rindu Ramadan yang seperti tahun-tahun di mana pandemi belum beraksi. Dengan kesadaran masyarakat yang mulai mengerti tentang bahayanya Covid-19, juga pemerintah yang selalu aware terhadap kondisi masyarakatnya hal tersebut merupakan komposisi yang sungguh menjadi terobosan baru bagi negara ini dalam menyikapi wabah mengesalkan ini.

Sejak hari ini memang belum selesai kasus Covid 19 ini data dari health.detik.com menunjukan bahwa pada Ramadan tahun ini jumlah kawasan zona merah di Pulau Jawa tidak ada lagi sementara itu terdapat 11 wilayah zona merah di Indonesia per 11 april 2021. Meskipun pulau jawa Nihil zona merah Covid-19 hal ini sebaiknya disikapi dengan bijak oleh seluruh elemen masyarakat bahwa Covid-19 masih ada dan potensi mengacaukannya pun masih ada dan sebaiknya kita doakan di kawasan zona merah semoga menjadi zona hijau dan kasus korona menjadi lenyap sama seperti di Pulau Jawa.

Namun, saya rasa Ramadan di tengah pandemi maupun tidak sama saja, meskipun terkait cara peribadatan yang mungkin sedikit berbeda dari sebelum dan sesudah pandemi. Hal yang saya tidak sukai di bulan penuh berkah ini ialah banyak segelintir orang yang memaknai Ramadan sebagai bulan penuh ajang pamer.

Pamer yang saya maksud yakni pamer kuasa, pamer harta, juga pamer bahwa “aku dapat memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan orang lain”, entah mengapa saya menyimpulkan hal seperti itu karena di masyarakat kampung saya hal tersebut tentulah banyak dan telah menjadi sebuah pola kebiasaan yang acapkali terjadi pada bulan yang penuh rahmat ini, dengan ditambahnya situasi saat pandemik ini yang mana banyak masyarakat yang kian terdesak dalam himpitan ekonomi, namun segelintir orang tersebut ingin memberikan penegasan bahwa kelompok kami bisa survive  dan dapat memberikan berupa makanan buka puasa bagi orang yang sedang berpuasa.

Memang baik adanya hal tersebut karena sesuai dengan hadis nabi yang kurang lebih substansi inti dari hadis nabi tersebut adalah bagi orang/kelompok yang memberikan makanan bagi orang yang sedang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa dan tanpa mengurangi pahala dari orang yang sedang berpuasa itu sedikitpun.

Sungguh sangat menggoda apa yang telah disampaikan oleh nabi jauh dulu setengah abad yang lalu. Luar biasa memang Nabi Muhammad SAW benar-benar memikirkan umatnya dan sampai sekarang setiap perkataan juga perbuatannya sungguh sangat relevan dipakai di masa sekarang.

Namun hal yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, menurut saya tak serta benar sepenuhnya diamalkan dengan semestinya, karena bagi saya, kelompok mereka hanya ingin terlihat dan ingin memperlihatkan eksistensinya dalam beribadah khususnya pada bulan Ramadan ini. Beribadah itu sendiri harus lah jangan sampai bersifat pamer dan saya melihat sendiri bahwa aktivitas mereka bukanlah aktivitas beribadah karena Allah SWT namun sebatas menunjukan posisi mereka bahwa kami lah yang ada di puncak rantai kehidupan.

Memang saya akui bahwa setiap amal tergantung niatnya dan hal itu sudah pasti adanya. Namun, karena niat letaknya di dalam hati dan tidak ada yang tahu niat kelompok orang tersebut ingin beribadah atau beribadah berkedok pamer, maka tindakan mereka dianggap benar padahal secara substansi itu tidaklah benar karena tindakan pamer itu sungguh dilarang. Seperti ayat “maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al-Maa’uun: 4-7).

Mungkin sampai di sini, kita perlu jeda untuk hibernasi amalan ibadah kita dalam Ramadan ini. Kendati, hibernasi akan membawa kita kehidupan asketisme kepada Tuhan.