Bagaimana cara menghadirkan Islam rahmatan lil alamin di media sosial, Pak?

Ya, ini adalah salah satu hal yang saya tekankan ke kawan-kawan, mas, terutama yang di Perguruan Tinggi. Karena menurut saya, merekalah yang berada di garda terdepan untuk mensosialisasikan nilai-nilai keislaman di media sosial.

Islam itu agama yang ramah dan rahmah. Islam itu akarnya dari sin, lam, dan mim. Bisa dibaca “silmun” atau “salima” bisa juga “salim”. Sumber dari semua ini maknanya adalah menjadikan orang tenang.

Di samping itu, ada satu lagi yang berkaitan dengan Islam, yakni iman. Unsur dari kata iman ini juga memberi makna yang sumbernya sama, yaitu aman. Orang berdoa amin itu kepengen aman. Orang kalau sudah beriman itu sebetulnya sudah tenang, dan aman. Maka beriman dan berislam itu harus memberi rasa aman. Kalau sudah memberi rasa aman, nantinya akan memberi rasa nyaman. Baik secara personal maupun dalam konteks sosial. Jadi, kalau ada orang berislam atau beriman tapi dia tidak memberikan rasa aman dan nyaman, artinya ada masalah dalam keberimanan dan keberislamannya.

Begitu, ya, Pak?

Iya dong. Nah, media sosial mestinya menjadi tempat di mana kita memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat digital. Masyarakat digital ini, kan plural, mas. Jangan dilihat hanya sebagai orang Islam! Kita harus paham betul akan hal ini. Dan, Islam mestinya memberi rasa aman.

Dalam konteks kebudayaan Jawa misalnya, di serat Wedhatama itu digambarkan, agomo iku ageman. Ageman itu apa, tho?

Pertama, ageman itu bisa dimaknai sebagai baju. Dalam terminologi Al-Quran yaitu libas. Sedangkan dalam Al-Quran juga disebutkan ihwal pakaian dalam konteks hubungan suami dan istri, yang artinya suami itu adalah pakian bagi istri, begitupun sebaliknya. Jadi, pakaian itu saling melengkapi, dan kalau sudah lengkap akan menjadikan tenang. Maka, orang yang berpakain tentu memberikan rasa ketenangan. Kalau ada orang berpakain tapi tidak memberikan rasa tenang kepada dirinya sendiri, berarti ada masalah pada pakaian yang dipakai.

Kedua, agama itu pikandel, cekelan, pegangan, atau menjadi prinsip. Agama itu seharusnya begitu, mas. Bukan malah menjadi alat transaksi atau hanya sebagai simbol. Pikandel itu tempatnya ada di dalam, begitupun juga nilai ada di dalam. Nah, yang keluar itu adalah manifestasi dari yang batin. Jadi, kehidupan keberislaman itu adalah kelahiran dari yang batin  dan keimanan. Nah, prinsip ini, menurut saya, penting. Pada akhirnya, agomo yang menjadi ageman, pikandel, dan prinsip yang bisa melahirkan nilai praktis dalam kehidupan menjadi aji. Orang kalau sudah punya aji akan menjadi kajen atau terhormat. Dan, orang dihormati itu karena faktor instrinsik dari dalam dirinya.

Oke-oke, monggo dilanjut, Pak….

Walhasil, agama itu ageman, kalau dia sudah betul-betul menjadi pegangan prinsip nilai seorang, maka dia akan aji. Orang jawa sudah begitu luar biasa menjelaskan bagaimana posisi agama dalam kehidupan. Kalau hal ini kita tarik dalam dunia digital, saya kira menarik. Orang akan bisa kita lihat, siapa sebetulnya dia dari statusnya. Misalnya begini, kalau ada orang sering curhat di statusnya, orang ini bisa diartikan sebagai orang yang nggak punya mental untuk mengusai dirinya sendiri. Kelihatan kan, mas yang lebay begitu?

Pada akhirnya, puasa saya kira menjadi salah satu sarana yang akan mengantarkan kita, menjadikan agama sebagai ageman. Kalau sudah menjadi ageman, manusia paripurna akan aji, dan itu bagian dari output puasa, yakni orang yang bertakwa.

Pak Dekan, lantas bagaimana cara menguatkan dakwah yang tenang dan mendamaikan di media sosial yang sudah anda sebutkan tadi, soalnya sering kali kita melihat perdebatan dan pertengkaran di media sosial?

Pertama, menurut saya, kita harus mengambil peran penting di media sosial, mas. Terutama teman-teman yang kuliah di program studi yang berkaitan dengan ini. Mengambil peran dalam pengertian bahwa dakwah kita bukan hanya di ruang-ruang sempit, seperti pengajian yang hanya dihadiri oleh 30, 20, atau 10 orang. Ruang dakwah kita sekarang sudah sangat luas, mas. Maka prinsip dakwah mula-mula harus kita pegan terlebih dulu. Dakwah itu apa, tho?

Dakwah itu kan mengajak bukan mengejek. Dakwah itu merangkul bukan memukul. Kalau ada orang dakwah kok memukul atau mengejek, artinya dia belum paham prinsip-prinsip utama dakwah. Ya kayak kondektur bus itu lo, mas. “Ayo-ayo, bus AC tapi harga biasa”. Nah, kalau dakwah dilakukan seperti itu tentu saja enak, menarik perhatian banyak orang. Jangan malah menakut-nakuti. Jadi, Islam itu akan dilihat bukan dari ajarannya, tapi akan dilihat di media sosial ini melalui perilaku umatnya. Dan ini yang paling penting.

Kedua, setelah kita paham prinsip-prinsip dakwah, kita juga harus tahu objek dakwah, mas. Objeknya ini siapa? Generasi milenial, kah atau generasi kolonial?

Ketiga, adalah materi dakwah. Kita harus paham betul akan hal ini. Saya kira kita, umat Islam, generasi milenial harus bisa memanfaatkan dunia digital ini sebagai media dakwah. Juga harus mengetahui sekaligus memahami strategi-strategi yang dapat digunakan.

Pak Dekan, terakhir, apa tips dari jenengan agar puasa kita tidak hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja?

Sederhana saja kalau saya, mas. Yasudah puasa hanya untuk kita diri sendiri. Jangan dilihat orang lain, jangan untuk orang lain. Beres itu. Puasa itu kan abstrak, tidak kelihatan beda dengan orang yang salat. Ia kelihatan. Ada sujud, rukuk, dll. Puasa jelas tidak kelihatan, orang yang kelihatannya sehat belum tentu tidak berpuasa. Begitupun orang yang kelihatannya lemas belum tentu juga berpuasa. Karena puasa sebetulnya menjaga ruhaniyah kita.

Pada intinya, agar puasa kita tidak hanya mendapatkan lapar dan dahaga, kita harus memahami prinsip-prinsip utama dari spiritualitas puasa yang sudah saya sebutkan tadi. Dan berusaha untuk selalu menuju kesana. Tentu tidak ada hal yang sempurna. Tapi bukan berarti kita tidak bisa menuju sana.

***

Mendadak saya terhenyak nan tercekat, pikiran saya sontak berkeliaran dengan ribuan angan seraya bergumam, “Beruntung sekali ya punya Dekan yang ngalim seperti ini. Tentu saja staf dan mahasiswanya senang bukan kepalang. Andai saja semua Dosen, Dekan, bahkan Rektor ngalim seperti ini, pasti akan sangat menggembirakan”

Bagaimana cara menghadirkan Islam rahmatan lil alamin di media sosial, Pak?

Ya, ini adalah salah satu hal yang saya tekankan ke kawan-kawan, mas, terutama yang di Perguruan Tinggi. Karena menurut saya, merekalah yang berada di garda terdepan untuk mensosialisasikan nilai-nilai keislaman di media sosial.

Islam itu agama yang ramah dan rahmah. Islam itu akarnya dari sin, lam, dan mim. Bisa dibaca “silmun” atau “salima” bisa juga “salim”. Sumber dari semua ini maknanya adalah menjadikan orang tenang.

Di samping itu, ada satu lagi yang berkaitan dengan Islam, yakni iman. Unsur dari kata iman ini juga memberi makna yang sumbernya sama, yaitu aman. Orang berdoa amin itu kepengen aman. Orang kalau sudah beriman itu sebetulnya sudah tenang, dan aman. Maka beriman dan berislam itu harus memberi rasa aman. Kalau sudah memberi rasa aman, nantinya akan memberi rasa nyaman. Baik secara personal maupun dalam konteks sosial. Jadi, kalau ada orang berislam atau beriman tapi dia tidak memberikan rasa aman dan nyaman, artinya ada masalah dalam keberimanan dan keberislamannya.

Begitu, ya, Pak?

Iya dong. Nah, media sosial mestinya menjadi tempat di mana kita memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat digital. Masyarakat digital ini, kan plural, mas. Jangan dilihat hanya sebagai orang Islam! Kita harus paham betul akan hal ini. Dan, Islam mestinya memberi rasa aman.

Dalam konteks kebudayaan Jawa misalnya, di serat Wedhatama itu digambarkan, agomo iku ageman. Ageman itu apa, tho?

Pertama, ageman itu bisa dimaknai sebagai baju. Dalam terminologi Al-Quran yaitu libas. Sedangkan dalam Al-Quran juga disebutkan ihwal pakaian dalam konteks hubungan suami dan istri, yang artinya suami itu adalah pakian bagi istri, begitupun sebaliknya. Jadi, pakaian itu saling melengkapi, dan kalau sudah lengkap akan menjadikan tenang. Maka, orang yang berpakain tentu memberikan rasa ketenangan. Kalau ada orang berpakain tapi tidak memberikan rasa tenang kepada dirinya sendiri, berarti ada masalah pada pakaian yang dipakai.

Kedua, agama itu pikandel, cekelan, pegangan, atau menjadi prinsip. Agama itu seharusnya begitu, mas. Bukan malah menjadi alat transaksi atau hanya sebagai simbol. Pikandel itu tempatnya ada di dalam, begitupun juga nilai ada di dalam. Nah, yang keluar itu adalah manifestasi dari yang batin. Jadi, kehidupan keberislaman itu adalah kelahiran dari yang batin  dan keimanan. Nah, prinsip ini, menurut saya, penting. Pada akhirnya, agomo yang menjadi ageman, pikandel, dan prinsip yang bisa melahirkan nilai praktis dalam kehidupan menjadi aji. Orang kalau sudah punya aji akan menjadi kajen atau terhormat. Dan, orang dihormati itu karena faktor instrinsik dari dalam dirinya.

Oke-oke, monggo dilanjut, Pak….

Walhasil, agama itu ageman, kalau dia sudah betul-betul menjadi pegangan prinsip nilai seorang, maka dia akan aji. Orang jawa sudah begitu luar biasa menjelaskan bagaimana posisi agama dalam kehidupan. Kalau hal ini kita tarik dalam dunia digital, saya kira menarik. Orang akan bisa kita lihat, siapa sebetulnya dia dari statusnya. Misalnya begini, kalau ada orang sering curhat di statusnya, orang ini bisa diartikan sebagai orang yang nggak punya mental untuk mengusai dirinya sendiri. Kelihatan kan, mas yang lebay begitu?

Pada akhirnya, puasa saya kira menjadi salah satu sarana yang akan mengantarkan kita, menjadikan agama sebagai ageman. Kalau sudah menjadi ageman, manusia paripurna akan aji, dan itu bagian dari output puasa, yakni orang yang bertakwa.

Pak Dekan, lantas bagaimana cara menguatkan dakwah yang tenang dan mendamaikan di media sosial yang sudah anda sebutkan tadi, soalnya sering kali kita melihat perdebatan dan pertengkaran di media sosial?

Pertama, menurut saya, kita harus mengambil peran penting di media sosial, mas. Terutama teman-teman yang kuliah di program studi yang berkaitan dengan ini. Mengambil peran dalam pengertian bahwa dakwah kita bukan hanya di ruang-ruang sempit, seperti pengajian yang hanya dihadiri oleh 30, 20, atau 10 orang. Ruang dakwah kita sekarang sudah sangat luas, mas. Maka prinsip dakwah mula-mula harus kita pegan terlebih dulu. Dakwah itu apa, tho?

Dakwah itu kan mengajak bukan mengejek. Dakwah itu merangkul bukan memukul. Kalau ada orang dakwah kok memukul atau mengejek, artinya dia belum paham prinsip-prinsip utama dakwah. Ya kayak kondektur bus itu lo, mas. “Ayo-ayo, bus AC tapi harga biasa”. Nah, kalau dakwah dilakukan seperti itu tentu saja enak, menarik perhatian banyak orang. Jangan malah menakut-nakuti. Jadi, Islam itu akan dilihat bukan dari ajarannya, tapi akan dilihat di media sosial ini melalui perilaku umatnya. Dan ini yang paling penting.

Kedua, setelah kita paham prinsip-prinsip dakwah, kita juga harus tahu objek dakwah, mas. Objeknya ini siapa? Generasi milenial, kah atau generasi kolonial?

Ketiga, adalah materi dakwah. Kita harus paham betul akan hal ini. Saya kira kita, umat Islam, generasi milenial harus bisa memanfaatkan dunia digital ini sebagai media dakwah. Juga harus mengetahui sekaligus memahami strategi-strategi yang dapat digunakan.

Pak Dekan, terakhir, apa tips dari jenengan agar puasa kita tidak hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja?

Sederhana saja kalau saya, mas. Yasudah puasa hanya untuk kita diri sendiri. Jangan dilihat orang lain, jangan untuk orang lain. Beres itu. Puasa itu kan abstrak, tidak kelihatan beda dengan orang yang salat. Ia kelihatan. Ada sujud, rukuk, dll. Puasa jelas tidak kelihatan, orang yang kelihatannya sehat belum tentu tidak berpuasa. Begitupun orang yang kelihatannya lemas belum tentu juga berpuasa. Karena puasa sebetulnya menjaga ruhaniyah kita.

Pada intinya, agar puasa kita tidak hanya mendapatkan lapar dan dahaga, kita harus memahami prinsip-prinsip utama dari spiritualitas puasa yang sudah saya sebutkan tadi. Dan berusaha untuk selalu menuju kesana. Tentu tidak ada hal yang sempurna. Tapi bukan berarti kita tidak bisa menuju sana.

***

Mendadak saya terhenyak nan tercekat, pikiran saya sontak berkeliaran dengan ribuan angan seraya bergumam, “Beruntung sekali ya punya Dekan yang ngalim seperti ini. Tentu saja staf dan mahasiswanya senang bukan kepalang. Andai saja semua Dosen, Dekan, bahkan Rektor ngalim seperti ini, pasti akan sangat menggembirakan”